Kembaran Sepupuku yang Datang Setelah Tahlilan



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Halo semuanya. Cerita ini kejadian sekitar tiga tahun yang lalu, pas akhir tahun 2021 di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Ini pengalaman nyata yang saya saksikan sendiri sama mata kepala saya. Saya bukan mau nakut-nakutin atau bikin cerita karangan, tapi ini murni kejadian aneh yang bikin saya masih gemeteran kalau ingat-ingat lagi.

Waktu itu om saya, adiknya ibu saya, meninggal dunia karena sakit tua. Nama anaknya, sepupu saya ini, Irfan. Umurnya waktu itu 24 tahun. Kami akrab banget dari kecil, biasanya saya panggil dia Ippang. Karena rumah saya di Makassar kota dan rumah Irfan di Gowa nggak terlalu jauh, sekitar 45 menit naik motor, saya memutuskan buat nginep di rumah duka selama seminggu penuh. Saya mau bantu-bantu Tante Nurbaya, ibunya Irfan, buat ngurus acara tahlilan dari hari pertama sampai hari ketujuh.

Hari pertama dan hari kedua berjalan lancar. Rumah ramai terus sama tetangga, kerabat, dan bapak-bapak yang datang tahlilan malam hari. Karena namanya rumah duka, pasti capeknya luar biasa. Kita harus angkat-angkat kursi plastik, siapkan kopi, kue-kue, sampai cuci piring bekas tamu. Irfan sebagai anak laki-laki satu-satunya kelihatan capeeeek banget. Mukanya layu, matanya merah karena kurang tidur dan kebanyakan nangis pas pemakaman bapaknya.

Nah, pas hari ketiga, ada seorang tetangga tua di situ, namanya Daeng Kamaruddin. Beliau ini rumahnya cuma selisih dua rumah dari rumah Irfan. Malam itu, sekitar jam 8 pas acara tahlilan baru selesai dan tamu-tamu lagi pada ngopi di teras, Daeng Kamaruddin narik tangan saya sama Irfan ke dekat sumur belakang.

Daeng Kamaruddin ngomong pelan banget, suaranya agak serak. Dia bilang gini, "Rahmat, kau jagai sepupumu ini baik-baik. Jangan kasih dia tidur sebelum jam 2 subuh selama tahlilan 7 hari ini."

Saya bingung, terus tanya, "Kenapa emangnya, Daeng?"

Daeng Kamaruddin natap Irfan serius banget. "Orang yang lagi berduka berat itu jiwanya lagi kosong. Kalau rumah masih ramai bekas orang tahlilan, lalu dia tidur kepagian sebelum jam 2 subuh, ada orang lain dari luar yang suka datang. Dia cari celah buat masuk dan nempatin badan yang kosong itu. Kau catat itu baik-baik."

Irfan waktu itu cuma manggut-manggut lemes. Dia mungkin mikir itu cuma mitos orang tua dulu. Saya juga jujur aja nggak terlalu ambil pusing. Saya pikir ya paling cuma nasehat supaya Irfan nggak malas bantu-bantu tamu. Tapi ternyata saya salah besar.

Malam ketiga itu, sekitar jam 10 malam, bapak-bapak di depan masih ada yang ngobrol di teras. Saya lagi sibuk nyuci gelas bekas kopi di dapur. Pas saya masuk ke kamar belakang mau ambil sarung, saya lihat Irfan udah tergeletak tidur telentang di kasur busa. Dia masih pakai baju koko putih sama peci hitam bekas tahlilan tadi. Tidurnya pules banget, napasnya kelihatan berat.

Saya ingat omongannya Daeng Kamaruddin. Saya senggol kakinya. "Pang, bangun dulu. Jangan tidur sekarang. Belum jam 11 ini. Ayo di luar masih ada orang."

Irfan cuma ngerang pelan, terus balik badan membelakangi saya. Ya udah, saya pikir kasihan juga ini anak capek banget dari pagi. Saya biarin dia tidur, rencana saya nanti jam 12 baru saya bangunin lagi.

Sekitar jam setengah 12 malam, saya ke dapur mau ambil air minum. Pas saya masuk ke area dapur, saya kaget. Saya lihat Irfan lagi berdiri di depan dispenser, lagi nuang air dingin ke gelas.

Saya tanya, "Lho, Pang? Kapan kamu bangun? Tadi bukannya kamu tidur nyenyak banget di kamar belakang?"

