Suara dari Pohon Cemara Miring di Pos 5 Bawakaraeng



Perkiraan waktu membaca Menit

Suara dari Pohon Cemara Miring di Pos 5 Bawakaraeng

Sekitar jam lima sore kurang lima belas menit, saya dan adik saya, Randi, baru sampai di tempat camp Pos 5 Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan. Kejadiannya hari Sabtu, pertengahan bulan lalu.

Kaki kami berdua sudah pegal sekali karena jalan dari jalur Lembanna sejak pagi. Udara di Pos 5 makin dingin, lalu kabut tebal mulai turun pelan-pelan dari arah puncak.

Saya sama Randi langsung bagi tugas. Saya pasang tenda oranye kami, sedangkan Randi ambil air dan menyiapkan kompor kecil di samping tenda.

Pas lagi rapi-rapi barang di dalam tenda, Randi ingat omongan bapak-bapak di basecamp Lembanna tadi pagi. Namanya Pak Baso, warga lokal yang biasa jaga bagian pendaftaran pendaki.

"Kak, kau ingat kan yang dibilang Pak Baso tadi pas di bawah?" tanya Randi sambil meletakkan botol air di sudut tenda.

"Yang mana?" balas saya.

"Itu, dia bilang kalau kita camp di Pos 5 ada pantangannya. Dari jam enam sore sampai jam enam pagi besok, jangan pernah sekali-kali lihat ke arah pohon cemara miring di semak-semak sebelah kiri tenda. Apapun suaranya dari sana, jangan ditengok."

Saya mengangguk saja. "Iya, saya ingat ji. Makanya pintu tenda saya hadapkan ke jalur bawah, bukan ke semak-semak itu. Sudah, tidak usah dipikirkan. Yang penting kita sopan di sini."

Jam setengah delapan malam, di luar sudah gelap sekali. Kabutnya tebal, jarak pandang cuma sekitar dua meter dari tenda. Kami berdua duduk di pintu tenda yang dibuka sedikit sambil masak mi instan dan minum kopi panas.

Pas saya lagi mengaduk mi di tempat masak, dari arah semak-semak sebelah kiri—arah pohon cemara miring itu—terdengar suara orang berbisik pelan. Suaranya serak dan berat, seperti orang haus.

"Tunggu ka'..."

Saya berhenti mengaduk mi. Randi ikut diam dan langsung melihat saya. Suara itu kedengaran jelas sekali di telinga kami, padahal malam itu cuma kami berdua yang camp di Pos 5. Tidak ada pendaki lain.

"Kau dengar ji itu, Kak?" bisik Randi. Mukanya pucat.

"Dengar. Sudah, diam saja ko. Jangan lihat ke kiri. Habiskan mi-mu, terus kita tidur," kata saya pelan.

Kami buru-buru menghabiskan makan dan menaruh alat masak di teras tenda. Pintu tenda langsung saya resleting rapat dari dalam, lalu kami masuk ke kantong tidur masing-masing.

Sekitar jam sepuluh kurang seperempat malam, angin bertiup kencang. Daun cemara bergesekan bikin suara bising. Di antara suara angin itu, terdengar bunyi ketukan di tanah yang makin dekat ke tenda.

Brak... brak... brak...

Bunyinya seperti langkah kaki berat yang diseret di atas tanah basah. Langkah itu mengelilingi tenda, lalu berhenti tepat di samping kiri tempat kepala Randi berbaring.

Suara serak itu terdengar lagi. Kali ini dekat sekali, cuma terhalang kain tenda.

"Tunggu ka'..."

Randi langsung bergeser mendekati saya. Badannya gemetaran. Tangannya memegang lengan jaket saya kencang sekali. Badannya dingin dan dia kelihatan takut sekali.

"Kak, persis di sampingku..." bisik Randi. Suaranya hampir menangis.

"Jangan bergerak, Ran. Tutup matamu. Ingat pantangan dari Pak Baso, jangan sekali-kali tengok ke sana mau ada suara apa pun," bisik saya ke telinganya.

Senter kepala sudah saya matikan dari tadi. Di dalam tenda gelap sekali. Kami cuma bisa mendengar suara napas kami sendiri.

Sesuatu di luar tenda mulai menggesek kain tenda kami. Bunyinya seperti kuku panjang yang digoreskan pelan dari atas ke bawah. sret... sret... sret...

Saya menahan napas sambil memegang tangan Randi kuat-kuat supaya dia tidak nekat buka pintu atau melihat ke luar. Itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya bayangan di luar itu bergerak pelan kembali ke arah semak-semak kiri.

