Kendi Dapur di Rumah Duka
Kendi Dapur di Rumah Duka
Perkiraan waktu membaca Menit
Edit"Jangan sekali-kali buka kendi tanah di meja dapur itu sebelum jam enam subuh, apa pun suara yang kamu dengar dari dalam."
Kalimat itu masih saya ingat jelas sampai sekarang. Kejadiannya awal tahun 2002 di sebuah desa kecil daerah Nusa Tenggara, waktu umur saya masih 21 tahun. Baru sekarang, setelah puluhan tahun lewat, saya berani nulis cerita ini.
Waktu itu tetangga sebelah rumah kami, seorang tua yang dipanggil Pua Tahir, meninggal dunia. Pua Tahir ini tinggal sendirian di rumah panggung kayu yang sudah tua sekali. Karena beliau tidak punya anak istri, warga kampung bergantian menjaga dan menggelar tahlilan di sana.
Saya dan adik kandung saya, Herman, dapat giliran menjaga rumah duka di malam pertama dan malam kedua. Orang-orang tua di kampung biasanya pulang jam sepuluh malam setelah doa selesai. Tinggallah saya sama Herman berdua saja yang menginap untuk menjaga lampu minyak dan rumah.
Sebelum tetua kampung bernama Pak Ismail pulang di malam pertama, dia memanggil saya ke dapur. Dia menunjuk kendi tanah liat tua yang mulutnya ditutup kain hitam dan diikat tali ijuk. Kendi itu ditaruh di atas meja kayu di sudut dapur yang agak gelap.
Pak Ismail kasih larangan tadi dengan muka serius sekali. "Jangan sekali-kali buka kendi tanah di meja dapur itu sebelum jam enam subuh, apa pun suara yang kamu dengar dari dalam."
Saya cuma mengangguk saja waktu itu. Saya pikir itu kendi isi air doa atau ramuan obat kampung yang sengaja disiapkan. Saya tidak bertanya lagi karena Pak Ismail langsung jalan keluar rumah.
Di dekat pintu dapur, Pak Ismail juga menaruh satu mangkuk putih kecil isi air jernih dengan dua lembar daun sirih dan sedikit garam kasar. Dia cuma bilang singkat. "Lihat air di mangkuk ini. Kalau airnya berubah warna, tetap duduk di ruang depan, jangan jalan ke belakang sendirian."
Malam pertama itu suasana sepi sekali. Rumah panggung Pua Tahir ini lantainya papan kayu yang kalau diinjak berderit lumayan keras. Di luar cuma ada suara angin malam sama serangga pohon.
Jam sebelas malam, Herman sudah tidur duluan di ruang depan dekat pintu masuk. Dia membungkus badannya pakai sarung tebal. Saya masih bangun, duduk di lantai sambil merokok dan mendengar radio kecil.
Sekitar jam satu malam, suara radio berubah kresek-kresek parah. Saya matikan radionya karena risih. Pas itulah saya mendengar suara pertama kali dari arah dapur.
Suaranya pelan sekali, kayak ada orang menggaruk kayu papan pakai kuku. Sret... sret... sret...
Saya berdiri dan jalan pelan ke arah batas ruang tengah dan dapur. Saya ingat pesan Pak Ismail, jadi saya tidak langsung masuk ke dapur. Saya cuma melongok dan melihat ke dekat mangkuk putih di lantai dekat pintu dapur.
Saya terangi pakai senter kecil yang saya bawa. Air di dalam mangkuk yang tadi sore jernih sekali, sekarang kelihatan agak keruh. Warnanya berubah jadi agak kekuningan seperti air sumur kena lumpur. Dua lembar daun sirih yang tadinya mengapung segar, pinggirannya kelihatan seperti gosong.
Rasa tidak enak langsung muncul di dada saya. Tapi malam itu saya masih berusaha berpikir positif. Mungkin airnya kena debu dari atap kayu, atau daun sirihnya memang sudah layu.