Dia nengok ke saya. Gerakannya agak lambat, nggak kaya biasanya. Mukanya datar banget, nggak ada ekspresi. Matanya agak redup.

"Udah bangun dari tadi kok," kata dia. Suaranya agak pendek dan agak sengau. Beda sedikit dari suara aslinya, tapi ya mirip banget.

"Ooh... kirain masih tidur. Ya udah bantu rapikan kursi di depan yuk," kata saya.

Dia cuma diam, terus jalan ngelewatin saya gitu aja tanpa ngomong apa-apa lagi. Pas dia jalan ngelewatin saya, saya nyium bau aneh. Baunya bukan bau parfum atau bau keringat, tapi bau tanah basah yang campur sama bau kain apek. Saya sempat mikir, ah mungkin baju kokonya belum dijemur garing pas dicuci.

Besok harinya, hari keempat, keanehan makin kelihatan jelas.

Irfan jadi diam banget. Biasanya dia itu orangnya cerewet, suka ngelawak, dan kalau dipanggil "Ippang" pasti langsung nyahut cepat. Tapi seharian itu, kalau saya panggil "Ippang!", dia nggak bakal nengok. Dia baru nengok kalau saya panggil nama lengkapnya, "Irfan".

Pas makan siang, Tante Nurbaya masak sayur bening sama ikan goreng. Pas kita semua duduk di meja makan, Irfan ngambil nasi banyak banget. Tapi anehnya, dia nggak mau ngambil ikan yang baru digoreng panas-panas dari wajan. Dia malah ngambil sisa ikan kemarin yang ada di tudung saji, yang udah dingin dan agak keras. Dia makan itu tanpa dikunyah lama-lama, langsung ditelan gitu aja.

Tante Nurbaya heran. "Irfan, kenapa makan ikan kemarin? Itu ada yang baru digoreng masih hangat."

Irfan cuma jawab pelan sambil tetap nunduk, "Nggak apa-apa, Ma. Suka yang dingin."

Saya ngeliat jarinya pas lagi megang sendok. Jarinya agak kaku, kuku-kukunya kelihatan agak kebiruan. Tapi hari itu cuaca padahal panas banget.

Malam kelima, keadaannya makin gila. Saya mulai benar-benar takut.

Malam itu tahlilan selesai jam 9 malam. Jam 10 malam, saya ngeliat Irfan duduk di kursi plastik di teras samping rumah, di tempat yang agak gelap. Dia cuma duduk tegak, tangannya dilipat di pangkuan, natap lurus ke arah kebun pisang di samping rumah. Nggak main HP, nggak ngerokok, nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk diam.

Saya samperin dia dari belakang. Pas saya makin dekat, saya perhatiin matanya. Dia nggak kedip sama sekali! Ada kali dua menit saya berdiri agak sampingan sama dia, matanya terbuka lebar natap kegelapan kebun pisang tanpa kedip satu kali pun.

"Fan... kamu ngapain di sini?" tanya saya pelan.

Dia nengok pelan-pelan. Lehernya kayak kaku banget pas muter.

"Nunggu," jawabnya ringkas.

"Nunggu siapa? Udah malam ini. Masuk yuk, ngopi di dalam," ajak saya.

"Nanti. Belum jamnya," kata dia lagi dengan suara datar tanpa nada.

Saya merinding. Saya langsung masuk ke rumah dan nemuin Tante Nurbaya di dapur. Saya bilang, "Tante, Irfan kok aneh banget ya dari kemarin? Kayak bukan Irfan."

Tapi Tante Nurbaya cuma menghela napas. "Biarlah Rahmat... dia itu masih sedih banget ditinggal Bapaknya. Kan kamu tahu dia dekat sekali sama Alm. Bapaknya. Lagi linglung mungkin."

Karena Tante Nurbaya ngomong gitu, saya berusaha tenang. Mungkin saya yang terlalu paranoid karena omongannya Daeng Kamaruddin kemarin.

Tapi puncaknya terjadi di malam keenam. Di sinilah saya tahu kalau situasi ini benar-benar berbahaya.

Malam itu jam 11 malam. Tamu tahlilan udah pada pulang semua. Rumah udah sepi. Saya lagi nyapu lantai ruang tengah. Saya lihat Irfan keluar dari kamar mandi lalu jalan ke kamar depannya.

