Peristiwa Mencekam di Balik Nama Kemamang dan Pelarian Aktivis Bawah Tanah
Peristiwa Mencekam di Balik Nama Kemamang dan Pelarian Aktivis Bawah Tanah
Perkiraan waktu membaca Menit
EditKalau mendengar nama Kemamang, sebagian orang mungkin langsung kepikiran cerita-cerita misterius. Tapi dalam sejarah pergerakan di Indonesia, nama ini justru melekat pada sosok Safi'i Kemamang. Pemuda asal Lamongan, Jawa Timur ini adalah seorang aktivis yang pernah diculik pas zaman Orde Baru. Dia berani menggalang kekuatan buruh dan mahasiswa, sampai akhirnya jadi buronan aparat keamanan dan harus bersembunyi di bawah tanah. Pengalaman nekatnya loncat dari mobil yang jalan ngebut dan sembunyi di kebun tebu jadi awal mula lahirnya lagu perlawanan yang sangat terkenal.
Kisah dan Versi Cerita
Safi'i Kemamang punya nama asli Arifin. Dia lahir tanggal 5 Juni 1976 di Lamongan dan tumbuh di keluarga petani miskin. Kakek, nenek, bapak, dan ibunya semua kerja menggarap sawah. Bapaknya bernama Mustofa, sedangkan ibunya Siti Karmiati. Safi'i cuma punya satu saudara, yaitu seorang kakak perempuan.
Dari kecil, Safi'i memang sudah tertarik sama dunia politik dan isu-isu dunia. Awal mulanya dia ikut pergerakan itu pas sekolah di STM Negeri Tuban. Di sekolahnya, dia nemuin ada indikasi korupsi yang dilakukan sama kepala sekolah. Safi'i nggak tinggal diam. Dia sama teman-temannya Bikin aksi demo buat protes. Unjuk rasa ini nggak cuma sekali, tapi sampai tiga kali dalam setahun. Pas masa sekolah di STM ini juga, dia baru belajar main gitar dan sering main ke Pasar Blauran di Surabaya buat berburu buku bekas. Salah satu yang dia beli itu buku karya Sukarno yang judulnya Di Bawah Bendera Revolusi.
Melihat hidup keluarganya yang makin susah sebagai petani, Safi'i dan keluarganya memutuskan merantau ke Surabaya. Di kota industri ini, dia melihat langsung kehidupan rakyat. Dari situ dia menyimpulkan ada empat kelompok yang paling dirugikan sama kebijakan pemerintah saat itu: buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Niatnya ikut pergerakan makin kuat waktu dia kuliah di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya. Dia lalu bergabung ke Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD), organisasi pro-demokrasi yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.
Selain kuliah, Safi'i kerja jadi buruh pabrik di Surabaya dan aktif di serikat pekerja. Pengalamannya di lapangan bikin dia dipercaya jadi koordinator aksi buruh. Tanggal 2 Juli 1996, beberapa hari sebelum rencana mogok kerja, Safi'i kumpulin para pekerja. Mereka membahas kenaikan harga bahan pokok dan mengatur strategi buat demo.
Malam harinya, setelah selesai menyiapkan rencana mogok pabrik, nasib sial menimpanya. Pas jalan pulang, Safi'i diculik sekelompok orang yang diduga kuat anggota militer ABRI dari Bakorstanasda Jawa Timur. Dia dimasukkan ke mobil yang jalan ngebut ke arah Mojokerto. Tahu nyawanya terancam dan bisa saja dihilangkan atau dibunuh, Safi'i nekat. Dia dobrak pintu lalu loncat keluar dari mobil yang lagi jalan kencang itu.
Tubuhnya terseret di aspal sampai luka-luka parah di sekujur badan. Sambil menahan sakit, dia merayap masuk ke kebun tebu yang gelap buat sembunyi dari kejaran petugas. Di dalam kebun tebu, Safi'i bertahan hidup dengan minum air kotor dari bekas jejak kaki sapi. Dia tahu kalau sampai ditangkap militer akibatnya bisa fatal. Akhirnya dia merayap keluar dan minta perlindungan ke Markas Polda Jawa Timur di Surabaya, tempat beberapa aktivis lain sedang ditahan.
Setelah kejadian penculikan itu, tanggal 8 Juli 1996, Safi'i disarankan lepas jabatan sebagai pimpinan buruh. Dia diminta bergerak sepenuhnya di bawah tanah demi keselamatan nyawanya. Keadaan makin gawat setelah pecah peristiwa Kudatuli tanggal 27 Juli 1996 di Jakarta. Pemerintah Orde Baru menuduh PRD sebagai dalang kerusuhan dan mengaitkannya dengan PKI. Anggota PRD diburu, ditangkap, disiksa, dan diculik tanpa kabar.
Bulan November 1996, waktu lagi memulihkan lukanya di Lamongan, Safi'i menulis beberapa lagu perlawanan dari tempat persembunyian. Salah satu lagu yang dia buat judulnya Pembebasan. Karena nggak pegang gitar pas sembunyi, dia bikin nada lagunya cuma pakai ketukan tangan dan suara dari mulutnya. Lagu ini dibuat buat memberi semangat dan menyatukan buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota.