Saya kembali ke ruang depan dan duduk di sebelah Herman. Suara garukan di dapur itu berhenti sebentar, lalu berganti jadi suara benturan pelan. Thuk... thuk... thuk...
Suaranya persis seperti ada benda keras yang membentur dinding kendi dari dalam. Suara itu terus ada setiap beberapa menit sekali, tapi herannya Herman sama sekali tidak terbangun. Dia tidur lelap sekali, napasnya berat.
Saya tidak berani ke belakang sampai fajar datang. Tiap kali suasana hening, suara benturan pelan itu makin jelas. Begitu jam enam subuh lewat, Pak Ismail datang bersama beberapa warga. Saya lihat Pak Ismail langsung jalan ke dapur tanpa menyapa saya dulu.
Dia melihat mangkuk putih yang airnya keruh itu, lalu membuang airnya ke halaman luar. Dia mengisi lagi mangkuk itu pakai air baru, sirih baru, dan garam baru. Dia tidak cerita apa-apa ke saya, cuma bicara singkat. "Nanti malam jaga lagi sama adikmu. Jangan sampai ketiduran berdua."
Malam kedua, rasa cemas saya makin jadi. Sejak sore, langit sudah mendung tebal dan gerimis turun lebat di kampung kami. Lampu minyak di rumah duka beberapa kali mati ditiup angin yang masuk lewat celah dinding papan.
Tahlilan malam kedua selesai jam setengah sepuluh malam karena hujan makin deras. Orang-orang tua cepat-cepat pulang sebelum jalanan kampung jadi lumpur licin. Lagi-lagi tinggal saya dan Herman berdua saja di rumah besar itu.
Sekitar jam sebelas malam, Herman mengeluh badannya panas dingin. Mukanya pucat dan bibirnya agak biru. "Mas, saya tidur duluan ya, kepala saya pusing sekali," kata Herman.
Saya raba jidatnya memang panas sekali. Saya suruh dia tiduran di bale-bale ruang depan dan saya selimuti pakai dua lembar sarung. Niat saya mau menemani dia di sebelah bale-bale, tapi perut saya malah mulas berat.
Mau tidak mau, saya harus pergi ke kamar mandi yang letaknya di luar, di samping belakang rumah. Untuk keluar lewat pintu belakang, saya harus melewati dapur.
Saya pegang senter, lalu jalan pelan melewati dapur. Waktu melintas di samping meja tempat kendi ditaruh, mata saya tidak sengaja melirik ke mangkuk putih penanda bahaya itu.
Saya kaget setengah mati. Air di dalam mangkuk bukan cuma keruh lagi, tapi warnanya sudah berubah jadi merah kecokelatan kental, mirip air cucian daging. Bau hanyir yang amis dan busuk langsung tercium dari arah mangkuk itu. Daun sirihnya sudah hancur lebur seperti daun busuk kena air panas.
Saya langsung mempercepat langkah keluar menuju kamar mandi. Hujan gerimis masih turun di luar. Di dalam kamar mandi seng yang sempit itu, saya selesaikan secepat mungkin. Rasa takut bikin saya tidak betah lama-lama.
Waktu saya mau membuka pintu kamar mandi untuk kembali ke rumah, saya mendengar suara langkah kaki di atas papan lantai dapur. Brak... brak... brak... Langkahnya berat dan diseret, seperti ada yang membawa beban besar di kakinya.
Saya terdiam di balik pintu kamar mandi. Saya tunggu sekitar dua menit sampai suara langkah itu hilang. Tangan saya gemetaran waktu buka pintu kamar mandi dan jalan cepat menaiki tangga belakang menuju dapur.
Keanehan makin nyata waktu saya sampai di dapur. Keadaannya sepi, tapi meja kayu tempat kendi tanah liat ditaruh kelihatan bergetar pelan. Klak-klak-klak-klak... Kendi itu berguncang kecil di atas meja seperti ada cairan kental yang dikocok kuat dari dalam.
