-->

Cerita Rakyat Si Pahit Lidah



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit
Dulu di Sumatera Selatan tepatnya di daerah Sumidang ada suatu kerajaan besar. Di Kerajaan itu hidup seorang pangeran yang bernama Serunting. la mempunyai karakter iri hati pada apa yang dipunyai orang lain. Pangeran Serunting sudah mempunyai istri. lstrinya mempunyai seseorang adik yang bernama Aria Tebing, yang saat ini jadi adik ipar Pangeran Serunting.

Si Pahit Lidah

Serunting serta Aria Tebing semasing mempunyai ladang, letak ladang mereka bersebelahan yang cuma dipisahkan pohon-pohon. Serta dibawah pohon-pohon itu tumbuh tanaman Cendawan. Tetapi, Cendawan yang tumbuh itu membuahkan hal yang jauh tidak sama. Bila dilihat Cendawan yang menghadap ke arah ladang punya Aria Tebing tumbuh jadi logam emas.

Sedang Cendawan yang menghadap ke arah ladang punya Serunting tumbuh jadi tanaman parasit tanaman tak bermanfaat.

Tahu hal itu, Serunting jadi iri hati pada Aria Tebing, sehari-hari ia selalu berburuk kira pada adik iparnya itu, " Cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh jadi tanaman yg tidak bermanfaat, sedang yang menghadap ke arah ladang punya Aria Tebing tumbuh jadi logam emas. Saya meyakini, Ini pasti perbuatan Aria Tebing ".

Esok harinya, Serunting hampiri Aria Tebing dengan perasaan dendam serta geram, ia lalu mengajak Aria Tebing untuk berduel. " Kau sudah berbuat curang kepadaku! Saya menantangmu untuk berduel keesokan hari!! " ucap Serunting.

 " Namun, namun saya tak pernah berbuat curang, " sahut Aria Tebing. Serunting tak memperdulikannya, ia terus menantangnya untuk berduel. Aria Tebing kebingungan. la tahu bahwa kakak iparnya itu yaitu orang yang sakti, sesudah lama memikirkan, pada akhirnya Aria Tebing memperoleh inspirasi.

la lalu menceritakan peristiwa itu serta membujuk kakak kandungnya yang tidak lain yaitu istri dari serunting untuk memberitahukan rahasia kekurangan Serunting.

 " Kak, katakanlah saya rahasia kekurangan suamimu. Saya dalam situasi tertekan, bila saya kalah jadi saya bakal terbunuh, " ucap Aria Tebing memohon.

 " Maaf adikku, saya tidak ingin mengkhianati suamiku, saya tidak dapat berikan tahumu, " jawab istri serunting keberatan.

 " Yakinlah kak, ini untuk adikmu! Bila saya tahu kekurangan suamimu, saya akan tidak membunuhnya, " rayu Aria tebing lagi.

Pada akhirnya istri Serunting iba lihat adiknya yang selalu memohon, lalu ia memberitahukan bahwa kesaktian Serunting ada pada tumbuhan ilalang yang bergetar walau tidak tertiup angin.

Esok harinya, saat sebelum berlaga, Aria Tebing telah menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar walau tidak tertiup angin. Serunting juga pada akhirnya terluka kronis serta kalah.

Serunting tahu bahwa istrinya lah yang memberitahu Aria Tebing perihal kelemahannya, terasa dikhianati pada akhirnya Serunting pergi mengembara, ia bertapa di Guning Siguntang.

Waktu tengah bertapa, ia mendengar nada Hyang Mahameru, " Wahai Serunting! Saya bakal turunkan pengetahuan kemampuan gaib kepadamu, apakah kau maul' bertanya Hyang Mahameru.

 " Saya ingin kemampuan gaib itu, wahai Hyang Mahameru, saya ingin kemampuan itu, " jawab Serunting.

 " Namun, ada satu prasyarat yakni kau mesti bertapa dibawah pohon bambu. Sesudah badanmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu, jadi anda sukses memperoleh kemampuan itu, " ucap Hyang Mahameru.

Dua th. berlalu, Serunting masih tetap bertapa, pada akhirnya daun-daun dari pohon bambu telah menutupinya. Saat ini ia mempunyai kesaktian yakni tiap-tiap pengucapan yang keluar dari mulutnya bakal jadi fakta serta kutukan.

Satu hari, ia punya niat mau pulang ke kampung halamannya, di Sumidang. Di perjalanannya, ia mengutuk seluruhnya pohon tebu jadi batu. " Hai pohon tebu, jadilah Batu, " teriaknya lantang. Serta dalam waktu relatif cepat, pohon-pohon tebu itu jadi batu. Lantas di selama pinggir Sungai iambi, ia kembali mengutuk kebanyakan orang yang ia temui jadi batu.

Makin lama Serunting jadi orang yang angkuh serta sombong. Pada akhirnya orang menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah. Tetapi waktu Serunting tiba di suatu Bukit Serut yang gundul, ia mulai mengerti kekeliruannya. Lantas ia merubah Bukit Serut jadi rimba kayu. Dalam waktu relatif cepat bukit itu beralih jadi rimba kayu sampai orang-orang setempat berterima kasih kepadanya lantaran bukit itu sudah jadi rimba kayu yang bakal membuahkan hasil kayu yang berlimpah serta di jual di pasar untuk memenuhi keperluan hidup.

Lalu ia meneruskan perjalanan serta tiba di Desa Karang Agung. Serunting lihat gubuk tua yang ditempati suami-istri yang telah tua. Serunting mendatangi sepasang suami istri tua renta itu. Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum.

Sepasang kakek serta nenek itu sangatlah ramah serta baik hati. Nyatanya telah lama mereka mau dikaruniai seseorang anak untuk menolong mereka bekerja. Serunting juga mengabulkannya.

Saat lihat ada sehelai rambut yang rontok melekat pada pakaian sang nenek, Serunting mengambilnya lantas merubah rambut itu jadi seseorang bayi. Pasangan tua itu bahagia serta berterima kasih pada Serunting.

Serunting bahagia dapat menolong orang lain. Di bekas perjalanannya, Serunting belajar untuk menolong serta berupaya membantu orang yang kesusahan. Tetapi walau kalimat yang keluar dari mulutnya yaitu kalimat baik serta untuk menolong orang yang memerlukan, tetap harus beberapa orang masih tetap menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.

Kamu baru saja membaca tentang Cerita Rakyat Si Pahit Lidah

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more