Jangan Sahut Panggilan Setelah Jam Sembilan



Perkiraan waktu membaca Menit

Jangan Sahut Panggilan Setelah Jam Sembilan

"Jangan pernah sahut kalau ada yang panggil namamu dari luar gedung setelah jam sembilan malam, siapa pun suaranya."

Saya masih ingat betul kata-kata itu. Yang bilang Pak Usman, penjaga tua di pesantren daerah Leihitu, Maluku Tengah. Kejadiannya pertengahan tahun 2010.

Waktu itu saya tinggal di kompleks pesantren buat bantu-bantu urus fasilitas dan mengajar santri. Pas liburan semester, semua santri pulang kampung. Asrama yang biasanya ramai langsung sepi banget.

Di saat bersamaan, kakak perempuan saya harus berangkat ke Tual ada urusan keluarga selama empat hari. Dia menitipkan anaknya ke saya. Nama keponakan saya Ican, umurnya baru delapan tahun.

Saya pikir gak bakal ada masalah. Gedung asrama memang besar dan sudah tua, tapi kan ada Pak Usman yang tinggal di rumah dinas dekat gerbang depan. Jarak rumahnya ke asrama cuma sekitar seratus meter.

Belakang gedung asrama kami berbatasan langsung sama kebun kelapa warga dan bukit kecil yang masih rimbun. Kalau malam sudah lewat jam delapan, luar gedung langsung gelap banget. Gak ada lampu jalan, cuma ada satu bohlam kuning di atas pintu belakang.

Pak Usman sempat ngobrol sebentar waktu sore pertama Ican datang.

"Kalau malam, kunci pintu depan sama belakang dari dalam. Jangan jalan sendiri-sendiri di lorong," kata Pak Usman sambil benerin posisi sarungnya.

"Kenapa memangnya, Pak?" tanya saya.

"Sudah, ikuti saja. Pokoknya kalau ada yang panggil nama dari luar pas malam, jangan pernah sahut sampai jam lima subuh," jawabnya singkat terus jalan pergi. Pak Usman memang tipe orang tua yang gak suka banyak omong.

Hari pertama lewat gitu aja. Siang sampai sore saya ajak Ican jalan-jalan ke pantai dekat desa. Anak itu senang sekali. Dia aktif banget dan suka cerita panjang lebar tentang apa aja yang dia lihat.

Malam pertama pun tiba. Jam delapan malam, saya sudah kunci semua pintu kayu yang mengarah ke luar. Saya dan Ican tidur di kamar pengurus di lantai bawah. Kamar itu punya satu jendela kaca yang menghadap ke samping, pas ke arah pohon-pohon kelapa.

Sekitar jam sepuluh malam, Ican sudah tidur nyenyak di kasur busa. Saya sendiri belum bisa tidur karena cuaca malam itu lumayan gerah. Saya keluar kamar sebentar mau ambil air minum di dapur kecil ujung lorong belakang.

Lorong asrama waktu itu cuma diterangi satu lampu redup di tengah. Langkah kaki saya berbunyi nyaring di atas lantai semen.

Pas saya sampai di dapur dan lagi tuang air dari teko ke gelas, terdengar bunyi aneh dari balik dinding dapur.

Krak... krak... krak...

Bunyinya kayak kayu kering yang dipatahkan pelan-pelan dari luar tembok.

Saya langsung berhenti. Gelas di tangan saya tahan.

Terus dari balik jendela dapur yang tertutup rapat, ada suara pelan. Suaranya serak dan datar, gak ada ekspresinya sama sekali.

"Buka pintu dulu..."

Saya langsung merinding. Suara itu jelas bukan suara Pak Usman, bukan juga suara warga desa. Suaranya gak kayak orang lagi minta tolong, tapi mirip orang membaca tulisan tanpa nada.

Saya ingat pesan Pak Usman. Saya pilih diam. Saya gak jawab sama sekali, bernapas pun saya tahan pelan-pelan.

Suara itu ngulang kalimat yang sama dengan tempo yang persis sama.

"Buka pintu dulu..."

Saya pelan-pelan mundur dari dapur. Langkah saya pelan banget supaya sandal gak berbunyi. Saya kembali ke kamar, langsung kunci pintu dari dalam, terus duduk di pinggir kasur sambil pegang dada.