Nggak lama setelah itu, Tante Nurbaya manggil saya dari arah gudang belakang. Gudang itu tempat penumpukan barang-barang bekas dan lemari-lemari tua, letaknya di paling ujung belakang rumah dekat pintu keluar ke kebun.

"Rahmat! Sini sebentar nak!" suara Tante Nurbaya terdengar agak panik dari arah gudang.

Saya langsung lari ke belakang. Saya lihat Tante Nurbaya lagi berdiri di depan pintu gudang yang terbuka, mukanya pucat banget, tangannya menunjuk ke dalam gudang.

"Kenapa, Tante?" tanya saya.

"Lihat itu... itu siapa?" bisik Tante Nurbaya gemetaran.

Saya masuk ke gudang yang remang-remang itu, cuma diterangi satu bohlam kuning 5 watt. Di pojokan gudang, di atas kasur kapuk tua yang udah berdebu, ada orang lagi tidur terkurung meringkuk kayak bola. Dia cuma pakai celana pendek sama kaos singlet berlubang.

Saya mendekat pelan-pelan. Pas saya liat mukanya... Ya Allah. Itu Irfan!

Mukanya lemes banget, badannya kurus kayak orang nggak makan berhari-hari, kulitnya pucat putih kebiruan, dan badannya dingin banget pas saya pegang bahunya. Baju yang dia pakai itu baju yang dipakainya pas hari ketiga tahlilan!

Saya kaget. "Pang! Pang! Bangun Pang!" saya guncang-guncang badannya.

Dia buka matanya sedikit banget. Suaranya lemah banget, desahan kayak orang mau habis napas. "Rahmat... tolong... saya dari kemarin ketiduran di sini... nggak bisa bangun... badan saya berat banget... saya nggak bisa gerak..."

Saya sama Tante Nurbaya kaget luar biasa. Terus... kalau Irfan yang asli ada di gudang belakang dari hari ketiga, siapa Irfan yang selama tiga hari ini jalan-jalan di rumah, makan ikan dingin, dan ngobrol sama tamu di depan?!

Tante Nurbaya langsung nangis histeris tapi saya bekap mulutnya. "Tante, diam Tante! Jangan riuh! Kita nggak tahu yang di depan itu apa!"

Saya teringat kata-kata Daeng Kamaruddin: Kalau dia tidur kepagian sebelum jam 2 subuh, ada orang lain dari luar yang suka datang. Dia cari celah buat masuk dan nempatin badan yang kosong itu.

Irfan yang asli rupanya melanggar pantangan di malam ketiga. Dia ketiduran jam 10 malam di kamar belakang. Pas dia ketiduran pules, jiwanya lemas karena berduka, sukmanya terlempar atau terperangkap ke gudang belakang, lalu sosok itu mengambil alih wujud dan pakaiannya untuk keluar nemuin orang-orang!

Saya panik. Saya lihat jam di dinding gudang. Jam 11.45 malam. Malam keenam. Artinya besok malam adalah malam ketujuh, malam terakhir tahlilan.

Daeng Kamaruddin pernah bilang, kalau sampai hari ketujuh selesai dan sosok dari luar itu masih menguasai wujud si pemilik rumah, maka pemilik asli bakal dibawa selamanya dan orang-orang nggak bakal pernah tahu kalau yang hidup bersama mereka itu bukan manusia lagi.

Saya langsung lari keluar lewat pintu belakang, sengaja nggak lewat depan kamar tempat Irfan palsu itu berada. Saya lari kencang ke rumah Daeng Kamaruddin. Saya gedor pintunya malam-malam.

Daeng Kamaruddin keluar pakai sarung dan peci. Pas lihat muka saya yang keringatan dan pucat, beliau langsung paham. "Irfan kena?" tanya beliau singkat.

Saya mengangguk. "Iya Daeng! Irfan yang asli tergeletak lemes di gudang belakang, tapi ada orang lain di kamar depan!"

Daeng Kamaruddin mengusap mukanya. "Sudah kubilang to... jangan kasih dia tidur sebelum jam 2 subuh. Jiwanya kosong, disambar sama penunggu kebun."

"Terus gimana ini Daeng? Tolongin sepupu saya!" kata saya mau menangis.

Daeng Kamaruddin masuk sebentar ke rumahnya, terus keluar bawa botol bening berisi air garam kasar sama selembar kain hitam.

