Mengenal Cheonyeo Gwisin, Sosok Arwah Penasaran Bergaun Putih dari Korea



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit


Cheonyeo Gwisin adalah legenda urban dari Korea Selatan tentang hantu wanita muda yang meninggal sebelum sempat menikah. Sosok ini biasanya digambarkan memakai gaun duka tradisional warna putih bernama sobok, rambut hitam panjang terurai, dan wajah pucat dengan sedikit lelehan darah di sudut bibir. Konon, karena membawa rasa dendam dan penyesalan, arwah ini sering kelihatan di tempat sepi seperti bangunan tua, sekolah, rumah sakit, sampai jalanan desa yang gelap. Maksud kedatangannya biasanya buat mengganggu orang-orang sebayanya atau membawa penyakit dan kesialan.

Cerita dan Pengalaman tentang Cheonyeo Gwisin

Pengalaman ini terjadi waktu aku tinggal di pemukiman yang agak sepi di daerah pinggiran Korea Selatan. Saat itu aku lagi ikut program pertukaran pelajar dan menyewa kamar lantai dasar di bangunan tua dekat area perbukitan.

Waktu itu sudah lewat tengah malam, sekitar jam satu pagi. Aku baru selesai mengerjakan tugas kampus dan mau keluar sebentar ke minimarket di ujung jalan buat beli minuman hangat. Di luar sepi banget, tidak ada kendaraan lewat sama sekali. Udara malam memang dingin. Pas aku lagi jalan melewati deretan pohon rimbun dekat lorong jalan, arah angin mendadak berubah. Angin kencang bertiup dari samping dan suhunya turun cepat, rasanya dingin banget.

Awalnya aku pikir itu cuma perubahan cuaca biasa. Tapi tidak jauh di depanku, dekat tiang listrik yang lampunya agak remang-remang, ada seorang wanita berdiri membelakangi jalan. Dia memakai pakaian tradisional Korea atau hanbok putih polos. Dari belakang penampilannya kelihatan lumayan rapi. Cuma yang bikin aku heran, rambut hitamnya panjang banget dan dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Setahuku, dari cerita orang lokal di sana, wanita yang rambutnya terurai panjang begitu biasanya menandakan dia belum menikah.

Langkah kakiku langsung berhenti. Aku mulai deg-degan karena merasa ada yang tidak beres. Pelan-pelan, sosok itu membalikkan badannya ke arahku. Tubuhnya melayang halus tanpa langkah kaki yang jelas. Pas badannya menghadap penuh, aku lihat wajahnya pucat banget dengan lingkaran hitam tebal di sekitar mata. Di sudut mulutnya ada lelehan darah tipis yang mengalir ke dagu. Rambut hitamnya yang basah dan berantakan menutupi sebagian wajah.

Rasa takut bikin badanku kaku. Tatapan dari sosok itu terasa sangat dingin dan penuh rasa benci, seperti menyimpan dendam besar pada siapa saja yang ditemuinya. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung balik badan dan lari secepatnya ke kontrakan. Aku tidak berani menengok ke belakang sama sekali. Sampai di kamar, aku kunci pintu rapat-rapat, nyalakan semua lampu, lalu mengintip dari celah tirai sambil gemetaran. Di luar sepi lagi, tapi rasa takut itu masih tersisa di dalam dada sampai subuh.

Asal-Usul dan Fakta

Cerita soal Cheonyeo Gwisin sebenarnya sudah ada sejak lama dalam budaya dan cerita rakyat masyarakat Korea. Supaya lebih paham sosok ini, kita perlu tahu dulu apa itu gwisin. Dalam kepercayaan orang Korea, gwisin adalah sebutan untuk hantu atau roh manusia yang sudah meninggal. Bedanya dengan makhluk gaib lain seperti dokkaebi, gwisin dulunya adalah manusia biasa. Mereka dipercaya belum bisa pindah ke alam baka karena masih punya ikatan atau urusan yang belum selesai di dunia, contohnya rasa dendam atau ingin menjaga orang yang dicintai.

Secara umum, masyarakat Korea percaya gwisin punya wujud yang agak transparan, tidak punya kaki, dan melayang di udara. Ada banyak jenis gwisin dalam cerita rakyat mereka. Contohnya ada chonggak-gwisin yaitu versi laki-laki atau hantu bujang, mul-gwisin yaitu arwah orang tenggelam, won-han gwisin yaitu arwah orang yang mati tidak adil, yuk-gwisin atau hantu korban pembunuhan, dan ja-sa gwisin yaitu arwah orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Khusus untuk Cheonyeo Gwisin atau hantu perawan, legendanya muncul dari nilai sosial masyarakat Korea kuno, terutama pada masa Dinasti Joseon. Zaman dulu, perempuan di Korea dibesarkan dengan pandangan bahwa tujuan utama hidup mereka adalah berbakti pada ayah, melayani suami, dan merawat anak-anak. Kalau ada gadis muda meninggal sebelum sempat menikah, orang-orang zaman itu percaya si gadis mati sebelum memenuhi tujuan hidupnya. Hal ini dianggap bikin hidupnya sia-sia dan menanamkan rasa sakit hati atau dendam mendalam, yang dalam bahasa Korea disebut han.

