Kristal Asin Meja Empat



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Angin laut malam dari pesisir Tayu membawa aroma yang tidak pernah disukai Marzuki: perpaduan antara lumpur pembusukan, kerang mati, dan kepekatan garam yang begitu tajam hingga memicu rasa gatal di pangkal tenggorokan.

Pukul satu dini hari, musim kemarau sedang mencapai puncaknya. Di hamparan tambak seluas dua hektar itu, petak-petak tanah yang disekat kayu bakau tampak berkilauan di bawah cahaya bulan separuh. Orang-orang menyebut petak kristalisasi itu sebagai "meja garam". Bagi Marzuki, petak-petak itu tak lebih dari cermin raksasa yang menampung air laut paling pekat—air tua, istilah buruh tambak untuk sebutan larutan garam cair yang siap memadat.

Marzuki berjalan menyusuri pematang tanah liat yang mengering keras. Di tangannya, sebuah *garu*—garukan kayu bertangkai panjang—terayun lambat. Ia harus memastikan aliran air tua dari petak penampungan menuju Meja Empat berjalan lancar. Jika air terlalu tenang, kristal garam yang terbentuk akan terlalu kasar dan pahit, tak laku dijual ke pengumpul.

Namun, malam ini ada yang salah dengan Meja Empat.

Saat Marzuki menyorotkan senter kepala ke arah petak paling ujung tersebut, ia tidak melihat kilau air tenang. Permukaan air tua di petak itu tertutup kerak kelabu tipis yang bergerak memutar perlahan, seolah-olah ada sesuatu yang mengaduknya dari bawah. Bau pahit *bittern*—cairan sisa ekstraksi garam yang biasanya dibuang—tercium begitu menyengat, melebihi bau garam cair normal.

Marzuki berjongkok di tepi pematang. Ia menancapkan garu kayunya ke dalam petak Meja Empat untuk memecah kerak tersebut.

*Krek.*

Bukan bunyi air terbelah yang terdengar, melainkan derit getas seperti kayu lapuk yang patah. Karakter permukaan air itu padat, tapi lembek. Ketika Marzuki menarik garunya kembali, bilah kayu di ujung alatnya tidak membawakan bulir garam putih, melainkan segumpalan kristal gelap bernoda merah kehitaman yang langsung mengering begitu kena udara malam.

Marzuki menyentuh gumpalan itu dengan ujung jarinya. Dingin, sangat menyengat, dan seketika menyedot kelembapan dari kulit ibu jarinya hingga keriput dan memutih dalam hitungan detik.

"Dahlan..." gumam Marzuki, teringat pesan pemilik tambak yang menyewakan lahan ini padanya dua bulan lalu.

Dahlan, orang tua pemilik lahan sewa murah itu, hanya memberi satu peringatan pendek saat serah terima: *"Kalau Meja Empat mulai membatu sebelum waktunya, jangan diserok. Buka pintu cuakan, buang airnya kembali ke laut. Biarkan kering sehari."*

Saat itu Marzuki mengira Dahlan hanya mengkhawatirkan kualitas produksi. Namun kini, melihat jari tangannya yang terasa mati rasa dan kaku seperti kapur, Marzuki sadar ada konsekuensi fisik yang tidak dijelaskan oleh pemilik tambak tersebut.

Ia berdiri, bermaksud melangkah ke ujung pematang untuk membuka *cuakan*—saluran kayu pembuangan menuju muara. Namun begitu ia mengangkat kaki kanannya, sepatu boot karet yang ia kenakan tidak bergeming.

Marzuki menunduk. Tanpa ia sadari, cairan dari Meja Empat telah merembes naik melalui pori-pori tanah liat pematang. Permukaan tanah yang tadi ia pijak kini telah tertutup lapisan kristal putih melingkar, merambat cepat membalut sol sepatunya seperti semen basah yang mendadak mengeras.

Ia mencoba menarik kakinya dengan sentakan kuat. Karet sepatunya mengerang tertekan, tetapi kristal garam itu telah mengikatnya rapat ke dasar pematang.

"Bangsat," maki Marzuki, suaranya terserap oleh luasnya hamparan tambak dan gemuruh ombak pantai yang berjarak dua ratus meter di balik benteng bakau.

Keheningan malam berubah menyeramkan ketika ia mendengar suara dari tengah petak Meja Empat. Bukan suara gemericik air, melainkan letupan halus beruntun—*pop, pop, pop*—seperti gelembung udara yang pecah di permukaan cairan kental.

Dari balik lapisan kerak kelabu di tengah Meja Empat, sesuatu mulai terdorong naik.