"Dengar baik-baik," kata Daeng Kamaruddin. "Besok malam adalah malam ketujuh. Itu kesempatan terakhir. Sebelum jam 2 subuh besok malam, kau harus bikin Irfan yang asli di gudang itu bangun dan keluar berdiri di halaman depan. Kalau dia bisa berdiri di halaman sebelum jam 2 subuh lewat, orang itu bakal hancur sendiri. Tapi ingat... yang di kamar depan itu bakal berusaha ngalangi kau."

Malam itu, kami nggak berani utak-atik Irfan palsu yang ada di kamar depan. Saya sama Tante Nurbaya cuma bisa diam di kamar sambil mengunci pintu rapat-rapat. Malam itu terasa panjang banget. Beberapa kali saya dengar ada suara langkah kaki pelan bolak-balik di depan kamar saya. Langkah kakinya berat, dan ada suara gesekan kain basah di lantai. Saya nggak bisa tidur sekejap pun sampai pagi.

Besoknya, hari ketujuh. Hari terakhir.

Seharian itu, Irfan palsu beraktivitas kayak biasa. Dia bantu angkat-angkat barang, tersenyum tipis ke tetangga, tapi mukanya makin lama makin mirip mayat. Kulit mukanya agak makin kencang kaku. Matanya makin menghitam di bagian bawahnya. Tetangga-tetangga sempat ada yang nyeletuk, "Irfan kok mukanya makin pucat ya?" Tapi Tante Nurbaya cuma jawab cepat, "Iya, kurang tidur."

Acara tahlilan malam ketujuh dimulai jam 8 malam. Tamu ramai sekali karena malam terakhir. Rumah penuh dari teras sampai ke dalam. Irfan palsu duduk di dekat ustadz yang memimpin doa. Saya ngeliat dia dari sudut ruangan. Setiap kali orang-orang membacakan doa dan ayat-ayat tahlil, Irfan palsu itu cuma duduk diam. Mulutnya nggak komat-kamit sama sekali, dan kepalanya agak tertunduk miring ke kiri.

Jam 11 malam, acara selesai. Tamu-tamu mulai pulang satu per satu.

Jam 12 malam. Tersisa tinggal beberapa tetangga dekat yang ngobrol di teras. Irfan palsu berdiri di dekat pintu depan. Dia ngeliat saya terus-terusan dengan pandangan yang tajam dan dingin. Dia tahu kalau saya udah tahu.

Jam 01.00 subuh. Waktu makin tipis.

Tante Nurbaya pura-pura masuk ke gudang belakang buat ngambil baskom. Saya ngintip situasi. Irfan palsu masih berdiri di teras samping, natap ke kegelapan kebun pisang.

Saya pelan-pelan jalan ke gudang belakang. Di sana, Irfan asli masih tergeletak di kasur kapuk. Mukanya makin tirus, napasnya tinggal satu-satu.

Saya sama Tante Nurbaya mulai bisik-bisik bangunin dia. "Pang... bangun Pang... ayo berdiri Pang..."

Saya percikkan air garam dari Daeng Kamaruddin ke mukanya. Irfan asli meringis pelan, matanya terbuka sedikit, tapi badannya kaku banget. Kayak ada beban berat yang menindih dadanya.

"Nggak bisa... berat banget..." bisik Irfan asli lemes banget.

Saya lihat jam tangan saya. Jam 01.30 subuh. Tinggal 30 menit lagi sebelum jam 2!

Dari arah balik pintu gudang, terdengar suara langkah kaki mendekat.

Pintu gudang terbuka pelan-pelan. Suara engsel pintunya berderit.

Di ambang pintu, berdiri Irfan palsu.

Dia berdiri tegap, matanya melotot lebar banget sampai bagian putih matanya kelihatan banyak sekali. Dia natap saya, Tante Nurbaya, dan Irfan yang lagi tergeletak di kasur.

"Mau dibawa ke mana?" tanya Irfan palsu. Suaranya kali ini beda banget. Bukan suara Irfan, tapi suara dalam dan bergema kayak muncul dari dalam sumur tua.

Tante Nurbaya mejerit. Saya gemetaran, tapi saya berusaha tahan diri. Saya ingat pesan Daeng Kamaruddin. Saya ambil botol air garam, terus saya siramkan sisanya langsung ke muka Irfan palsu itu!

"AAARGHH!"

Irfan palsu itu ngerang keras banget. Suaranya melengking tinggi kayak suara kucing kejepit, tapi dibarengi suara berat laki-laki. Dia megangin mukanya. Dari kulit mukanya keluar asap tipis dan ada bau gosong campur bau tanah basah!