Ican masih tidur. Saya lihat jam dinding, baru jam setengah sebelas malam. Masih lama banget menuju jam lima subuh.

Malam pertama itu saya hampir gak bisa tidur. Tiap ada angin kencang yang mukul daun kelapa di luar, saya langsung kaget dan deg-degan. Tapi untungnya, sampai matahari terbit jam enam pagi, gak ada bunyi apa-apa lagi.

Pagi harinya, suasana kembali normal. Matahari terang dan suara burung di kebun kelapa bikin rasa takut semalam agak berkurang. Ican bangun dengan ceria, minta dibuatkan teh manis sama mi goreng.

Saya sempat ketemu Pak Usman di dekat gerbang depan jam sembilan pagi. Dia lagi menyapu daun-daun kering.

"Pak, semalam ada orang jalan di belakang dapur?" tanya saya.

Pak Usman berhenti nyapu. Dia gak melihat ke arah saya, cuma memandang ke kebun kelapa di belakang gedung.

"Dia cuma cari teman bicara. Kalau tidak disahuti, dia tidak bisa masuk," kata Pak Usman singkat.

"Itu sebenarnya apa, Pak?" tanya saya lagi karena penasaran setengah mati.

"Jangan banyak tanya. Yang penting ingat, jangan sahut," jawab Pak Usman pendek lalu lanjut nyapu. Dia langsung membelakangi saya.

Jawaban pendek itu malah bikin saya makin kepikiran. Tapi saya berusaha biasa aja di depan Ican. Sepanjang hari itu saya temani Ican main kelereng di teras depan dan nonton TV di ruang tamu kompleks depan.

Masalah besar baru mulai pas malam kedua.

Malam itu cuaca berubah drastis sejak magrib. Angin laut bertiup kencang banget dan langit di atas Leihitu tertutup mendung tebal. Jam delapan malam, hujan deras turun sama angin kencang.

Listrik di sana langsung padam total. Suasana dalam asrama jadi gelap gulita. Saya cuma punya satu senter kecil dan dua lilin yang saya taruh di atas piring kecil dalam kamar.

Ican mulai takut. Dia gak mau jauh-jauh dari saya.

"Om, mati lampu sampai pagi kah?" tanya Ican sambil memegang pinggir baju saya.

"Gak kok, biasanya nanti menyala lagi. Sudah, duduk saja dekat lilin," kata saya mencoba menenangkan.

Sekitar jam sepuluh malam, angin di luar makin kencang. Suara atap seng asrama berderit-derit kena hantam angin. Hujan makin keras memukul kaca jendela kamar.

Lalu Ican bilang kalau perutnya sakit dan mau buang air kecil. Masalahnya, kamar mandi terpisah dari kamar kami. Harus lewat lorong samping yang panjang dan gelap.

Saya ambil senter, terus tuntun Ican jalan ke kamar mandi. Lilin di kamar sengaja saya biarkan tetap menyala. Suara langkah kaki kami terdengar jelas di tengah lorong yang sepi.

Pas Ican masuk ke kamar mandi dan kunci pintu dari dalam, saya berdiri menunggu di luar. Senter saya arahkan ke lantai lorong.

Tahu-tahu, dari ujung lorong tempat pintu samping gedung berada, terdengar bunyi yang sama kayak semalam.

Krak... krak... krak...

Bunyinya lebih nyaring dibanding malam pertama. Kali ini bukan dari balik tembok luar, tapi kayak ada yang lagi mengetuk kayu pintu samping dari luar.

Jantung saya rasanya mau copot. Saya sorotkan lampu senter ke arah lorong itu, tapi cuma ada kegelapan.

Dari arah pintu samping itu, terdengar suara bisikan lagi.

"Buka pintu dulu..."

Kali ini suaranya terasa lebih dekat. Dan yang bikin saya makin panik, suara itu pakai nada yang persis sama kayak suara saya sendiri.

Saya tutup mulut rapat-rapat. Saya ingat betul pesan Pak Usman: jangan pernah sahut sampai jam lima subuh.

Tapi pas saat itu juga, pintu kamar mandi di belakang saya terbuka sedikit. Ican ngintip dari celah pintu.

