Jalur Rambu Bisu



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Mesin diesel Mitsubishi delapan silinder di bawah pijakan kakiku terus menghentak riak Muara Berau. Vibrasinya merambat naik lewat pelat besi geladak, menyusup ke tapak boot karet, lalu menetap di sendi-sendi lututku yang pegal. Sebagai juru mudi *TB Mitra Abadi 04*, tugboat penarik tongkang batu bara berbobot lima ribu ton, malam bukan cuma perkara gelap. Malam adalah soal membaca sisa pendar lampu suar, mengukur ketebalan kabut bakau, dan memastikan lima ratus meter kawat baja di belakang kami tidak menyenggol gundukan lumpur dangkal.

"Nang, tambah setengah putaran. Arus pasang dari laut melintang," suara Kapten Burhan terdengar serak dari kursi tinggi di sudut anjungan. Pria lima puluh tahunan itu menyalakan rokok kretek kesepuluhnya malam ini. Tembakau murah berbau cengkeh terbakar itu mengalahkan bau minyak solar dan asin air payau.

Aku menarik tuas *throttle* sedikit ke depan. Punggung tanganku basah oleh embun tipis yang menyusup lewat jendela anjungan yang sengaja kubuka separuh. Lampu navigasi hijau di lambung kanan dan merah di lambung kiri memantulkan garis pendar redup di permukaan air yang tebal seperti jelantah.

Kami sedang memotong celah alur Delta Mahakam menuju laut lepas. Rutenya sempit, diapit rawa nipah rapat yang akar-akarnya menjulur seperti jemari hitam membeku. Di belakang kami, melayang hitam dan bisu, tongkang *Anoman 88* membuntut bagai bangkai paus yang ditarik kawat towing.

Pukul satu dini hari, monitor *echo-sounder* di samping kemudi mendadak berkedip. Kedalaman air yang tadinya stabil di angka empat belas meter melonjak acak: sembilan, lima, tiga, lalu kembali ke empat belas dalam hitungan detik.

"Lumpur hanyut mungkin, Kap," kataku sambil memperketat genggaman pada roda kemudi jati yang lingkarannya sudah licin oleh keringat bertahun-tahun.

Kapten Burhan tidak menjawab. Dia sibuk menepuk-nepuk layar GPS Garmin tua yang mendadak menampilkan garis putus-putus. Peta digital di layar itu bergetar, lalu posisinya melompat dua mil ke arah timur—ke dalam wilayah hitam tanpa peta yang oleh para pelaut lokal dinamai Alur Benuang.

Alur Benuang adalah bekas anak sungai mati. Dulu, tahun delapan puluhan, perusahaan kayu pernah menggunakannya untuk meluncurkan batang-batang ulin ukuran raksasa dari pedalaman. Jalur itu ditutup selamanya setelah tiga kapal tunda hilang dalam kurun dua tahun, kabarnya karena tersangkut rakit kayu tenggelam yang tak pernah membusuk.

"Suar dua mati, Nang," gumam Kapten Burhan. Matanya menyipit menembus kegelapan di luar.

Aku melempar pandang ke depan. Harusnya, setengah mil di muka, ada lampu suar hijau milik Distrik Navigasi yang berkedip tiap empat detik. Tapi malam ini celah itu gelap gulita. Yang tampak justru seberkas cahaya merah samar—bukan berkedip, melainkan redup-terang perlahan seperti napas orang sekarat—berada jauh di sebelah kiri alur resmi.

"Itu rambu darurat darat?" tanyaku.

"Bukan," jawab Kapten Burhan cepat. Suaranya berubah kaku. "Orang nelayan biasanya pasang obor tancap kalau mau menjaring udang malam-malam. Tapi itu terlalu tinggi dari air."

Titik cahaya merah itu tegak melayang kira-kira tiga meter di atas permukaan sungai. Saat jarak kami mendekat hingga dua ratus meter, aku bisa melihat wujudnya. Itu bukan bola lampu neon atau api obor. Itu adalah sebuah tiang ulin tua yang ditancapkan miring di tepi alur. Di puncaknya, terikat sebuah lentera badai kuno dari seng berkarat, berisi minyak yang memancarkan pendar merah keunguan yang aneh.

Yang membuat tenggorokanku mendadak kering adalah apa yang ada di bawah tiang itu.

