Tenda Dua Orang di Lereng Sibayak Tahun 2010
Tenda Dua Orang di Lereng Sibayak Tahun 2010
Perkiraan waktu membaca Menit
Jam di layar HP Flexi-ku nunjukin angka 03.14 pas suara kerikil diinjak kedengaran samar di luar tenda.
Awalnya aku pikir itu cuma angin atau musang gunung. Tapi suara langkah itu pelan-pelan makin deket ke arah tenda kami. Jaraknya cuma setengah meter dari tempatku tiduran.
"Lae... ada korekmu? Dingin kali pun di luar ini," suara cowok terdengar agak serak dari balik kain tenda.
Aku yang setengah sadar langsung mau buka sleting tenda sambil ambil korek gas di samping matras. Tapi Bapak langsung pegang pergelangan tanganku. Kencang kali cengkraman Bapak, sampai rasanya sakit.
Bapak menggelengkan kepala pelan. Matanya melotot, ngasih kode supaya aku diam. Beliau berbisik pelan banget di deket telingaku.
"Jangan disahuti. Biarkan aja."
Suara di luar itu ngulangin lagi kalimatnya. "Lae... tolonglah. Cuma minta korek sebentar."
Suaranya muterin tenda kami dua kali. Langkah kakinya berat, kayak orang jalan pakai sepatu gunung basah. Aku sama Bapak cuma bisa duduk kaku di dalam kantong tidur, nggak berani gerak sedikit pun. Pas jam di HP-ku berubah jadi 03.15, suara langkah itu hilang gitu aja di balik semak-semak.
Malam pertama itu aku sama sekali nggak bisa tidur lagi sampai pagi.
Waktu itu pertengahan tahun 2010. Aku diajak Bapak kemping dua hari di daerah lereng Gunung Sibayak, Kabupaten Karo. Bapak dari muda memang hobi naik gunung, dan ini pertama kalinya aku diajak jalan jauh berdua aja sama Bapak.
Jam 7 pagi harinya, matahari udah mulai terang. Kabut tipis masih nempel di pepohonan. Kami keluar dari tenda buat masak air kopi.
Pas aku lagi nyari kayu bakar kering agak masuk ke semak-semak belakang tenda, aku nemu sisa kawat tenda tua yang udah karatan. Di sampingnya ada tas ransel lusuh yang warnanya udah nyaris nyatu sama tanah dan lumut. Di dekat tas itu tergeletak jam tangan rantai tua yang kacanya pecah. Jarum jamnya berhenti persis di angka 03.14.
Aku panggil Bapak buat ngeliat barang-barang itu. Bapak cuma berdiri diam sebentar, liat tas lusuh itu, terus narik bahuku buat mundur.
"Itu bekas pendaki tahun 90-an," kata Bapak singkat. "Dia hilang pas badai, nggak pernah ketemu lagi jasadnya."
"Kok barangnya masih ada di sini, Pak?" tanyaku heran.
"Orangnya nggak sadar kalau dia udah meninggal," jawab Bapak pelan. "Dia masih mikir dia lagi kemping di sini, nyari kawan atau nyari barangnya yang hilang."
Bapak lalu natap mataku serius kali. Wajah Bapak yang biasanya santai berubah keras.
"Ingat ya, Gus. Nanti malam puncak dinginnya. Mau ada yang manggil nama kau, mau ada yang pura-pura jadi suara Bapak, atau minta tolong apa pun dari luar tenda, pantang kali kau sahuti. Tahan mulutmu sampai jam 7 pagi besok. Kalau kau sahuti, dia mikir kau mau ajak dia ngobrol, dan dia bakal masuk."
Aku cuma ngangguk pelan, walau dalam hati makin takut.
Malam kedua, cuaca makin dingin. Rintik hujan mulai turun dari jam 10 malam, dibarengi angin kencang yang bikin kain luar tenda kami berkali-kali berkepak keras. Suara angin di antara pohon-pohon bambu gunung bikin suasana makin nggak enak.
Bapak udah nyuruh aku masuk ke kantong tidur dari jam 11 malam. Bapak sendiri duduk bersila di pojok tenda, megang tasbih, nggak tidur sama sekali.
Aku bolak-balik ngeliat jam di HP. Perasaanku makin nggak tenang. Jam 02.50... jam 03.00... jam 03.10...
Pas jam 03.14, angin kencang di luar langsung berhenti. Suara hujan yang tadinya berisik menghantam tenda juga hilang. Suasana sekitar jadi sepi banget, sampai suara nafasku sendiri kedengeran jelas.
Lalu, dug! Dug! Dug!
Ada yang menepuk kain tenda dari luar, tepat di bagian atas kepalaku.
"Gus... Bagus... Buka dulu pintunya, Nak. Bapak kedinginan di luar ini, hujan deras kali..."