"Om? Om bicara deng siapa?" tanya Ican polos dengan suara lumayan keras.

Saya kaget setengah mati. Saya langsung balik badan dan menaruh jari telunjuk di bibir, kasih kode ke Ican supaya diam.

Tapi sudah terlambat. Ican sudah terlanjur bersuara.

Saat itu juga, bunyi ketukan di pintu samping langsung berhenti. Lorong jadi sepi banget. Suara hujan deras dan angin di luar bahkan kayak mendadak hilang.

Saya tarik tangan Ican keluar dari kamar mandi, terus kami lari cepat kembali ke kamar tidur. Saya kunci pintu kamar rapat-rapat dan menggeser lemari kayu kecil buat mengganjal pintu.

Ican mulai menangis ketakutan karena melihat muka saya pucat dan panik.

"Om, kenapa? Ican takut..." bisik Ican sambil terisak.

"Diam, Ican. Jangan bicara sama sekali. Apa pun yang Ican dengar di luar, jangan bicara," kata saya tegas sambil memeluk bahunya.

Kami berdua duduk meringkuk di atas kasur dekat lilin yang apinya bergoyang-goyang kena angin dari celah jendela. Saya lirik jam tangan. Baru jam sebelas malam. Masih ada enam jam lagi menuju subuh.

Gak sampai lima menit kemudian, dari balik pintu kamar kami yang terganjal lemari, terdengar bunyi gesekan keras.

Krak... krak... krak...

Kali ini bunyinya bukan di luar gedung lagi. Sesuatu itu sudah ada di dalam lorong asrama, persis di depan pintu kamar kami.

Suara dari balik pintu terdengar lagi.

"Buka pintu dulu..."

Suara itu kali ini pakai suara Ican. Nadanya persis kayak suara keponakan saya waktu menangis dan minta tolong.

"Om, buka pintu dulu... Ican di luar..."

Ican yang ada di samping saya langsung melotot kaget. Dia mendengar suaranya sendiri muncul dari luar pintu kamar. Ican mau buka mulut buat teriak, tapi cepat-cepat saya bekap mulutnya pakai telapak tangan.

"Jangan sahut," bisik saya pas di telinganya.

Di luar pintu, bunyi ketukan dan suara itu terus bergantian muncul.

Krak... krak... krak...

"Buka pintu dulu..."

Suaranya berubah-ubah. Kadang pakai suara saya, kadang suara Ican, kadang suara Pak Usman, terus kembali lagi ke suara serak tanpa nada yang pertama kali saya dengar di dapur.

Sesuatu di balik pintu mulai mendorong pintu kamar kami. Lemari kayu pengganjal berderit keras. Engsel pintu atas mulai merenggang pelan-pelan.

Cahaya senter yang saya pegang mulai redup karena baterainya habis. Lilin di piring tinggal menyisakan batang kecil yang hampir mati.

Saya peluk Ican makin erat. Badan anak delapan tahun itu gemetaran hebat dalam dekapan saya. Tangan saya tetap membekap mulutnya rapat-rapat supaya gak ada satu kata pun yang keluar.

Waktu terasa jalan lambat banget. Pintu kamar didorong makin keras. Bau lumpur basah sama bau kayu lapuk mulai tercium masuk dari celah bawah pintu.

"Buka pintu dulu..."

Suara itu makin nyaring, gak lagi berbisik. Kedengaran jelas di sepanjang lorong yang gelap itu.

Jam tiga pagi, engsel atas pintu kamar patah dengan suara keras. Pintu kayu itu miring beberapa sentimeter. Lewat celah atas pintu yang terbuka sedikit, saya bisa melihat sesuatu yang bikin saya merinding setengah mati.

Di balik lorong yang gelap, ada sosok tinggi kurus bersandar di pintu. Tingginya hampir kena plafon lorong. Warnanya hitam kelam, gak kelihatan pakai baju atau punya kulit. Wajahnya gak berwujud sempurna, cuma ada dua celah gelap di bagian mata dan satu lubang memanjang di bagian mulut.

Makhluk itu gak merusak pintu secara paksa sampai hancur. Dia cuma terus mendorong pelan-pelan sambil mengulang kata-kata yang sama. Dia menunggu salah satu dari kami menjawab panggilannya.