Saya tidak berani mendekat. Saya ingat betul pesan Pak Ismail untuk tidak membuka kendi itu sebelum jam 6 subuh. Saat itu jam baru menunjukkan pukul satu malam. Masih ada lima jam lagi menuju pagi.
Saya lari kecil menuju ruang depan untuk menemui Herman. Tapi begitu sampai di ruang depan, Herman tidak ada di atas bale-bale. Sarungnya tergeletak begitu saja di lantai papan.
"Herman!" panggil saya pelan. Suara saya tertahan di tenggorokan.
Tidak ada jawaban. Rumah panggung itu sepi sekali, cuma ada suara gerimis di atap seng.
Saya cari Herman ke sudut-sudut ruang depan dan tengah, tapi dia tidak ada. Pikiran saya mulai panik. Apa dia berjalan keluar saat saya di kamar mandi? Atau dia ke belakang?
Lalu saya mendengar suara panggilan dari arah dapur. Suaranya persis suara Herman, tapi terdengar terendam dan berat, kayak dia berbicara dari dalam tempat yang sempit.
"Mas... tolong saya, Mas... di sini gelap..."
Suara itu datangnya dari sudut dapur, tepat di meja tempat kendi tanah liat itu ditaruh.
Kaki saya kaku. Saya tidak bisa bergerak beberapa detik. Senter di tangan saya bergoyang-goyang karena telapak tangan saya basah oleh keringat dingin.
Saya memaksakan diri melangkah pelan menuju lorong dapur. Lampu minyak di dinding dapur sudah mati, cuma ada cahaya dari senter saya.
Di atas meja dapur, kendi tanah liat berikat tali ijuk itu makin bergetar hebat. Suara memanggil itu makin jelas keluar dari arah kendi tersebut.
"Mas... buka kainnya, Mas... panas di dalam... cepat buka..."
Suara itu benar-benar suara Herman. Nada bicaranya, intonasinya, persis adik saya. Hati saya hancur dan bingung setengah mati. Pikiran saya mulai kacau karena panik. Apa Herman dimasukkan ke dalam tempat itu secara gaib? Atau ini cuma tipuan?
Tangan saya yang memegang senter gemetaran hebat. Saya maju satu langkah mendekati meja. Tangan kiri saya yang kosong mulai terulur mendekati ikatan tali ijuk di mulut kendi. Rasa ingin menolong adik bikin saya nekat melupakan peringatan Pak Ismail.
Jari saya sudah menyentuh tekstur tali ijuk yang kasar dan dingin. Bau busuk hanyir yang tadi ada di mangkuk makin tercium kuat, sampai membuat saya mual ingin muntah.
Tepat waktu jari saya mau melonggarkan simpul ikatan kain hitam itu, saya melirik lagi ke bawah meja.
Mangkuk putih berisi air penanda itu sekarang sudah meluap. Cairan hitam dari dalam mangkuk itu tumpah ke lantai papan dapur, dan cairan itu kelihatan mendidih tanpa ada asap.
Melihat tumpahan hitam itu, ingatan saya langsung tersengat pesan Pak Ismail: Jangan sekali-kali buka kendi tanah di meja dapur itu sebelum jam enam subuh, apa pun suara yang kamu dengar dari dalam.
Saya tarik tangan saya cepat-cepat dari kain kendi. Saya mundur dua langkah sampai punggung saya menabrak kusen pintu dapur.
Begitu saya tarik tangan saya, suara dari dalam kendi yang tadinya merintih seperti Herman langsung berubah total. Suara itu berubah jadi geraman berat yang sangat kasar dan melengking tinggi, seperti suara binatang buas dicampur tawa tertahan.
Meja kayu tempat kendi ditaruh terangkat sedikit lalu terhempas keras ke lantai. Brak!
Saya teriak dan langsung balik badan, lari kencang ke arah ruang depan. Saat saya lari melintasi lorong remang-remang, rasanya ada hembusan napas yang sangat dingin dan berbau bangkai tepat di belakang leher saya.
