Hitungan yang Nggak Boleh Selesai di Rumah Panggung



Perkiraan waktu membaca Menit

Hitungan yang Nggak Boleh Selesai di Rumah Panggung

"Jangan coba-coba kamu hitung tiang bambu di belakang itu kalau udah lewat jam enam sore," kata Mang Udin sambil naruh cangkul di samping tangga rumah panggung.

"Kenapa emang, Mang?" tanyaku.

"Sudah, nggak usah banyak tanya. Pokoknya dari magrib sampai jam enam pagi, jangan pernah ngitung tiang atau bambu di situ," jawabnya singkat terus jalan ke dapur tanpa nengok lagi.

Kejadian ini baru beberapa bulan lalu, waktu aku pulang kampung ke daerah perbatasan Lampung sama Sumatera Selatan. Keluarga besar lagi ada acara nikahan sepupuku. Rumah nenekku itu tipe rumah panggung kayu tua yang belakangnya langsung nempel sama kebun karet dan kelapa sawit.

Karena tamu yang mau datang banyak, orang-orang kampung gotong royong bikin tenda tambahan di halaman belakang. Tendanya dibuat dari puluhan batang bambu tua yang ditancapin ke tanah buat nahan terpal plastik warna biru.

Aku sendiri datang dari kota H-2 sebelum acara. Tugas utamaku ya bantu-bantu kerjaan kasar, kayak ngangkut kursi plastik, nyusun kayu bakar, sama pasang kabel lampu. Zaman sekarang kan semua orang udah pegang HP, jadi aku sering pakai senter HP kalau malam-malam harus ke belakang soalnya lampu tenda belum pasang semua.

Hari pertama di sana ramai banget. Bapak-bapak pada ronda sambil ngeracik bumbu balado dan motong daging sapi. Bau asap kayu bakar campur minyak goreng bekas berasa di mana-mana.

Sekitar jam delapan malam, aku disuruh Wak Nah ambil baskom kaleng besar yang ketinggalan di sudut tenda paling belakang. Suasana di bagian belakang itu agak remang-remang karena cuma ada satu lampu bohlam kuning yang goyang-goyang ditiup angin.

Aku jalan santai sambil nyorot lantai pakai senter HP. Pas lewat deretan tiang bambu, tanpa sadar jariku ngetuk tiang-tiang itu satu per satu. Mulutku refleks bisik-bisik pelan, ngitung jumlah tiang bambu yang terpasang.

"Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan..."

Pas tanganku mau ngetuk tiang kesembilan, dadaku rasanya sesak banget. Bau gosong kayu terbakar berasa makin tajam.

Terus pas di samping telinga kiriku, ada suara napas berat yang kering banget. Suara itu berbisik pelan tapi jelas banget.

"Satu... dua... tiga..."

Aku langsung berhenti ngetuk. Badanku kaku. Suara itu bukan suara orang kampung sini, suaranya serak dan kayak keluar dari dalam tenggorokan yang kering.

Aku pelan-pelan nengok ke belakang. Nggak ada siapa-siapa di sana. Cuma ada barisan tiang bambu sama kebun karet yang gelap.

"Siapa itu?" teriakku, suaraku agak gemetar.

Nggak ada jawaban. Cuma ada suara jangkrik sama tiupan angin malam. Aku langsung lari bawa baskom kaleng itu balik ke rumah utama. Malam itu aku susah tidur gara-gara telinga kiriku panas dan berdengung terus.

Hari kedua, kesibukan makin ramai. Ibu-ibu mulai masak nasi samin di kawah besar halaman samping. Suasana bising sama suara orang ngobrol dan musik dangdut dari speaker warga.

Aku sempat nanya lagi ke Wak Nah pas kami lagi ngupas bawang merah di teras belakang. Aku penasaran banget sama teguran Mang Udin kemarin.

"Wak, emang kenapa sih kalau ngitung tiang di belakang pas malam?" tanyaku pelan biar nggak kedengaran tetangga lain.

Wak Nah naruh pisau dapurnya, terus ngeliatin aku agak lama.

"Mang Udinmu bener itu, jangan dilanggar. Penunggu kebun tua belakang itu paling benci kalau ada orang luar yang ngitung-ngitung wilayahnya," jawab Wak Nah singkat.

"Tapi kemarin aku—"

"Sudah, jangan diterusin. Yang penting dari magrib sampai jam enam pagi mulutmu ditahan," potong Wak Nah cepat sambil lanjut motong bawang.

Aku cuma bisa diam. Tapi ya dasar manusia, makin dilarang malah makin bikin penasaran. Lagian aku ini besar di kota, jadi hal-hal begini rasanya susah masuk akal.

