Rekaman Sisa Kepala



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit


Bau belerang dari kubangan lumpur panas di belakang pabrik selalu melekat di seragam kerja Rudi. Bukan minyak atau oli, melainkan aroma telur busuk yang menguap setiap kali matahari sore terpanggang di atas genteng seng pabrik batu bata merah di pinggiran Wonosobo itu. Rudi bukan buruh yang rajin, tapi ia yang paling telaten merawat mesin pencampur tanah liat—sebuah silinder besi tua berkarat yang giginya kerap rontok jika tercampur batu kali.

Sore itu, pukul setengah lima, Rudi berdiri di dekat bak penampungan air sambil menggulung selang plastik hijau. Langit di atas Gunung Sindoro sudah berubah warna menjadi kelabu tembaga, pertanda hujan deras akan turun membawa angin kutukan khas dataran tinggi. Di dekatnya, Pak Sastro, mandor paruh baya yang pincang sebelah, sedang sibuk menghitung tumpukan bata mentah yang baru dijemur.

"Jangan lama-lama gulung selang, Rud. Sebentar lagi kabut turun dari lereng. Kalau sudah tertutup kabut putih, jalur ke jalan raya kelihatan sama semua," seru Pak Sastro tanpa menoleh, suaranya parau karena bertahun-tahun menghirup debu tanah liat.

"Bentar, Pak. Ini kran di sudut macet lagi. Ketahan kerak kapur," jawab Rudi, menarik tuas besi keran air dengan sekuat tenaga.

Kran itu berdesis, menyemburkan air kecokelatan yang berbau tanah basah. Di saat bersamaan, Rudi melihat sesuatu yang ganjil di dalam kubangan lumpur tempat pembuangan sisa adukan, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Sebuah benda lonjong berwarna abu-abu kusam menyembul di antara endapan lumpur pekat. Awalnya ia mengira itu adalah bongkahan batu cadas yang gagal hancur oleh mesin giling. Namun, ketika ia mendekat dan menyipitkan mata di tengah temaram senja, benda itu memiliki kontur yang terlalu halus untuk ukuran batu.

Rudi melangkah lebih dekat, mengabaikan cipratan lumpur dingin yang mengenai celana jinsnya. Dengan ujung sebatang kayu bambu, ia mencungkil benda tersebut.

*Plup.*

Benda itu terangkat dari isapan lumpur. Rudi terhuyung mundur, nyaris terpeleset.

Itu bukan batu. Itu adalah sebuah kepala manusia yang terbuat dari tanah liat yang telah dibakar setengah matang, namun dilapisi oleh kulit asli yang mengering dan menguning seperti perkamen tua. Matanya tidak ada, hanya menyisakan dua rongga kosong yang dipenuhi oleh jentik-jentik air keruh. Yang membuat perut Rudi mual seketika adalah kabel-kabel tembaga tipis yang mencuat keluar dari bagian lehernya, terhubung ke sebuah potongan kecil papan sirkuit elektronik yang berkarat.

"Pak Sastro..." bisik Rudi, tenggorokannya mendadak kering.

Mandor tua itu menoleh. Ketika melihat apa yang dipegang Rudi di ujung bambu, wajah Pak Sastro yang biasanya tenang mendadak pucat pasi. Ia tidak berteriak, tidak pula terkejut dengan cara orang kota melihat mayat. Pak Sastro hanya mematikan sebatang rokok kretek di telapak tangannya sendiri tanpa merasa sakit, lalu membuang puntungnya ke tanah.

"Sudah kubilang, jangan korek-korek lumpur hilir pabrik ini," suara Pak Sastro bergetar pelan, sarat akan kemarahan yang tertahan. "Itu sisa-sisa proyek pelebaran jalan sepuluh tahun lalu. Sebelum pabrik ini dibangun di atas bekas rawa."

"Apa ini, Pak? Kenapa ada kabelnya?" Rudi menelan ludah, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin sore yang mulai menderu-deru di antara rumpun bambu.