Bukan daratan. Bukan pula perahu nelayan. Tiang ulin tebal seukuran paha orang dewasa itu menancap lurus di atas sebongkah struktur kayu raksasa yang mengapung stagnan di tengah arus deras. Struktur itu menyerupai geladak kapal barang kuno yang separuh badannya sudah menjadi sarang teritip dan lumut hitam.

"Kap, itu apa?" suaraku tertahan di kerongkongan.

"Tahan kemudi! Lurus!" seru Kapten Burhan, tapi suaranya bergetar. Dia meraih teropong malam, menempelkannya ke mata. Jari-jarinya yang memegang teropong gemetar hebat. "Jangan belokkan serajang pun, Danang! Jangan ikuti pendar minyak itu!"

Tapi kapal tunda kami sudah terlanjur merespons sesuatu di bawah air.

Roda kemudi di tanganku mendadak terhentak keras ke kiri, menyentak pergelangan tanganku hingga berbunyi klak. Kapal *TB Mitra Abadi 04* membelok sendiri, memotong arus pasang, mengarahkan moncong besi kami tepat ke arah lentera merah mati itu.

"Mesin! Netralkan mesin!" teriak Kapten Burhan seraya menerjang ke konsol tengah.

Dia menghempaskan tuas mesin ke posisi *neutral*, tapi raungan mesin diesel di bawah kami justru makin melengking tinggi. Jarum RPM melompat ke zona merah. Kapal tidak melambat; kami justru meluncur makin cepat menembus air lunak Alur Benuang yang hitam pekat.Bau air sungai berganti seketika. Bau asin garam dan solar tenggelam oleh bau tanah basah yang tergenang lama, berbaur dengan aroma kayu ulin lapuk dan amis serat teritip busuk.

"Kawat towing! Tali towing kita menyangkut!" suara Sukri, ABK deck yang bertugas di buritan, terdengar dari radio panggil di mejaku. Suaranya pecah terdistorsi gelombang elektromagnetik. "Nang! Kapten! Tongkang di belakang narik kita! *Anoman* melenceng!"

Aku berbalik memandang lewat kaca belakang anjungan.

Melalui sorot lampu sorot buritan yang berkabut, aku melihat tali baja berdiameter lima puluh milimeter yang menghubungkan kapal kami dengan tongkang membentang lurus dan kaku seperti kawat harpa yang siap putus. Kawat itu tidak lagi mengapung di permukaan air, melainkan tertarik miring menusuk masuk ke dalam air hitam tepat di bawah lentera merah tadi.

Di atas tongkang batu bara *Anoman 88*, tumpukan batu bara hitam berbobot ribuan ton itu tampak longsor perlahan di satu sisi. Tapi bukan karena goncangan gelombang.

Dari balik air sungai yang tenang tanpa riak, muncul rantai-rantai besi hitam raksasa—setiap mata rantainya sebesar tubuh anak kecil. Rantai-rantai itu tidak berkilat; permukaannya terbungkus lumpur padat dan kerang-kerang sungai yang sudah mati. Rantai itu membelit lambung tongkang, merayap naik menembus tumpukan batu bara, mengikatnya erat dari dasar air.

"Ada jangkar kayu..." gumam Kapten Burhan dengan wajah pucat keabu-abuan. Kacamata minusnya meluncur turun di pangkal hidung, tapi dia tidak membetulkannya. "Jangkar ulin penanda rakit zaman dulu... mereka tidak mau muatannya lolos ke laut."

"Siapa, Kap?!" jeritku. Aku berusaha memutar kemudi sekuat tenaga balik ke kanan, tapi roda jati itu terkunci mati, seolah-olah kemudi di bawah air sudah dijepit oleh tang besi raksasa.

"Pekerja rakit yang tenggelam tahun tujuh puluh delapan," bisik Kapten Burhan. Matanya menatap kosong ke luar kaca depan. "Mereka diikat di kawat rakit supaya rakit ulinnya tidak dihanyutkan banjir muara. Perusahaan meninggalkan mereka saat badai."

Kapal tunda kami mulai miring ke kiri. Buritan kapal terangkat sedikit demi sedikit karena kawat towing ditarik paksa ke dasar sungai oleh beban tongkang yang perlahan-lahan mulai miring tiga puluh derajat. Air sungai mulai melimpah masuk lewat *bulwark* geladak belakang.