Ada rasa basah dan lengket menetes di pundak belakang baju saya. Tapi saya tidak berani menengok sama sekali. Kalau saya menengok, saya yakin pasti bakal pingsan malam itu juga.
Saya sampai di ruang depan dan melihat Herman ternyata sedang duduk meringkuk di pojokan dekat pintu utama. Dia menutup telinganya rapat-rapat sambil menangis ketakutan.
"Kamu dari mana saja, Herman?!" bisik saya sambil memeluk bahunya yang gemetaran.
Herman cuma menunjuk ke arah lorong dapur dengan jari gemetar. "Tadi ada yang jalan dari dapur... bentuknya tinggi bungkuk jalan nempel di dinding... dia cari kamu, Mas..."
Ternyata suara yang memanggil saya dari dapur tadi bukan Herman. Herman tidak pernah ke dapur malam itu. Dia cuma sembunyi di pojokan karena melihat sosok tinggi bungkuk keluar dari arah dapur saat saya sedang di kamar mandi luar.
Malam itu kami berdua cuma bisa duduk berpelukan di pojok ruang depan sambil terus membaca doa-doa yang kami ingat. Kami tidak berani mematikan senter atau mendekati lorong tengah lagi.
Dari arah dapur, suara hentakan meja dan geraman itu terus berbunyi setiap beberapa menit sekali. Bau busuk hanyir menyebar sampai ke ruang depan, membuat dada kami sesak.
Kami bertahan dalam ketakutan sampai bayangan cahaya matahari mulai kelihatan dari celah dinding papan.
Tepat jam enam subuh, suara ketukan pintu depan terdengar. Pak Ismail datang bersama tiga orang sesepuh kampung lainnya.
Begitu pintu dibuka, Pak Ismail tidak bertanya apa-apa. Dia cuma melihat wajah saya dan Herman yang pucat pasi. Pak Ismail langsung menyuruh dua orang warga masuk membawa karung goni tebal.
Saya ikut berjalan pelan di belakang mereka menuju dapur.
Keadaan dapur waktu itu berantakan. Mangkuk putih tempat air sirih tadi sudah pecah berkeping-keping di lantai, dan cairan hitam mengering di papan kayu.
Kendi tanah liat di atas meja masih utuh, tapi kain hitam penutupnya kelihatan tercabik-cabik kecil dari dalam, seperti ada banyak kuku tajam yang mencoba menembus kain itu dari bawah ikatan tali ijuk.
Pak Ismail tidak membuang waktu. Tanpa menyentuh ikatan kainnya sama sekali, dia langsung membungkus seluruh kendi tanah liat itu pakai karung goni tebal, lalu mengikatnya kuat-kuat dengan tali plastik.
Dua warga tua membawa kendi terbungkus karung itu keluar rumah dengan sangat hati-hati.
Saya sempat memberanikan diri bertanya ke Pak Ismail sebelum dia pergi mengantar kendi itu. "Pak... sebenarnya apa isi kendi itu? Kenapa suaranya bisa seperti adik saya?"
Pak Ismail cuma berhenti sebentar di tangga rumah, menengok ke saya dengan muka datar. "Tidak usah kamu tahu. Ada hal yang ditinggalkan orang mati yang tidak boleh ikut pulang bersama yang hidup. Bersyukurlah kamu tidak membukanya semalam."
Setelah itu Pak Ismail jalan pergi membawa kendi tersebut ke arah bukit di belakang kampung. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu di mana kendi itu dikubur atau dibuang.
Rumah panggung tua itu sekarang sudah rata dengan tanah dan jadi kebun pisang. Tapi sampai hari ini, kalau saya menginap di rumah duka, saya selalu merasa cemas setiap kali melihat ada wadah tertutup kain di sudut ruangan.
Kalaupun malam-malam kamu mendengar suara orang terdekatmu memanggil dari tempat gelap, pastikan dulu dengan mata kepalamu sendiri sebelum kamu melangkah mendekat.
Kamu baru saja membaca tentang Kendi Dapur di Rumah Duka