Jam satu lewat lima belas menit subuh, saya sempat tertidur sebentar karena capek sekali. Saya terbangun karena udara di dalam tenda berubah dingin sekali. Uap napas saya sampai kelihatan saat kena lampu HP.

Saya cek jam di HP. Masih jam 01.15. Jam enam pagi masih lama.

Pas mau balik badan, suara itu terdengar lagi. Kali ini persis di atas atap tenda. Ada beban berat menimpa rangka tenda sampai melengkung ke bawah.

"Tunggu ka'..."

Suara itu tidak cuma serak, tapi ada bunyi desisan seperti cairan menetes di atas kain tenda. Bau busuk seperti bangkai ayam langsung masuk dari ventilasi atas tenda.

Randi terbangun dan panik. Karena kaget dan takut, dia refleks mengambil HP lalu menyalakan lampunya.

"Jangan nyalakan lampu, Ran!" kata saya pelan sambil berusaha merebut HP-nya.

Tapi sudah terlambat. Cahaya HP Randi menembus kain tenda yang tipis. Dari bayangan di luar, kelihatan bentuk kepala manusia besar dengan leher sangat panjang menempel di atap tenda, menunduk ke arah kami.

Randi tambah panik. Dia meraih resleting pintu tenda dan membukanya cepat-cepat.

"Jangan buka, Randi!" teriak saya sambil memegang ujung jaketnya.

Randi tidak dengar. Dia seperti orang bingung. Dia langsung keluar tenda sambil membawa HP yang lampunya masih menyala.

Saya mau keluar mengejarnya, tapi kaki saya kram dan lemas karena takut dan dingin. Saya cuma bisa merangkak menuju pintu tenda.

Jam empat kurang sepuluh subuh, kabut di luar makin tebal. Saya melihat Randi berdiri di luar tenda, jaraknya sekitar tiga meter dari saya.

Di depan Randi, dekat pohon cemara miring di semak sebelah kiri, ada sosok tinggi hitam berdiri diam. Mukanya tidak jelas, cuma ada dua lubang gelap di kepalanya.

Suara serak itu terdengar lagi dari sosok itu.

"Tunggu ka'..."

Saya berteriak sekuat tenaga dari pintu tenda, "Randi! Jangan lihat ke sana! Menghadap ke sini, Ran! Lihat saya!"

Tapi Randi sudah melanggar pantangan. Dia mendongak dan mengarahkan lampu HP-nya tepat ke muka sosok hitam di bawah pohon cemara miring itu.

Pas mata Randi menatap sosok itu, dia langsung berhenti bergerak. Tubuhnya kaku. HP di tangannya jatuh ke tanah.

Sosok tinggi itu melangkah maju sekali tanpa suara. Tangannya yang panjang dan kurus memegang bahu Randi dari belakang.

Kabut tebal langsung menutup pandangan saya. Saya cuma mendengar suara semak-semak bergoyang keras dan bunyi langkah kaki diseret yang menjauh cepat ke arah jurang di belakang pohon cemara miring.

Setelah itu, semuanya langsung sepi. Tidak ada suara angin, tidak ada suara jangkrik.

Saya cuma bisa diam di dalam tenda sambil gemetaran sampai jam enam pagi pas matahari terbit. Hari mulai terang dan kabut perlahan hilang.

Saya keluar dari tenda dengan kaki yang masih lemas. Saya lari ke arah pohon cemara miring di semak kiri untuk mencari adik saya.

Randi sudah tidak ada di sana.

Yang tersisa di tanah basah cuma HP Randi yang layarnya retak, sama sepasang sandal gunung milik Randi yang terlepas rapi di atas tanah.

Jam setengah tujuh pagi, saya lari turun gunung sendirian ke Lembanna tanpa membawa barang-barang camp. Saya melapor ke warga dan tim SAR setempat.

Pencarian dilakukan seminggu penuh di area Pos 5 sampai ke dasar jurang di sebelah kiri jalur. Tapi adik saya Randi tidak pernah ditemukan sampai hari ini.

Baru belakangan saya paham kenapa suara itu terus-terusan bilang "Tunggu ka'". Makhluk itu bukan cuma mau menakut-nakuti kami tiap jam di malam hari. Dia sengaja bikin kami panik supaya ada yang melanggar pantangan dan melihat matanya langsung.

Kalau kalian ada rencana naik gunung dan warga lokal memberi tahu aturan atau pantangan di situ, turuti saja sampai batas waktunya selesai. Jangan pernah sekali-kali meremehkannya.


Kamu baru saja membaca tentang Suara dari Pohon Cemara Miring di Pos 5 Bawakaraeng

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more