Di sisi lain, cerita soal nama Kemamang punya catatan versi lain di seberang lautan. Di Malaysia, ada daerah bernama Daerah Kemaman, atau sering disebut Kemamang oleh warga lokal Terengganu. Menurut sejarahnya, kawasan ini sudah dikenal sejak abad ke-2 Sebelum Masehi dengan nama Kole di peta astronom Yunani, Ptolemy. Legenda setempat mencatat daerah Kemamang di Terengganu ini mulai dibuka sekitar 300 tahun lalu oleh Che Wan Teh, seorang bangsawan asal Pahang yang kabur gara-gara ada kekacauan di daerah asalnya.
Che Wan Teh awal mulanya membuka permukiman di Bukit Mengkuang sebelum pindah ke Tanjung Geliga di muara Sungai Kemaman. Tapi Tanjung Geliga juga nggak aman karena sering diserang bajak laut dan perampok. Akhirnya Che Wan Teh dan pengikutnya pindah lagi sejauh 3 kilometer ke tepi sungai dan mendirikan desa yang belakangan dinamai Chukai. Ada juga versi tulisan lain yang menghubungkan pembukaan daerah Kemamang ini dengan seorang bangsawan asal Pattani bernama Lebai Saras pada abad ke-19, pas masa pemerintahan Sultan Ahmad Shah I.
Pantangan dan Kepercayaan
Di zaman Orde Baru, terutama setelah peristiwa Kudatuli tahun 1996, menyanyikan lagu atau menyimpan barang yang berhubungan dengan PRD dan lagu Pembebasan karya Safi'i Kemamang dianggap sangat berbahaya. Ada ketakutan besar di tengah masyarakat. Orang-orang percaya kalau menyebut nama organisasi itu atau menyanyikan lagunya bisa berujung ditangkap petugas secara asal-asalan. Masyarakat saat itu percaya siapa pun yang ikut pergerakan bakal dituduh pengikut paham terlarang, ditangkap tanpa proses hukum yang jelas, atau dihilangkan begitu saja.
Ketakutan ini bikin para aktivis harus pegang aturan ketat: jangan pernah bocorkan identitas asli maupun lokasi persembunyian. Gerakan bawah tanah dilakukan sangat rahasia. Para kader harus bolak-balik ganti nama samaran dan membatasi komunikasi sama orang luar supaya tidak tercium intelijen Bakorstanasda.
Sementara itu, di Daerah Kemaman atau Kemamang di Terengganu, warga pesisir zaman dulu punya kebiasaan mengumpulkan dan makan telur penyu hijau serta penyu sisik yang bertelur di pantai. Kebiasaan makan telur penyu ini dianggap tradisi hasil laut biasa, tapi dampaknya buruk buat lingkungan. Gara-gara terus diambil, penyu-penyu itu akhirnya punah secara lokal di sana pada tahun 2004. Akhirnya dibuat aturan ketat yang melarang pengambilan telur penyu dan didirikan pusat konservasi di Pantai Ma'Daerah.
Fakta dan Penjelasan
Kalau melihat fakta sejarahnya, Safi'i Kemamang itu memang orang beneran bernama asli Arifin yang lahir dari keluarga petani miskin di Lamongan. Lagu Pembebasan yang dia buat di tempat sembunyi pada akhir tahun 1996 belakangan jadi sangat populer di Indonesia. Setelah masa Reformasi, grup musik anarcho-punk asal Jakarta, Marjinal, merekam ulang lagu itu pada tahun 2000-an dengan judul Buruh Tani. Makanya banyak orang salah kaprah dan mengira Buruh Tani itu lagunya Marjinal, padahal pencipta aslinya Safi'i Kemamang pas lagi kabur dan bersembunyi.
Lagu Buruh Tani sekarang jadi lagu wajib perlawanan yang selalu dinyanyikan pas aksi demo mahasiswa, buruh, dan organisasi pro-demokrasi di Indonesia. Liriknya menggambarkan empat kelompok masyarakat yang diamati Safi'i pas tinggal di Surabaya: buruh, tani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota.
Soal Daerah Kemaman atau Kemamang di Terengganu, daerah ini secara peta memang kawasan terbesar ketiga di Negeri Terengganu, Malaysia. Pusat pemerintahannya ada di Kota Chukai. Penemuan ladang minyak lepas pantai oleh Petronas pada tahun 1970-an mengubah ekonomi daerah sana. Yang tadinya cuma mengandalkan pertanian dan perikanan tradisional, berubah jadi pusat industri minyak, gas, dan baja. Industri perikanan tradisionalnya yang terkenal seperti pembuatan ikan asin dan teri dirintis oleh pengusaha Tionghoa bernama Soh Huat Keh, dan hasilnya diekspor sampai ke Singapura. Selain industri, daerah ini punya Taman Rekreasi dan Mini Zoo Bukit Takal serta Suaka Penyu Ma'Daerah yang dikelola bersama oleh Dinas Perikanan Malaysia, BP, dan WWF Malaysia.
Perjalanan hidup Safi'i Kemamang memberi gambaran betapa beratnya masa-masa pergerakan bawah tanah di zaman Orde Baru. Keberaniannya bertahan hidup di tengah ancaman penculikan sudah melahirkan karya besar yang terus dinyanyikan di jalanan sampai hari ini.
Referensi: Wikipedia: Buruh Tani, Wikipedia: Kemaman District, Wikipedia: Safi’i Kemamang, Wikipedia: Kemamang, Balen, Bojonegoro
Kamu baru saja membaca tentang Peristiwa Mencekam di Balik Nama Kemamang dan Pelarian Aktivis Bawah Tanah
