Tradisi Barong Ider Bumi dan Ritual Penolak Wabah Desa Kemiren
Tradisi Barong Ider Bumi dan Ritual Penolak Wabah Desa Kemiren
Perkiraan waktu membaca Menit
Kalau kalian main ke Banyuwangi, tepatnya di Desa Kemiren, ada satu tradisi tua yang sampai sekarang masih terus dijalankan warga setempat. Namanya Barong Ider Bumi. Ini acara mengarak sosok Barong yang dipercaya bisa menolak bala, dan tradisinya sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu. Ini bukan sekadar pertunjukan seni tari biasa yang sering kita tonton di panggung. Warga lokal percaya kalau ritual ini memang wajib diadakan buat mengusir wabah penyakit dan menjaga desa dari bahaya.
Kisah dan Versi Cerita
Cerita tentang Barong Ider Bumi ini bermula dari kejadian di Desa Kemiren sekitar tahun 1840-an. Waktu itu, desa diserang wabah penyakit yang lumayan parah. Orang-orang dulu menyebut kondisi ini dengan istilah esuk lara sore mati. Artinya, kalau pagi hari seseorang kena sakit, sore harinya orang itu sudah meninggal dunia. Warga desa jelas panik dan bingung karena zaman dulu belum ada obat medis dan bantuan juga susah masuk.
Tanaman di sawah juga rusak sampai gagal panen. Desa yang tadinya tenang berubah jadi seram karena hampir tiap hari ada warga yang meninggal. Melihat keadaan desa yang makin parah, para tetua adat Desa Kemiren akhirnya berkumpul untuk berdoa dan mencari jalan keluar. Menurut cerita yang diturunkan turun-temurun, sesepuh desa dapat petunjuk lewat mimpi atau istilahnya wisik.
Petunjuk itu minta warga mengadakan ritual keliling desa sambil membawa Barong milik desa. Kata ider dalam bahasa setempat artinya mengelilingi, sedangkan bumi maksudnya wilayah tempat tinggal warga. Jadi, Barong Ider Bumi intinya mengarak Barong keliling desa.
Sesepuh desa dan warga langsung menyiapkan semua kebutuhan ritual. Barong yang disimpan di tempat khusus dikeluarkan, lalu diarak dari ujung timur desa berjalan menuju ke arah barat. Di sepanjang jalan, para tetua membaca doa keselamatan sambil menabur beras kuning, bunga, dan uang koin.
Setelah ritual arak-arakan Barong itu selesai, wabah penyakit perlahan mereda. Warga yang sakit mulai sembuh, dan tidak ada lagi korban jiwa berjatuhan berturut-turut. Sejak kejadian itulah warga Desa Kemiren sepakat melanjutkan tradisi ini setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur dan doa perlindungan kepada Tuhan.
Sampai sekarang, urutan arak-arakan ini masih tetap sama. Sosok Barong dengan mahkota khas dan wajah merah bertaring diarak oleh warga. Musik gamelan dan angklung mengiringi langkah para pemangku adat di depan barisan. Warga dari yang tua sampai anak-anak ramai-ramai turun ke jalan buat melihat ritual ini dari dekat.
Pantangan dan Kepercayaan
Ada beberapa aturan dan kepercayaan yang masih dipegang teguh sama warga Desa Kemiren soal ritual Barong Ider Bumi ini.
Pertama, soal waktu pelaksanaan. Ritual ini tidak boleh diadakan sembarangan hari. Warga sudah menetapkan kalau Barong Ider Bumi harus digelar pada hari kedua Idulfitri atau 2 Syawal. Penentuan hari ini sudah jadi patokan pasti yang tidak pernah diubah dari dulu. Warga percaya kalau jadwal ini sengaja digeser tanpa alasan adat yang jelas, berkah ritualnya bisa berkurang.