Kalau kami menyahut, pintu itu pasti langsung terbuka lebar.

Saya terus tahan napas dan menggigit bibir sendiri sampai terasa asin darah. Saya tatap mata Ican yang penuh air mata. Saya bisikkan kata "tahan" tanpa bersuara.

Krak... krak... krak...

"Buka pintu dulu..."

Makhluk itu terus mengulangnya berulang kali di depan pintu yang miring itu. Setiap kali tangannya yang panjang dan kurus menyentuh kayu pintu, hawa dingin terasa makin jelas di dalam ruangan.

Lilin di atas piring akhirnya padam total jam empat subuh. Kamar jadi gelap gulita. Cuma ada sisa cahaya samar dari celah jendela luar yang mulai agak terang.

Jam empat lewat empat puluh lima menit, suara azan subuh pertama dari toa masjid desa terdengar samar-samar dari kejauhan.

Begitu suara azan berkumandang, ketukan di pintu langsung berhenti.

Bunyi krak... krak... krak... yang ada sejak tengah malam hilang gitu aja.

Suara "Buka pintu dulu..." juga gak terdengar lagi.

Saya tetap menahan posisi memeluk Ican dan membekap mulutnya sampai jarum jam tangan menunjukkan jam lima lewat sepuluh menit. Suara ayam jantan dekat rumah Pak Usman mulai kedengaran ramain.

Cahaya pagi mulai masuk lewat celah jendela.

Saya pelan-pelan melepaskan bekapan tangan dari mulut Ican. Napas saya terengah-engah. Seluruh baju saya basah kuyup kena keringat dingin.

Saya berdiri dengan kaki gemetaran terus menyingkirkan lemari pengganjal. Pintu kamar yang miring saya dorong pelan-pelan ke luar.

Di lorong asrama sudah gak ada siapa-siapa. Cuma ada bekas genangan air berlumpur kehitaman di depan pintu kamar kami dan beberapa goresan dalam di kayu pintu.

Saya kembali ke kamar mau mengajak Ican keluar dari gedung. Tapi pas saya panggil namanya, Ican cuma diam melihat saya.

"Ican, ayo keluar. Sudah pagi," kata saya sambil memegang tangannya.

Ican membuka mulutnya. Dia mencoba bicara, tapi gak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Cuma ada hembusan angin pelan dari bibirnya.

Saya kaget luar biasa. "Ican? Bicara, Can!"

Ican mulai menangis tanpa suara. Dia menunjuk-nunjuk tenggorokannya sendiri dengan muka ketakutan.

Pagi itu juga saya bawa Ican ke puskesmas terdekat. Dokter yang memeriksa bilang gak ada masalah fisik sama sekali di pita suara atau tenggorokan Ican. Semua organ tubuhnya sehat.

Tapi sampai hari ini, Ican gak pernah bisa mengeluarkan suaranya lagi.

Pak Usman yang datang ke puskesmas siang harinya cuma berdiri di samping tempat tidur Ican. Dia melihat ke keponakan saya sebentar, terus menepuk bahu saya pelan.

"Suara anak ini sudah diambil. Karena dia sempat sahut pas malam," kata Pak Usman pelan.

"Bisa kembali lagi gak, Pak?" tanya saya dengan suara bergetar.

Pak Usman cuma menggelengkan kepala dua kali terus jalan keluar tanpa omong apa-apa lagi.

Kejadian itu sudah berlalu belasan tahun lalu. Sekarang Ican sudah tumbuh jadi pemuda dewasa. Dia menjalani hidupnya dengan normal, tapi dia tetap bisu total sampai sekarang.

Kalau kalian lagi menginap di tempat sepi atau gedung tua di mana pun, terus malam hari dengar suara ketukan tiga kali disusul orang memanggil namamu dari luar pintu... tahan mulutmu rapat-rapat.

Jangan sekali-kali menyahut sebelum matahari benar-benar terbit. Karena kalau kamu menyahut sekali saja, kamu gak pernah tahu apa yang bakal hilang dari dirimu besok harinya.


Kamu baru saja membaca tentang Jangan Sahut Panggilan Setelah Jam Sembilan

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more