Bukan sosok utuh, melainkan potongan-potongan benda yang terbungkus penuh oleh kerak kristal garam merah tua. Marzuki menyorotkan lampu kepalanya, mencoba mencerna apa yang ia lihat. Sebuah topi caping rapuh yang terangkai menjadi satu dengan selapis kristal tebal; gagang cangkul kayu yang terikat oleh jaringan kristal berserat; dan di bawahnya, sesuatu yang menyerupai bentuk bahu dan leher manusia yang telah sepenuhnya membatu, terawetkan dalam kepekatan larutan garam berdekade-dekade.

Seketika Marzuki mengingat cerita lama yang pernah dianggapnya sekadar isapan jempol buruh seangkatan babaknya. Tahun 1998, saat tanggul laut Tayu jebol dan menyapu area pertambakan, tiga buruh malam menghilang ditelan banjir pasang. Tubuh mereka tidak pernah ditemukan di laut.

Mereka tidak terbawa ke muara. Mereka terjebak di dasar petak penampungan terdalam yang kemudian tertimbun endapan lumpur pekat dan termineralisasi oleh tingginya kadar salinitas air tua selama belasan tahun.

Kini, air di Meja Empat tidak sekadar memadat; larutan pekat itu menyedot kelembapan apa pun di sekitarnya untuk membentuk struktur kristal baru.

Rasa dingin yang menyengat mulai merambat naik dari sepatu boot Marzuki. Melalui bahan karet tebal, efek kristalisasi itu mulai bekerja. Kakinya terasa seperti dimasukkan ke dalam ember berisi es cair yang bercampur cuka tajam. Kulit betisnya berdenyut hebat; ia bisa merasakan cairan di dalam jaringan kulitnya seolah ditarik keluar secara paksa oleh tekanan osmotik ekstrem yang menjalar dari pematang.

Marzuki panik. Ia memukul-mukul kristal garam yang membungkus kakinya menggunakan bilah garu kayu. Setiap kali kayu itu menghantam, percikan kristal keras beterbangan, tetapi lapisan baru terbentuk kembali dengan lebih cepat, memanfaatkan keringat dan cairan dari tubuh Marzuki yang merembes keluar.

"Dahlan! Wawan!" Marzuki berteriak sekuat tenaga ke arah gubuk penjagaan yang berjarak tiga ratus meter di utara. Namun suaranya terdengar kusam, seolah tertahan oleh tebalnya udara asin malam itu.

Di dalam Meja Empat, endapan membatu itu terus terangkat perlahan, didorong oleh tekanan air tua dari saluran bawah tanah. Lapisan garam yang membungkus sisa-sisa jasad pekerja masa lalu itu tampak saling mengikat dengan kristal baru yang kini merambat naik ke paha Marzuki. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana celana jeans kainnya perlahan memutih, mengeras, dan berubah kaku seperti gipsum basah yang mengering.

Ia tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Setiap kali ia mencoba menggoyangkan badannya, kulit paha yang terikat pada kain celana kaku itu terasa seperti ikut tertarik retak.

Marzuki menatap garu kayu di tangannya. Senjata terakhirnya. Dengan nekat, ia membalikkan posisi garu, menggunakan ujung kayu tajam penahan bilah untuk menancapkannya ke celana jeans di dekat lututnya. Ia tidak berusaha memecahkan garamnya; ia berusaha merobek kain celananya sendiri.

Dengan erangan tertahan, Marzuki menyayat kain jeans kaku itu, mengelupas celananya bersama lapisan kulit luar yang melekat kaku pada kristal. Rasa sakitnya melilit, tajam dan membakar, tetapi celah itu memberi sedikit ruang.

Tanpa membuang detik, Marzuki memotong tali sepatu boot-nya dengan pisau kecil pemotong karung di sakunya, lalu menarik kakinya keluar secara paksa dari dalam sepatu yang telah menyatu sepenuhnya dengan pematang garam.

Ia jatuh terjerembab ke belakang, menimpa tanah pematang yang masih kering. Kakinya yang tak lagi beralas dan berdarah langsung tersengat debu garam di pematang, memicu rasa sakit luar biasa yang membuatnya hampir pingsan.

Tanpa memedulikan sepatu dan celana panjangnya yang kini berdiri tegak dalam balutan kristal putih-merah di tepi petak, Marzuki merangkak cepat menjauhi Meja Empat.

Di belakangnya, terdengar bunyi *krek* nyaring saat Meja Empat memadat sepenuhnya. Seluruh air tua di petak itu telah berubah menjadi hamparan kristal padat berwarna kelabu pucat, mengunci jasad tua dari dasar tanah beserta sepatu boot dan koyakan kulit Marzuki di dalamnya, menjadi satu monumen garam yang dingin dan bisu di tengah kegelapan pantai Tayu.


Kamu baru saja membaca tentang Kristal Asin Meja Empat

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more