Jaga Malam Tahun 2003 di Parit Baru
Jaga Malam Tahun 2003 di Parit Baru
Perkiraan waktu membaca Menit
EditJam 11 malam, 14 September 2003. Aku lagi duduk sendirian di pos ronda RT 04 Desa Parit Baru, Kalimantan Barat. Kejadian ini memang udah belasan tahun lalu. Tapi aku baru berani cerita sekarang, soalnya rasa takutnya masih berbekas banget.
Malam itu jadwal ronda kampungku. Harusnya ada dua orang lagi yang nemenin. Cuma, yang satu sakit dan yang satu lagi ada urusan penting. Pos ronda kami letaknya di ujung kampung. Depannya jalan semen kecil, tapi belakangnya langsung kebun karet tua yang gelap banget.
Sebelum aku berangkat dari rumah, paman sempat pesan satu hal. "Eko, kalau di pos ronda sendiri, dari jam 12 malam sampai jam 5 pagi jangan pernah nengok ke kebun karet di belakang. Lihat jalan depan aja," kata beliau.
Aku turuti pesan Paman. Di atas meja kayu pos ronda, aku taro satu gelas bening isi air putih dingin buat minum kalau haus.
Kejadian aneh pertama mulai pas jam 1 malam. Suasana yang tadinya biasa aja berubah jadi sepi banget. Suara jangkrik yang tadinya ramai langsung hilang.
Pas aku mau minum, aku kaget ngelihat air di gelas. Warna yang tadinya bening berubah jadi kuning keruh. Bau airnya juga amis, mirip bau lumpur parit busuk.
Barengan sama itu, dari kebun karet di belakang pos ronda, terdengar suara resek-resek. Kayak ada orang nginjak daun kering pelan-pelan. Aku kaget dan hampir refleks mau nengok. Cuma, aku cepat-cepat ingat pesan paman. Aku paksa mataku tetap lihat jalan semen di depan.
Suara langkah itu berhenti persis di balik dinding kayu tempat aku nyandar. Leherku rasanya dingin banget. Pas jam 3 subuh, bau amisnya hilang dan suara jangkrik kedengaran lagi. Air di gelas pelan-pelan jadi bening lagi.
Siang harinya, aku penasaran dan nanya ke paman soal kejadian semalem. Paman cuma diam sebentar, terus ngomong singkat.
"Itu arwah Pak Jamani. Dulu dia mati tenggelam di rawa kebun karet pas ada urusan tanah sama almarhum kakekmu yang belum kelar. Dia tahu kamu cucunya Kakek."
Paman nggak cerita lebih banyak lagi. Tapi karena jadwal ronda desa waktu itu ketat, mau nggak mau besok malamnya aku harus jaga lagi di pos yang sama.
Malam kedua, jam 12 pas. Aku duduk lagi di kursi kayu pos ronda sendirian. Di atas meja, aku nyiapin gelas isi air putih bening yang baru.
Jam 1 malam, hawa sekitar langsung kerasa dingin banget. Aku lirik gelas air di meja. Airnya berubah keruh abu-abu, terus berganti jadi hitam gelap kayak oli bekas.
Jam 2 pagi, air hitam di gelas mulai memercik pelan. Ada gelembung udara yang naik ke atas, terus tercium bau busuk kayak bangkai binatang yang udah lama.
Dukkk! Dinding kayu pos ronda bagian belakang ditendang dari luar. Keras banget sampai kursiku ikutan bergetar.
Dari balik dinding pas di belakang kepalaku, kedengaran suara napas berat dan basah. Suara itu manggil-manggil namaku. Suaranya mirip kakekku yang udah meninggal tiga tahun lalu. "Eko... nengok sini, Eko... ini Kakek..."
Aku takut setengah mati. Pengin rasanya lari kencang atau nengok ke belakang buat mastiin. Tapi aku ingat pantangannya: jangan pernah nengok ke arah kebun karet sampai jam 5 pagi. Kalau aku nengok, sosok itu bisa lihat mukaku dan narik aku.
Aku merem kencang-kencang, mukaku tetap kuarahkan lurus ke jalan semen di depan. Napas basah itu makin dekat di telinga kiriku. Kulit leherku rasanya panas banget kayak kena uap air mendidih.
Lewat jam 3 pagi sedikit, PRAK! Gelas kaca di meja pecah sendiri. Isinya air hitam kental meluber ke mana-mana.
Bisikan di telingaku makin keras dan berubah jadi suara orang ngamuk. Dinding kayu terus dihentak-hentak dari luar. Aku cuma bisa menangis pelan sambil terus natap lurus ke depan, menahan leherku supaya nggak nengok ke belakang.
Tepat jam 5 pagi, suara azan subuh kedengaran dari surau desa. Barengan sama suara azan, hawa panas di leher langsung hilang. Suara gedoran di dinding juga berhenti. Aku selamat.
Tapi ada akibat buruk dari kejadian malam itu. Telinga kiriku yang sempat kena napas basah itu langsung tuli total besok paginya. Kata dokter, gendang telingaku rusak tanpa sebab yang jelas.
Sampai sekarang telinga kiriku nggak bisa dengar lagi. Tapi ya sudahlah, yang penting aku masih hidup.
Kalau kalian kebetulan dapat giliran ronda sendirian di tempat sepi, ingat baik-baik pesan orang tua di sana. Jangan pernah melanggar, mau sekeras apa pun suara yang manggil kalian dari belakang.
Kamu baru saja membaca tentang Jaga Malam Tahun 2003 di Parit Baru