"Itu rekaman, Rudi," ujar Pak Sastro sambil melangkah pincang mendekati Rudi. "Dulu, sebelum alat perekam suara digital murah, mandor lama suka memasang mikrofon di dalam tengkorak pekerja yang sering protes soal upah. Biar suara mereka tetap hidup di dalam mesin penggiling tanah, konon katanya biar mesinnya tidak rewel."

Rudi menatap kepala tanah liat itu lagi. Di bawah cahaya temaram, rongga mata yang kosong itu tampak berkedut kecil, seolah cairan di dalamnya mendidih perlahan. Dari dalam tengkorak itu, terdengar suara berkeretak pelan—suara gesekan jarum gramofon tua yang menimpa piringan hitam yang retak.

Malam turun dengan cepat. Hujan gerimis yang membawa hawa dingin menusuk tulang mulai turun membasahi atap seng pabrik. Pak Sastro memaksa Rudi memasukkan kepala tanah liat itu ke dalam karung goni dan menyimpannya di ruang kontrol mesin utama.

"Nanti malam giliranku jaga malam," kata Pak Sastro dengan nada datar yang tidak bisa dibantah. "Kamu pulang saja lewat jalan atas. Jangan menoleh ke belakang kalau dengar suara gilingan tanah berputar sendiri. Padahal mesinnya tidak ada aliran listrik."

Rudi tidak berani membantah. Ia mengambil sepedanya dan langsung menggenjotnya meninggalkan area pabrik. Udara Wonosobo malam itu begitu pekat oleh kabut putih tebal hingga lampu senter sepedanya hanya mampu menyorot jarak satu meter di depan ban.

Namun, baru sekitar setengah kilometer ia menjauhi gerbang pabrik, suara itu mulai terdengar.

Bukan suara hantu merintih atau ketukan di jendela. Itu adalah suara gesekan logam berat bercampur suara manusia yang sedang berteriak kesakitan di dalam corong penggilingan tanah. Suara itu berasal dari dalam tas ransel di punggungnya. Rudi menghentikan sepedanya dengan kasar di pinggir jalan raya yang sepi. Ia menjatuhkan sepeda tuanya ke semak-semak, lalu membuka ritsleting ransel dengan tangan yang gemetar hebat.

Di dalam tasnya, di antara jas hujan plastik dan botol air mineral, karung goni yang tadi ia tinggalkan di ruang kontrol kini berada di dalam tasnya. Karung itu bergerak-gerak sendiri, menggeliat seperti memiliki nyawa.

Rudi mundur teratur hingga punggungnya membentur pohon mahoni besar. Dari dalam karung goni, bau belerang semakin menyengat, bercampur dengan bau tanah liat basah yang panas. Perlahan-lahan, ikatan tali karung terlepas sendiri.

Kepala tanah liat itu menggelinding keluar dari tas, jatuh ke atas aspal basah. Rongga matanya kini memancarkan cahaya merah kekuningan yang meredup, mirip bola lampu pijar tua yang hampir putus. Dari bagian lehernya yang dipenuhi kabel tembaga, terdengar suara serak yang memanggil namanya dengan jelas, meniru suara Pak Sastro, namun terdengar berlapis-lapis seolah diucapkan oleh puluhan orang sekaligus.

"Rudi... tanahnya kurang air... masukkan kepalamu ke corong... biar adukannya rata..."

Rudi tidak bisa berlari. Kakinya terasa terpaku di atas tanah basah, seolah akar-akar pohon mahoni di belakangnya telah mencengkeram pergelangan kakinya. Di kejauhan, melalui kabut tebal yang menyelimuti jalanan desa, ia melihat siluet Pak Sastro berjalan pincang mendekatinya sambil membawa sekop besar yang biasa digunakan untuk mencangkul tanah liat.

Mandor itu tersenyum tipis di balik kegelapan malam, sementara kepala di bawah kaki Rudi terus berputar sendiri, merekam setiap detak jantung terakhir yang berdegup kencang di dada pemuda itu.


Kamu baru saja membaca tentang Rekaman Sisa Kepala

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more