Rasa dendam atau han yang terbawa sampai mati inilah yang dipercaya mengubah arwah gadis tersebut jadi roh jahat. Masyarakat zaman dulu takut banget sama Cheonyeo Gwisin karena arwah ini dipercaya suka menempel di gadis-gadis muda seusianya, mengganggu pasangan yang baru menikah, serta membawa penyakit, kecelakaan, dan merusak keharmonisan keluarga. Saking takutnya, orang-orang sampai bikin berbagai tradisi unik dan ritual pemakaman kuno supaya arwah gadis yang meninggal tidak berubah jadi Cheonyeo Gwisin.

Dalam catatan sejarah dan penelitian budaya, ada beberapa tradisi pemakaman unik yang pernah dilakukan orang Korea kuno untuk menenangkan arwah gadis muda:

Pertama, pembuatan boneka jerami. Ketika ada gadis yang meninggal dalam keadaan perawan, pihak keluarga sering membuatkan boneka dari jerami yang diberi bentuk alat kelamin pria secara jelas. Boneka ini ditaruh di dalam peti mati bersama jasad si gadis, atau jasadnya dipasangkan pakaian laki-laki. Tujuannya sebagai simbol bahwa si gadis sudah pernah berhubungan dengan laki-laki, jadi arwahnya bisa tenang di alam sana.

Kedua, cara menguburkan peti mati. Peti mati gadis muda kadang dikuburkan dalam posisi terbalik, lalu di sekeliling kuburan ditanami tanaman berduri. Maksud dari tindakan ini adalah untuk menahan arwah Cheonyeo Gwisin supaya tersangkut duri dan terhalang, jadi tidak bisa keluar dari tanah untuk mengganggu pemukiman warga.

Ketiga, ritual pernikahan arwah atau yeonghongyeolhonsig. Kalau ada gadis muda meninggal, keluarga kadang akan mencari arwah pemuda yang juga meninggal sebelum menikah (chonggak-gwisin) untuk dijodohkan. Upacara pernikahan gaib ini digelar supaya kedua arwah tidak lagi merasa kesepian dan bisa beristirahat tenang di alam baka.

Keempat, pembuatan patung lingga atau ukiran berbentuk alat kelamin pria. Salah satu contoh peninggalan tradisi ini yang masih ada sampai sekarang adalah Taman Haesindang di daerah Samcheok. Di taman tersebut ada banyak patung dan ukiran lingga yang dulunya dibuat untuk menenangkan arwah Cheonyeo Gwisin lewat ritual tahunan dengan persembahan makanan dan minuman.

Selain ritual pemakaman, ada juga kepercayaan lokal soal cara menangkal gangguan gwisin di rumah. Salah satu cara tradisional yang sering dilakukan orang tua zaman dulu adalah menggantung alat penyaring atau ayakan di atas pintu rumah. Cara lainnya adalah mengambil sehelai rambut, membakarnya, lalu menyebarkan abu bekas bakaran itu di sekitar halaman rumah.

Di dalam catatan literatur sejarah, sosok hantu perawan ini juga pernah direkam dalam buku Geumgyepildam, yaitu kumpulan cerita karya Seo Yu-young yang ditulis pada tahun 1873. Kisah Cheonyeo Gwisin juga muncul dalam cerita klasik Janghwa Hongryeon jeon. Dalam kisah itu, penampilannya tidak selalu menakutkan dari awal. Wujudnya malah bisa kelihatan sangat rapi dan anggun seperti manusia biasa yang memakai hanbok hijau dan rok merah, sampai-sampai pejabat yang bertemu bingung apakah dia manusia atau arwah.

Di zaman modern, penampakan Cheonyeo Gwisin banyak diadaptasi ke dalam budaya populer dan media hiburan. Pakaian duka putih sobok dan rambut panjang terurai jadi standar wujud hantu dalam film horor Korea. Fenomena penampakan hantu di sekolah bahkan makin populer setelah rilisnya film horor terkenal Whispering Corridors pada tahun 1998. Film horor klasik seperti Woman's Wail rilisan tahun 1986 yang kemudian di-remake jadi The Wrath pada tahun 2018 juga mengangkat tema hantu perawan ini. Selain itu, sosoknya sering muncul dalam serial drama populer seperti Guardian: The Lonely and Great God, Oh My Ghost, serta Arang and the Magistrate.

Meskipun saat ini masyarakat Korea Selatan sudah hidup di zaman modern dengan teknologi canggih, cerita soal Cheonyeo Gwisin tetap bertahan sebagai bagian dari legenda urban dan cerita rakyat yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.

Kalau suatu malam kamu lagi jalan sendirian di jalanan yang sepi lalu angin bertiup kencang dan suhu udara di sekitarmu mendadak berubah jadi dingin banget, coba perhatikan sekelilingmu. Siapa tahu ada sosok bergaun putih dengan rambut terurai yang sedang berdiri diam membelakangimu.

Referensi: Wikipedia: Gwisin, Wikipedia: Korean virgin ghost


Kamu baru saja membaca tentang Mengenal Cheonyeo Gwisin, Sosok Arwah Penasaran Bergaun Putih dari Korea

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more