Malam kedua, sekitar jam sebelas malam, acara kumpul keluarga selesai buat hari itu. Orang-orang tua udah pada tidur di dalam rumah panggung, kalau anak-anak muda masih main domino di teras depan.

Aku haus banget dan mau bikin kopi di dapur belakang. Dapur rumah panggung ini posisinya agak menjorok ke luar, dihubungin pakai jembatan kayu kecil ke area tenda.

Pas lagi nunggu air mendidih di atas kompor gas, aku ngeliat ke luar pintu dapur yang terbuka. Di luar gelap banget karena bohlam kuning yang kemarin ternyata udah putus.

Mataku malah merhatiin tiang-tiang bambu tenda yang kelihatan kayak bayangan hitam berjejer. Dan tanpa bisa kutahan, otakku mulai ngitung lagi.

Satu... dua... tiga... empat... lima...

Pas mataku sampai di tiang keenam, aku kaget. Di antara tiang kelima dan keenam, ada satu tiang tambahan yang bentuknya aneh. Tiang itu lebih tebal, warnanya hitam, dan ukurannya jauh lebih tinggi dibanding bambu lainnya.

Aku nyalain senter HP terus mengarahkannya ke tiang hitam itu.

Aku kaget setengah mati pas ngeliat tiang itu ternyata bukan dari bambu. Benda itu mirip kayak batang kayu berserat kasar yang bentuknya bengkok aneh. Dan di bagian atasnya, ada dua celah putih melotot yang ngeliatin aku.

Tanganku yang megang senter HP langsung gemetaran. Cahayanya bergetar di tengah kegelapan.

Dari balik tiang hitam itu, suara serak yang kemarin kedengaran lagi. Kali ini suaranya lebih keras dan berbisik pas di depan mukaku, padahal jarakku sama tiang itu ada sekitar lima meter.

"Satu... dua... tiga..."

Suara itu ngitung pakai ritme yang sama persis kayak kemarin. Bersamaan sama hitungan ketiga, tiang hitam itu bergeser. Benda itu nekuk bagian tengahnya kayak lutut manusia terus melangkah satu tapak ke arah jembatan kayu dapur.

BUNYI KETUKAN KAYU TUA BERDERIT KERAS BANGET.

Aku teriak kaget, gelas kopi di tanganku lepas sampai pecah di lantai. Aku mundur ketakutan sampai nabrak lemari piring kaleng.

Beberapa sepupuku yang lagi main domino di depan langsung lari ke dapur.

"Ada apa, Diki? Kok teriak-teriak?" tanya salah satu sepupuku.

Aku nunjuk-nunjuk ke luar pintu dapur, tanganku masih gemetar. "Itu... di luar... ada tiang hitam jalan!"

Sepupuku ambil senter besar terus diarahin ke luar tenda. Nggak ada apa-apa di sana. Cuma ada tiang bambu biasa yang jumlahnya tetap lima kayak semula. Nggak ada tiang hitam, nggak ada apa-apa.

Malam itu aku langsung demam tinggi. Badanku menggigil dan ketiak kiriku bengkak rasanya sakit banget. Nenek ngasih air minum yang udah didoain, tapi rasa takut di dalam dadaku nggak hilang sedikit pun.

Hari ketiga itu puncak acara hajatan. Rumah panggung penuh sama ratusan tamu undangan dari berbagai desa. Suara musik dangdut kedengaran keras dari pagi sampai sore. Aku cuma bisa tiduran di kamar soalnya badan masih lemas dan kepala pusing berat.

Begitu matahari mulai tenggelam di balik kebun karet dan azan magrib kedengaran, suasana berubah sepi. Tamu-tamu mulai pulang satu per satu. Acara hajatan resmi selesai.

Sekitar jam satu malam, situasi rumah udah sepi banget. Semua orang kelelahan dan tidur nyenyak di ruang tengah. Cuma ada suara jangkrik sama angin malam yang niup lumayan kencang.

Saat itu perutku mendadak mules banget. Mungkin efek stres atau salah makan pas acara siang tadi. Toilet di dalam rumah panggung lagi dipakai paman yang juga sakit perut. Karena udah nggak tahan lagi, aku terpaksa pakai toilet luar di ujung teras kayu belakang, dekat banget sama tenda bambu.

Aku ingat baik-baik pantangannya: Dari jam enam sore sampai jam enam pagi, jangan pernah ngitung apa pun.

Aku jalan sambil nunduk terus. Mata cuma ngeliat lurus ke ujung jempol kaki sendiri. HP aku genggam erat-erat di tangan kanan, lampunya cuma aku sorot ke lantai kayu yang aku pijak.

