Panggilan di Gang Kebun Tahun 1997
Panggilan di Gang Kebun Tahun 1997
Perkiraan waktu membaca Menit
EditGue mau cerita kejadian nyata yang gue alami sendiri akhir tahun 1997. Waktu itu gue sama keluarga tinggal di Ciganjur, daerah pinggiran Jakarta. Tempat tinggal gue dulu belum rame kayak sekarang. Masih banyak kebun pisang, pohon bambu, sama tanah kosong yang jarak antar rumahnya lumayan jauh.
Lampu jalan juga masih jarang. Cuma ada bohlam kuning 25 watt yang dipasang warga di tiang kayu tiap 50 meter. Jadi kalau udah lewat jam sembilan malam, jalanan langsung gelap dan sepi.
Umur gue waktu itu 19 tahun. Gue tinggal berdua sama ibu. Bapak udah meninggal pas gue umur 12 tahun karena sakit. Dari kecil, ibu selalu wanti-wanti satu hal tiap kali gue mau keluar malam.
"Hendra, kalau kamu jalan malam terus ada suara yang nyebut nama kamu dari jalan atau semak-semak, jangan pernah kamu sahutin. Mau suaranya mirip suara Ibu, suara bapakmu, atau suara temenmu, diam aja. Jangan nengok, jangan dijawab. Jalan terus," kata ibu.
Kata ibu, kalau kita nyahut pas dipanggil mahluk halus di malam hari, itu sama aja kita ngasih izin atau ngundang mereka buat ngikutin sampai ke rumah. Dulu gue pikir ibu cuma nakut-nakutin biar gue nggak keluyuran malam-malam. Gue ngangguk-ngangguk aja biar ibu nggak ngoceh panjang lebar.
Kejadiannya pas Sabtu malam di bulan November 1997. Jam sembilan malam gue main ke rumah temen sekolah gue, Budi. Rumah Budi jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah gue. Di sana kita main Super Nintendo, dengerin radio, terus ngobrol sampai nggak sadar jam dinding udah nunjukin jam 11:15 malam.
"Ndra, udah malam banget nih. Nginep sini aja kenapa, besok kan libur," kata Budi pas ngeliat gue siap-siap mau pakai jaket.
"Nggak usah, Bud. Besok pagi jam enam gue udah janji mau anterin nyokap belanja ke pasar naik angkot. Ntar nyokap ngomel seharian kalau gue nginep," jawab gue.
"Yaudah, hati-hati lu. Lewat Gang Kebun kan? Lampu dekat bambu-bambu lagi mati tuh dari kemarin," Budi ngingetin sambil nganterin gue ke pintu depan.
Gue cuma senyum terus nepuk bahu Budi. Gue bawa senter plastik kuning yang isinya dua baterai besar. Cahayanya agak redup, tapi cukuplah buat nembus jalanan tanah yang gelap.
Gue keluar dari rumah Budi sekitar jam 11:20 malam. Jalanan sepi banget. Nggak ada satu pun motor atau sepeda yang lewat. Suara yang kedengeran cuma jangkrik sama kodok dari arah selokan. Angin malam berembus lumayan kencang, bikin daun pisang di pinggir jalan bergesekan kasar.
Buat sampai ke rumah, gue harus lewat jalan setapak sepanjang 300 meter yang kanan kirinya kebun pisang rapat sama pohon bambu. Warga sekitar biasa nyebutnya Gang Kebun. Di tengah gang itu ada rumah tua kosong yang atapnya udah mau ambruk dan pintunya terlepas dari engsel.
Gue jalan santai sambil megang senter. Sepatu kets Bata yang gue pakai bunyi berderit tiap kali nginjak kerikil dan tanah keras.
Pas gue udah masuk pertengahan Gang Kebun, kira-kira jam 11:30 malam, pas banget di dekat kelompok pohon bambu yang lampunya mati, perasaan gue mulai nggak enak.
Langkah kaki gue yang tadinya cuma sendiri, malah kedengeran kayak ada dua orang. Ada bunyi langkah kaki lain di belakang gue dengan jarak sekitar lima meter. Bunyinya ngikutin irama langkah gue. Pas gue berhenti buat mastiin, suara langkah di belakang itu juga langsung berhenti.
