Pintu Ketiga di Lantai Dua



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit


Di sebuah rumah kos tua di pinggiran kota, semua penghuni tahu satu aturan sederhana: jangan pernah membuka pintu ketiga di lantai dua setelah pukul 02.13 dini hari.

Raka baru pindah ke sana dan menganggap semua itu hanya cerita untuk menakut-nakuti penghuni baru. Sampai suatu malam, ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya dari dalam kamar mandi.

Ketika pertama kali pindah ke kos itu, Raka tidak langsung menyadari ada sesuatu yang aneh.   Bangunannya memang tua, cat dindingnya mengelupas, beberapa lampu lorong sering berkedip, dan lantai kayu di lantai dua selalu berbunyi setiap kali seseorang berjalan.

Namun harga sewanya murah.

Terlalu murah, sebenarnya.

Raka mendapatkan kamar nomor 12 di lantai dua. Kamarnya cukup kecil, tetapi bersih. Ada tempat tidur, lemari, meja, dan sebuah kamar mandi sempit di dalam.

Pemilik kos, seorang perempuan tua bernama Bu Ratna, hanya memberikan satu pesan ketika menyerahkan kunci.

"Kalau malam, jangan keluyuran di lorong."

Raka tertawa kecil.

"Kenapa, Bu? Ada hantu?"

Bu Ratna tidak tertawa.

"Kalau kamu dengar suara ketukan, jangan dibuka kalau kamu tidak yakin siapa yang mengetuk."

Setelah mengatakan itu, Bu Ratna langsung pergi.

Raka menganggapnya sebagai cara biasa untuk menakut-nakuti penghuni baru.

Sampai malam ketiganya tinggal di sana.

Waktu menunjukkan pukul 02.13 ketika Raka terbangun.

Bukan karena mimpi.

Melainkan karena suara ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka membuka mata.

Awalnya ia mengira suara itu berasal dari kamar sebelah.

Lalu terdengar lagi.

Tok. Tok. Tok.

Kali ini lebih jelas.

Raka langsung duduk di tempat tidur.

Suara itu berasal dari dalam kamarnya.

Lebih tepatnya...

Dari pintu kamar mandi.

Ia menatap pintu itu cukup lama.

Lampu kamar mandi dalam keadaan mati.

Raka yakin sebelum tidur tidak ada siapa pun di sana.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin pipa air. Mungkin suara dari kamar lain yang terdengar seperti ketukan.

Kemudian suara itu kembali terdengar.

Tok. Tok. Tok.

Raka mulai merasa tidak nyaman.

"Siapa di situ?"

Masih tidak ada jawaban.

Lalu, tepat ketika ia hendak kembali berbaring, seseorang berbicara dari balik pintu kamar mandi.

Dengan suara yang sangat pelan.

"Raka..."

Seluruh tubuhnya langsung membeku.

Tidak ada seorang pun di kos itu yang mengetahui ia sedang terbangun.

Ia bahkan belum terlalu akrab dengan penghuni lain.

Raka tidak menjawab.

Suara itu kembali memanggil.

"Raka..."

Kali ini terdengar seperti suara perempuan.

Sangat pelan.

Sangat dekat.

Kemudian gagang pintu kamar mandi bergerak.

Klik.

Raka refleks meraih ponselnya.

Saat melihat jam, waktu masih menunjukkan 02.13.

Ia merasa aneh.

Seolah-olah beberapa menit telah berlalu, tetapi jam di ponselnya tidak bergerak sama sekali.

Lalu ia mendengar suara lain.

Bukan dari kamar mandi.

Dari luar pintu kamarnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka menoleh.

Sekarang ada dua suara.

Satu dari kamar mandi.

Satu dari lorong.

Dan keduanya mengetuk dengan irama yang sama.

Tok. Tok. Tok.

Tok. Tok. Tok.

Raka mulai panik.

Kemudian terdengar suara seorang laki-laki dari luar kamar.

"Rak! Buka pintunya!"

Itu suara Dimas.

Penghuni kamar sebelah.

Raka hampir langsung membuka pintu, tetapi kemudian teringat pesan Bu Ratna.

Jangan dibuka kalau kamu tidak yakin siapa yang mengetuk.

"Dim?"

"Ya, buka! Cepat!"

"Kenapa?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Kemudian suara Dimas menjawab.

"Ada orang di lorong."

Raka mendekati pintu.

"Orang siapa?"

Sekali lagi hening.

Kemudian suara Dimas terdengar.

Kali ini lebih pelan.

"Raka... jangan buka pintu kamar mandi."

Jantung Raka seolah berhenti.

Suara dari luar itu terdengar seperti Dimas.

Tetapi orang yang berbicara di balik pintu kamar mandi juga mulai tertawa.

Pelan.

Lalu semakin keras.

Raka mundur.

Tiba-tiba seluruh lampu mati.

Gelap.

Benar-benar gelap.

Dan dalam kegelapan, ia mendengar sesuatu berjalan.

Bukan dari luar.

Bukan dari lorong.

Suara langkah itu berasal dari dalam kamar.

Krek.

Lantai kayu di dekat pintu berbunyi.

Krek.

Lebih dekat.

Raka menyalakan senter ponselnya.

Cahaya kecil itu bergerak ke seluruh ruangan.

Kosong.

Tidak ada siapa pun.

Kemudian senter mengarah ke kamar mandi.

Pintunya masih tertutup.

Tetapi...

Gagang pintunya perlahan bergerak sendiri.

Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Raka langsung berlari ke pintu kamar.

Ia tidak peduli lagi siapa yang berada di luar.

Ia harus keluar.

Tangannya memegang gagang pintu.

Namun sebelum membukanya, seseorang berbisik tepat di belakang telinganya.

"Jangan."

Raka membeku.

Suara itu bukan berasal dari kamar mandi.

Suara itu berada tepat di belakangnya.

Ia tidak berani menoleh.

Di saat yang sama, terdengar suara ketukan dari pintu luar.

Satu kali.

Tok.

Kemudian suara Bu Ratna.

"Raka."

Ia menahan napas.

"Jangan buka pintu."

Raka hampir menangis.

"Bu... ada sesuatu di kamar saya."

Tidak ada jawaban.

Kemudian Bu Ratna berbicara lagi.

"Kalau ada sesuatu di dalam kamar..."

Suara perempuan tua itu berhenti.

"...berarti kamu sudah terlambat."

Tiba-tiba seseorang tertawa dari belakang Raka.

Ia langsung membuka pintu dan berlari keluar.

Lorong lantai dua kosong.

Lampu menyala.

Tidak ada Bu Ratna.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada siapa pun.

Raka berlari menuruni tangga dan keluar dari bangunan.

Ia menunggu di depan kos sampai pagi.

Ketika penghuni lain mulai keluar, Raka mencari Dimas.

Namun seorang penghuni lain menatapnya dengan bingung.

"Dimas?"

"Iya. Kamar sebelah saya."

Penghuni itu terdiam.

Lalu menunjuk lorong lantai dua.

"Kamar sebelah kamu kosong."

Raka menggeleng.

"Enggak. Ada Dimas. Kami bahkan ngobrol kemarin."

Laki-laki itu memandangnya dengan wajah pucat.

"Penghuni terakhir kamar itu memang namanya Dimas."

Raka terdiam.

"Memangnya kenapa?"

Laki-laki itu tidak langsung menjawab.

"Dia meninggal tiga tahun lalu."

Raka langsung menemui Bu Ratna.

Perempuan tua itu sedang menyapu halaman.

"Bu, siapa Dimas?"

Tangan Bu Ratna berhenti.

"Siapa yang menyebut nama itu?"

"Dia tinggal di kamar sebelah saya."

Bu Ratna menatap Raka cukup lama.

Kemudian ia berkata,

"Kamar sebelahmu sudah kosong sejak Dimas meninggal."

Raka merasakan tubuhnya dingin.

"Lalu semalam?"

Bu Ratna tidak menjawab.

Raka terus bertanya sampai akhirnya perempuan itu masuk ke dalam rumah dan mengambil sebuah kunci tua.

Kunci itu berkarat.

Di atasnya tertulis angka 13.

"Itu kamar apa?"

Bu Ratna tidak menjawab.

Raka melihat ke arah lantai dua.

Kamar 11.

Kamar 12.

Kemudian...

Tidak ada kamar 13.

Di antara kamar 12 dan 14 hanya ada dinding.

Namun ketika Raka memperhatikannya lebih lama, ia melihat sesuatu.

Sebuah garis samar.

Bentuknya seperti...

Pintu yang telah dicat berulang kali.

Bu Ratna akhirnya berkata,

"Dulu ada kamar nomor 13."

"Kenapa sekarang tidak ada?"

Perempuan itu memegang kunci lebih erat.

"Karena pintunya tidak pernah bisa dikunci."

Raka menatapnya.

"Apa hubungannya dengan Dimas?"

Bu Ratna menarik napas panjang.

"Dimas tinggal di kamar 12. Sama seperti kamu."

"Dia juga mendengar ketukan dari kamar mandi."

Raka tidak mengatakan apa-apa.

"Dia juga mendengar seseorang mengetuk dari luar."

"Dan?"

Bu Ratna menatap lurus ke mata Raka.

"Dia memilih membuka pintu kamar mandi."

Sejak malam itu, Raka tidak pernah kembali ke kamar 12.

Ia pindah ke tempat lain keesokan harinya.

Namun sebelum pergi, ia kembali ke lantai dua untuk mengambil barang-barangnya.

Lorong dalam keadaan sepi.

Ketika ia melewati bekas kamar nomor 13, ia berhenti.

Dinding itu masih terlihat seperti dinding biasa.

Tidak ada pintu.

Tidak ada gagang.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Pesannya hanya berisi satu kalimat.

"Terima kasih sudah tidak membuka pintu kamar mandi."

Raka langsung menoleh ke belakang.

Lorong kosong.

Lalu masuk pesan kedua.

"Tapi tadi malam..."

Raka membaca pesan itu sambil menahan napas.

Pesan terakhir masuk beberapa detik kemudian.

"...siapa yang membuka pintu kamarmu?"



Menurut cerita yang beredar, rumah kos tua itu memang pernah memiliki 13 kamar. Kamar nomor 13 berada di lantai dua, di antara kamar 12 dan 14. Setelah seorang penghuni ditemukan meninggal di dalam kamarnya, pintu kamar tersebut ditutup dan kemudian dibongkar. Namun beberapa penghuni lama mengaku bahwa pada pukul 02.13 dini hari, terkadang masih terdengar suara ketukan dari balik dinding 3x.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan jika pada malam yang sama seseorang juga mengetuk pintu kamar Anda dari luar. Pastikan Anda benar-benar tahu siapa yang berada di balik pintu.


Kamu baru saja membaca tentang Pintu Ketiga di Lantai Dua

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more