Kedua, soal rute arak-arakan. Barong harus diarak mulai dari jalan ujung timur desa dan berhenti di batas wilayah sebelah barat. Jalan utama desa ini dianggap sebagai pusat kehidupan warga. Selama perjalanan dari timur ke barat, Barong tidak boleh berbalik arah atau berhenti sembarangan di luar titik berdoa yang sudah ditentukan tetua adat.
Ketiga, tradisi melempar uang koin yang disebut sembur uthik-uthik. Waktu tetua adat menabur koin yang dicampur beras kuning dan bunga di jalan, warga dan anak-anak biasanya bakal berebut mengambilnya. Menurut kepercayaan warga lokal, koin hasil berebut ini membawa berkah dan keselamatan buat yang menyimpan. Uang koin itu biasanya disimpan di dalam dompet atau tempat beras sebagai pengingat rasa syukur.
Keempat, acara makan bersama atau selamatan tumpeng pecel pitik. Setelah arak-arakan Barong sampai di batas barat desa, seluruh warga berkumpul di sepanjang jalan buat makan bareng. Makanan yang disajikan wajib berupa tumpeng dengan lauk pecel pitik, yaitu ayam bumbu kelapa sangrai khas suku Osing. Semua warga dan pengunjung duduk lesehan di atas tikar, makan dari nampan yang sama tanpa membedakan status sosial.
Warga yakin kalau ritual ini sampai ditinggalkan, bencana seperti wabah penyakit atau kerusakan alam bisa datang lagi melanda desa mereka. Makanya, semua warga dari yang muda sampai yang tua selalu gotong royong memastikan tradisi ini berjalan lancar tiap tahun.
Fakta dan Penjelasan
Kalau dilihat dari sisi sejarah dan kebudayaan, Barong dalam tradisi masyarakat Jawa Timur dan Bali memang punya kedudukan yang sangat dihormati. Beda dengan cerita rakyat luar yang suka menggambarkan sosok jahat, Barong di wilayah Osing Banyuwangi justru dianggap sebagai simbol pelindung yang menjaga manusia dari gangguan roh jahat dan bahaya.
Dari sejarahnya, Desa Kemiren adalah salah satu tempat tinggal utama suku Osing, yaitu penduduk asli wilayah Banyuwangi. Suku Osing punya tradisi lisan yang kuat dalam menjaga warisan leluhur. Acara seperti Barong Ider Bumi jadi tempat untuk merawat kebersamaan, mengingat sejarah desa, sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga setelah Lebaran.
Kalau dijelaskan secara masuk akal dan psikologis, ritual penolak bala seperti ini sebenarnya biasa dilakukan masyarakat zaman dulu saat menghadapi wabah penyakit. Sebelum ilmu medis modern dan teknologi berkembang seperti sekarang, masyarakat tradisional mengandalkan pendekatan spiritual, gotong royong, dan bersih-bersih lingkungan bersama buat bertahan hidup.
Kegiatan mengarak Barong keliling desa secara tidak langsung mengajak warga keluar rumah, membersihkan lingkungan sekitar jalan utama desa, dan membuat mental warga lebih tenang menghadapi musibah. Suasana kebersamaan saat makan tumpeng pecel pitik bareng juga terbukti bisa mengurangi rasa cemas warga setelah melewati masa-masa sulit.
Selain itu, pemilihan hari kedua bulan Syawal juga sangat praktis. Pas momen Lebaran, para perantau dari Desa Kemiren biasanya lagi pulang kampung. Momen ini dimanfaatkan para tetua desa supaya seluruh warga, baik yang tinggal di desa maupun yang merantau, bisa berkumpul dan ikut acara adat bareng keluarga besar.
Tradisi Barong Ider Bumi yang masih bertahan sampai sekarang jadi bukti bagaimana nilai spiritual dan budaya lokal bisa berjalan beriringan menjaga ketenangan warga Desa Kemiren.
Referensi: Wikipedia: List of Indonesian dances
Kamu baru saja membaca tentang Tradisi Barong Ider Bumi dan Ritual Penolak Wabah Desa Kemiren