Dia mundur beberapa langkah sambil terus mengerang kencang.

Saya langsung papah badan Irfan asli! Badannya ringan banget kayak cuma tulang sama kulit. Tante Nurbaya megangin kakinya. Kami berdua bopong Irfan asli keluar dari gudang, ngelewatin Irfan palsu yang masih ngelus mukanya di koridor dapur.

Pas kami lewat di sampingnya, Irfan palsu itu nengok ke saya. Mukanya yang sebelah kanan udah agak meleleh, kulitnya terkelupas memperlihatkan lapisan hitam di dalamnya. Tangannya yang kaku mencoba ngeraih baju saya.

"Jangan bawa... dia milikku..." bisiknya dengan suara serak melengking.

Saya tendang kakinya sekuat tenaga sampai dia jatuh terlentang di lantai dapur. Saya sama Tante Nurbaya lari sekencang-kencangnya bopong Irfan asli menuju pintu depan!

Kami keluar ke teras, terus kami seret Irfan asli sampai berdiri dan jatuh telungkup di atas rumput halaman depan rumah.

Pas Irfan asli menyentuh tanah rumput halaman depan, saya lihat jam tangan saya.

Jam 01.52 subuh. Delapan menit sebelum jam 2.

Terdengar suara teriakan melengking yang keras banget dari arah dapur dalam rumah. Suaranya tinggi, lalu makin lama makin jauh, kayak ada orang yang diseret kencang ke arah kebun pisang di belakang rumah.

Nggak lama setelah suara itu hilang, angin kencang berhembus sekali di halaman, terus suasana langsung hening.

Irfan asli yang tergeletak di rumput langsung muntah-muntah hebat. Dia muntah air hitam yang baunya busuk banget. Setelah muntah, matanya terbuka lebar, dan dia bisa bernapas lega lagi. Dia ngeliat saya sama ibunya sambil nangis ketakutan.

"Rahmat... Ma... aku di mana? Kok aku di luar?" tanya dia. Suaranya... itu suara Ippang yang asli! Suara sepupu saya yang biasa!

Kami bertiga langsung nangis dan pelukan di halaman depan.

Setengah jam kemudian, Daeng Kamaruddin datang ke rumah. Beliau meriksa bagian dapur dan kamar tempat orang itu sempat tinggal. Di lantai dapur dekat tempat Irfan palsu jatuh tadi, cuma ada genangan air keruh berwarna cokelat kehitaman yang baunya mirip air got, sama beberapa helai daun pisang kering yang sudah hancur.

Irfan asli butuh waktu sekitar satu bulan buat memulihkan fisiknya. Dia kehilangan berat badan hampir 8 kilo hanya dalam beberapa hari itu. Dan yang bikin seram, Irfan sama sekali nggak ingat apa yang terjadi dari hari ketiga sampai hari ketujuh. Yang dia ingat cuma satu: setiap kali dia memejamkan mata di kamar belakang pas hari ketiga itu, dia merasa ada orang yang mukanya mirip banget sama dia, berdiri di samping kasurnya sambil bisik pelan, "Kamu tidur aja ya, biar aku yang gantikan di luar."

Sejak kejadian itu, saya jadi paham betul kenapa orang-orang tua dulu di daerah kita punya banyak aturan atau pantangan pas lagi ada acara duka atau tahlilan. Itu bukan sekadar mitos.

Makanya, lewat tulisan ini saya cuma mau berpesan buat teman-teman semua yang lagi baca cerita saya ini. Kalau misalnya di rumah kalian atau di rumah kerabat kalian lagi ada musibah kematian atau acara duka... tolong jaga keluarga kalian yang sedang berduka berat. Nasihati mereka, jangan biarkan mereka mengurung diri atau tidur sendirian di jam-jam rawan sebelum jam 2 subuh, apalagi kalau rumah masih ramai bekas orang tahlilan.

Sebab, kita nggak pernah tahu... di saat jiwa seseorang lagi kosong dan hancur karena kesedihan, ada hal lain di luar sana yang selalu siap buat datang, menyerupai bentuk tubuh kita, dan menggantikan posisi kita tanpa ada satu orang pun yang sadar.


Kamu baru saja membaca tentang Kembaran Sepupuku yang Datang Setelah Tahlilan

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more