"Jangan ngitung. Jangan ngitung. Jangan lihat tiang," bisikku berulang kali dalam hati biar pikiran teralih.

Tapi makin aku berusaha keras buat nggak ngitung, otakku malah ngitung sendiri. Pas melangkah turun di anak tangga kayu menuju halaman belakang, pikiran refleks nyatet tiap langkahku.

Satu...

Dua...

Tiga...

Pas pikiranku nyebut angka "tiga", saat itu juga seluruh suara malam hilang total. Suara jangkrik, suara angin, suara mesin genset di kejauhan—semuanya mendadak mati. Suasana jadi sepi banget, sampai suara detak jantungku sendiri kedengaran jelas.

Aku berhenti melangkah di anak tangga ketiga. Kakiku kaku.

Dari sekeliling tenda yang gelap di depanku, kedengaran suara bisikan dari banyak arah bersamaan. Bukan cuma dari satu titik lagi, tapi dari tiap tiang bambu yang berdiri di sana.

"Satu... dua... tiga..."

Suara serak dan kering itu kedengaran sahut-menyahut di sekitar kepalaku.

Terus dari balik kebun karet yang gelap, muncul sosok tinggi kurus yang baunya busuk banget. Sosok itu tingginya hampir kena atap terpal tenda. Badannya hitam kayak kayu terbakar, tapi punya banyak siku dan lipatan di sepanjang tangannya.

Sosok itu melangkah maju ke tanah tenda. Tiap kali kakinya yang panjang nyeret tanah, suara bisikan itu makin keras dan ngelanjutin hitungannya.

"Empat..."

Sosok itu melangkah lagi mendekati tangga kayu tempatku berdiri.

"Lima..."

Aku mau teriak, tapi tenggorokanku kayak tersumbat pasir. Udara rasanya dingin banget sampai dadaku sesak buat napas.

"Enam..."

Muka sosok itu sekarang cuma berjarak dua meter dari mukaku. Nggak ada mata, nggak ada hidung, cuma ada lubang mulut lebar yang kering tanpa gigi. Bau busuk kayak bangkai ayam yang membusuk di dalam lumpur langsung berasa menyelimuti udara.

Tangan hitamnya yang panjang dan kasar mulai terangkat, mau megang bahu kiriku.

Pakai sisa tenaga yang ada, aku langsung balik badan dan lompat naik ke tangga kayu rumah panggung. Aku lari sekuat tenaga tanpa nengok lagi ke belakang, nabrak pintu kayu dapur sampai kebuka lebar, terus membantingnya rapat-rapat.

PLEK!

Pintu kayu itu langsung aku kunci dari dalam. Badanku gemetar di balik pintu sambil nahan napas.

Berapa detik kemudian, dari balik pintu kayu tebal itu, kedengaran ketukan keras pakai benda padat.

TUK! TUK! TUK!

Terus dari balik celah bawah pintu yang sempit, suara serak itu berbisik pelan banget, pas di dekat tumit kakiku.

"Tujuh..."

Aku langsung terduduk lemas di lantai dapur. Aku ngurung diri di sana, memeluk kedua lututku sambil terus berdoa sampai sinar matahari pagi kelihatan dari celah ventilasi udara pas jam enam pagi.

Begitu matahari terbit sempurna, aku langsung beres-beres baju ke dalam tas. Tanpa nunggu acara pembubaran panitia hajatan selesai, aku pamit pulang duluan ke kota dengan alasan ada urusan kerjaan yang nggak bisa ditinggal.

Wak Nah sama Mang Udin cuma ngeliatin aku dengan tatapan heran, tapi mereka nggak banyak tanya. Mang Udin cuma sempat nepuk bahuku sekali pas aku mau naik bus travel, terus bilang pelan, "Lain kali kalau main ke kampung orang, mulut sama pikiran itu dijaga betul-betul."

Sampai hari ini, aku nggak pernah tahu pasti makhluk apa yang ada di balik kebun karet rumah panggung nenekku itu. Keluarga di kampung juga nggak ada yang mau cerita lebih lanjut kalau aku coba tanyain lewat WhatsApp.

Tapi ada satu hal yang bikin aku nggak tenang sampai sekarang.

Kadang kalau malam hari aku lagi jalan sendirian di tangga kosan atau lewat deretan tiang listrik di pinggir jalan, pikiranku suka refleks mulai ngitung sendiri dari angka satu sampai tiga.

Dan kalau aku ketakutan terus berhenti di angka tiga, di belakang leherku suka berasa ada hembusan angin kering yang pelan banget, kayak ada yang lagi nunggu aku ngelanjutin hitungan ke angka empat.


Kamu baru saja membaca tentang Hitungan yang Nggak Boleh Selesai di Rumah Panggung

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more