Gue memutar badan terus nyorotin senter ke arah belakang. Nggak ada siapa-siapa. Cuma jalanan tanah kosong dan bayangan pohon pisang yang goyang pelan.
"Ah, perasaan gue doang kali," bisik gue. Gue coba nenangin diri sendiri.
Gue balik badan lagi dan lanjut jalan sambil mempercepat langkah. Tapi baru jalan sekitar sepuluh meter, ada suara bisikan dari arah semak-semak.
"Ndra... Hendra..."
Suara itu pelan dan serak. Datangnya dari semak pisang di sebelah kiri gue. Suaranya agak berat dan napasnya ngos-ngosan, kayak orang habis lari jauh.
Tangan dan leher gue langsung merinding. Gue kaget setengah mati. Kata-kata ibu langsung teringat jelas di kepala: Jangan pernah kamu sahutin. Jangan nengok, jangan dijawab.
Gue bungkam rapat-rapat. Gue memandang lurus ke depan dan nahan diri biar nggak nengok ke kiri. Tangan gue yang megang senter gemetaran sampai sorot cahayanya goyang-goyang di tanah.
"Hendra... tunggu dulu, Ndra..."
Suara itu kedengeran lagi. Kali ini suaranya bergeser ke sebelah kanan gue. Yang bikin gue makin takut, suaranya makin jelas dan dekat banget, kayak ada orang yang jalan persis di samping gue.
Gue coba ngelirik dikit pakai sudut mata tanpa mutar kepala. Di sebelah kanan gue, ada bayangan hitam tinggi pakai jaket kain warna cokelat tua. Bayangan itu jalan sejajar sama gue, tapi kepalanya menunduk dalam-dalam ke arah tanah.
Gue makin panik. Keringat dingin keluar di jidat sama leher. Gue nggak kuat lagi nahan takut, jadi gue langsung lari sekuat tenaga.
"Ndra! Buka mata lu, Ndra! Berhenti dulu!"
Suara itu makin kencang dan berubah jadi teriakan manggil nama gue. Suaranya kedengeran keras banget di telinga kanan gue, padahal gue udah lari kencang. Langkah kaki di belakang gue juga ikut lari, ngejar gue dengan bunyi kerikil bersahutan yang berisik banget.
Gue lari tanpa berani nengok ke belakang sedikit pun. Senter di tangan gue sempat terlepas dan jatuh ke tanah karena telapak tangan gue basah oleh keringat, tapi gue nggak peduli. Gue terus lari dalam gelap sampai akhirnya melihat ujung gang dan cahaya lampu teras rumah gue.
Gue dorong pagar besi rumah yang berkarat sampai berbunyi nyaring. Gue loncat ke teras, buka kunci pintu depan pakai kunci di kantong celana, terus secepat mungkin masuk ke dalam rumah.
Brak!
Gue tutup pintu kayu itu dan langsung menguncinya dari dalam. Grendel atas dan bawah gue pasang semua. Gue menyandarkan badan di balik pintu sambil ngos-ngosan. Dada gue rasanya sesak banget. Jam dinding di ruang tamu nunjukin jam 11:42 malam.
Di luar, suasana langsung sepi. Nggak ada suara langkah kaki lagi. Nggak ada suara teriakan lagi.
Gue menghela napas lega. Gue merasa menang karena berhasil menahan diri buat nggak nyahut atau menjawab panggilan itu, persis kayak pesan ibu.
Tapi perasaan tenang itu cuma bertahan beberapa detik.
Dari arah jendela kamar tidur gue yang menghadap ke gang samping rumah, kedengeran suara ketukan pelan.
Tok... tok... tok...
Terus disusul suara goresan di kaca jendela. Suaranya bikin ngilu banget di telinga.
Gue pelan-pelan jalan ke kamar tidur ibu. Kaki gue gemetaran. Ibu ternyata udah bangun dan berdiri di dekat pintu kamarnya. Muka ibu kelihatan pucat banget di bawah lampu neon yang remang-remang.
"Ibu dengar kan, Mak?" tanya gue pelan dengan suara bergetar.
Ibu cuma mengangguk pelan tanpa suara. Ibu memegang lengan gue kencang banget. Tangan ibu terasa dingin.
"Sudah, masuk kamar Ibu. Jangan keluar sampai pagi," kata ibu sambil merinding.