Suara itu mirip kali sama suara Bapak. Nada bicaranya, cara panggil namanya, semuanya persis sama.
Aku langsung noleh ke arah tempat Bapak duduk. Bapak masih ada di sana, duduk kaku dengan muka pucat pasi. Bapak langsung nutup mulutku pakai tangan kanannya yang gemetaran, sementara tangan kirinya ngodein supaya aku merem.
Suara dari luar itu berubah lagi. Kali ini suaranya makin deket, kayak nempel di kain tenda depan pintu.
"Lae... jam berapa ini, Lae? Kenapa gelap kali? Jam berapa sekarang?!"
Suaranya mulai panik. Bukan cuma satu suara lagi, tapi kayak ada beberapa suara bersahutan di sekeliling tenda. Mereka mulai mukul-mukul kain tenda dari segala sisi. Kain tenda kami sampai melengkung ke dalam karena didorong dari luar.
"Tolonglah... aku mau pulang! Jam berapa ini?!"
Bau tanah basah sama bau busuk yang parah banget mulai kecium masuk lewat ventilasi tenda. Baunya kayak bangkai yang udah ditinggal lama di udara terbuka.
HP-ku di atas matras nyala sendiri. Layarnya kelap-kelip. Angka di layarnya tetap nunjukin 03.14, nggak jalan-jalan ke angka 03.15 walau rasanya udah belasan menit berlalu.
Sesuatu dari luar mulai meraba-raba bagian bawah tenda. Terus, dari celah kecil di bawah sleting pintu tenda yang kurang rapat, keluar jemari tangan yang kurus kering dengan kuku hitam kelam. Jemari itu ngeraba tanah di dalam tenda, makin lama makin maju mendekati kaki Bapak.
Tangan itu megang pergelangan kaki kanan Bapak.
Aku hampir aja berteriak karena ketakutan setengah mati. Tapi Bapak cepat-cepat menggelengkan kepala kencang. Muka Bapak nahan sakit yang luar biasa, sampai matanya terpejam rapat dan badannya gemetaran hebat. Kulit pergelangan kaki Bapak yang dipegang tangan itu kelihatan langsung membiru kemerahan, kayak kena es keras.
Bapak sama sekali nggak ngeluarin suara dari mulutnya. Beliau cuma gigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai berdarah, nahan supaya nggak menjerit atau ngomong sepatah kata pun.
Tangan kering itu terus meremas pergelangan kaki Bapak selama beberapa menit. Di luar, suara bisikan "Jam berapa sekarang? Tolong jawab..." terus kedengaran berputar-putar di atas tenda.
Rasanya itu menit paling panjang dalam hidupku.
Pas bayangan cahaya matahari samar-samar kelihatan dari celah kain tenda dan HP-ku akhirnya berubah angka jadi jam 06.15 pagi, genggaman tangan misterius di kaki Bapak langsung terlepas. Suara-suara di luar hilang gitu aja, berganti sama suara burung dan angin pagi yang wajar.
Begitu kondisi aman, aku langsung buka sleting tenda. Di luar nggak ada siapa-siapa. Tapi di tanah berlumpur sekitar tenda kami, ada bekas jejak kaki telanjang berputar-putar melingkari tenda puluhan kali.
Bapak jatuh terbaring di matras, napasnya ngos-ngosan. Kaki kanan Bapak dari pergelangan sampai ke betis warnanya berubah jadi kehitaman, dingin banget, dan nggak bisa digerakkan sama sekali.
Hari itu juga kami langsung kemas barang sebisanya dan turun gunung. Aku harus memapah Bapak sepanjang jalan turun yang memakan waktu hampir lima jam. Nggak ada obrolan apa-apa selama kami jalan turun, cuma fokus supaya selamat sampai ke bawah.
Kejadian itu udah lewat belasan tahun. Bapak selamat dan masih hidup sampai sekarang. Tapi ada harga mahal yang harus dibayar dari malam itu.
Kaki kanan Bapak nggak pernah bisa sembuh total. Dokter di Medan bilang itu cuma mati rasa saraf biasa gara-gara hipotermia, tapi kami berdua tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sampai sekarang, Bapak harus jalan pakai tongkat karena kaki kanannya lumpuh dan mengecil.
Dan sampai detik ini, setiap kali aku ketiduran dan terbangun tengah malam, kalau aku ketepatan ngeliat jam di layar HP nunjukin angka 03.14, dari arah luar jendela kamar selalu terdengar suara ketukan pelan di kaca, dibarengi suara bisikan serak yang sama persis kayak malam itu.
"Lae... jam berapa sekarang?"
Aku cuma bisa diam, narik selimut, dan menunggu sampai pagi datang.
Kamu baru saja membaca tentang Tenda Dua Orang di Lereng Sibayak Tahun 2010