Malam itu gue sama ibu sama sekali nggak tidur. Kita cuma duduk berdua di atas kasur kamar ibu sampai sinar matahari pagi masuk lewat celah ventilasi udara sekitar jam enam pagi.
Pas jam tujuh pagi, suasana di luar udah terang. Suara ayam berkokok sama tukang bubur keliling udah kedengeran di depan gang. Ibu bikin teh hangat di dapur. Tangan ibu masih kelihatan agak gemetar pas menuang air panas dari termos plastik.
"Mak, semalam itu sebenarnya apa sih?" tanya gue sambil duduk di meja makan kayu. "Gue ditakut-takutin di Gang Kebun. Ada suara cowok memanggil nama gue berulang kali. Tapi gue ingat pesan Mak, gue sama sekali nggak nyahut dan nggak nengok."
Ibu duduk di depan gue, matanya sembap karena nggak tidur semalaman. Ibu menahan napas sebentar sebelum menjawab.
"Bukan kamu yang dipanggil, Ndra..." kata ibu pelan banget.
Gue bingung. "Lho, jelas-jelas dia nyebut 'Hendra... Hendra...'. Nama gue kan Hendra."
Ibu menatap cangkir tehnya, terus ngeliat ke arah foto almarhum bapak yang terpajang di dinding ruang tamu. Nama bapak gue emang sama, Hendra Suprapto.
"Dulu... sebelum kamu lahir, bapakmu pernah punya urusan tanah sama Pak Sukri," cerita ibu dengan suara serak. "Pak Sukri itu tetangga kita yang rumahnya di dekat ujung Gang Kebun, yang rumahnya sekarang kosong dan ambruk itu. Dulu mereka bertengkar hebat gara-gara patok batas tanah. Pak Sukri menuduh bapakmu memindahkan patok tanah diam-diam pas malam."
"Terus gimana, Mak?" tanya gue.
"Pertengkaran itu bikin Pak Sukri jatuh sakit karena stres berat. Sebelum meninggal tahun 1985, Pak Sukri sempat bersumpah di depan warga. Dia bilang nggak akan tenang sebelum menagih janji tanah itu dari bapakmu. Dia bakal terus datang menagih haknya."
Gue terdiam. Gue baru tahu cerita ini karena waktu bapak meninggal, ibu nggak pernah cerita apa-apa soal Pak Sukri.
"Ibu selalu ngelarang kamu nyahut kalau ada yang memanggil di jalan malam-malam, karena Ibu takut Pak Sukri dikira memanggil kamu, padahal nyari bapakmu," lanjut ibu. "Tapi semalam... Ibu dengar suara di luar jendela bukan cuma ketukan."
"Suara apa, Mak?"
"Suara sesuatu yang merangkak dari arah pintu dapur belakang..." kata ibu pelan.
Gue langsung berdiri dari kursi, makin bingung dan takut. Gue jalan ke ruang tamu terus ngeliat jaket yang gue pakai semalam.
Semalam, karena udara di luar dingin banget pas mau jalan ke rumah Budi, gue ngambil jaket kain tua warna cokelat tua yang tergantung di kapstok belakang pintu. Jaket tua itu punya almarhum bapak yang udah bertahun-tahun nggak pernah dipakai dan baunya masih bau lemari tua.
Badan gue langsung merinding pas teringat detail kejadian di Gang Kebun semalam.
Bayangan tinggi yang berjalan di samping gue semalam... bayangan yang pakai jaket kain warna cokelat tua yang sama persis kayak yang gue pakai... bayangan yang mukanya menunduk dan berusaha ngomong kencang ke gue: "Ndra! Buka mata lu, Ndra! Berhenti dulu!"
Suara berat yang memanggil nama gue di jalan semalam ternyata bukan suara arwah Pak Sukri. Suara itu suara bapak gue sendiri yang keluar buat nahan langkah gue, karena bapak tahu arwah Pak Sukri lagi merangkak cepat di tanah ngejar gue dari belakang.
Dan karena gue nggak mau nengok atau nyahut panggilan bapak gue, gue terus lari ketakutan masuk ke dalam rumah... tanpa sadar kalau pintu dapur belakang rumah semalam lupa gue kunci, dan sesuatu yang merangkak di tanah itu udah masuk duluan sebelum gue sempat mengunci pintu depan.
Kamu baru saja membaca tentang Panggilan di Gang Kebun Tahun 1997