"Danang! Potong kawatnya!" jerit Kapten Burhan tiba-tiba. Dia mencengkeram bahuku keras-keras. "Gunakan pemotong hidrolik di drum towing! Lepaskan tongkangnya!"

"Tapi batu baranya miliaran, Kap! Sukri masih di belakang!"

"Sukri sudah lompat dari tadi, atau dia ikut tenggelam! Lihat buritan!"

Aku menoleh lagi. Di geladak belakang tugboat, Sukri tidak kelihatan. Yang ada hanyalah gulungan drum kawat towing yang mengeluarkan asap tipis akibat gesekan besi lawan besi yang teramat hebat. Rem drum hidrolik mulai meleleh, memercikkan bunga api ke udara malam.Jika kawat itu tidak dipotong dalam satu menit, berat tongkang yang terseret ke dasar sungai akan balik membalikkan kapal tunda kami. Kami akan tenggelam terbalik, terperangkap di dalam kabin anjungan yang terisi air lumpur.

Aku memutar tubuh, menerjang pintu anjungan, dan berlari turun tangga besi menuju geladak luar.

Angin malam yang menyapu wajahku tidak lagi berhembus dari laut; angin itu datang dari dalam air sungai, membawa suara desis halus seperti beribu-ribu helai daun nipah yang digesekkan bersamaan. Tapi itu bukan daun. Itu adalah suara gesekan rantai-rantai tua di dasar lumpur yang ditarik secara sistematis oleh beban raksasa yang tak kelihatan.

Aku mencapai konsol pemotong hidrolik di dekat drum towing. Tanganku yang gemetar meraih tuas darurat berwarna kuning kusam. Di atas drum, kawat baja tebal itu sudah merenggang begitu kencang hingga menyusut diameternya, memancarkan bau sangit besi yang memanas.

Satu meter di depan buritan kapal, di dalam air sungai yang pekat, aku melihatnya.

Bukan hantu berwajah rata atau sosok tinggi hitam. Yang ada di bawah sana adalah sebuah struktur tiang-tiang kayu ulin hitam yang dirangkai membentuk kurungan raksasa di dasar air. Di dalam kurungan kayu tua yang penuh lumpur padat itu, tertanam puluhan kerangka manusia—tulang-belulang tua yang sudah melumut dan menyatu dengan rantai besi serta kawat-kawat pengikat rakit kayu masa lalu.

Mereka tidak bergerak menakut-nakuti. Mereka hanya ada di sana, membeku dalam posisi memegang rantai, menjadi bagian dari massa berat yang bertindak sebagai jangkar abadi di Alur Benuang. Dan kawat towing kapal kami telah masuk ke dalam lingkaran rantai mereka.

Setiap kali ada kapal membawa muatan berat melintas terlalu dekat dengan rambu lentera merah itu, rantai dasar sungai itu akan tersangkut, menarik massa baru untuk menambah berat jangkar mereka di dasar lumpur.

"Tarik!" jeritku pada diri sendiri.

Aku menarik tuas pemotong hidrolik ke bawah dengan seluruh berat badanku.

Mekanisme pisau baja bertekanan tinggi menghantam kawat towing yang tegang. *BLAM!*

Suara letupan kawat putus itu membahana seperti ledakan meriam kecil. Sisa kawat baja tersentak hebat, menyabet udara dan menghantam dinding kabin belakang hingga pelat besinya penyok dalam. Kapal tunda *TB Mitra Abadi 04* melonjak ke depan secara mendadak saat beban puluhan ribu ton itu terlepas seketika.

Tubuhku terlempar ke geladak besi, siku kanan menghantam paku keling hingga berdarah.

Dampaknya terasa seketika. Tanpa beban tongkang, mesin kapal kami yang masih meraung tinggi melempar moncong tugboat melesat keluar dari celah Alur Benuang.

Dari posisi telungkup di geladak yang licin oleh minyak dan air sungai, aku menoleh ke belakang.

Tongkang *Anoman 88* tidak terbalik atau meledak. Dalam keheningan malam yang mendadak bisu, tongkang raksasa berisi batu bara itu bergeser miring, lalu perlahan-lahan, tanpa menimbulkan gelombang besar, miring masuk ke dalam celah air hitam di bawah tiang lentera merah. Batu bara berebutan tumpah tanpa suara, digantikan oleh lumpur hitam yang naik mendidih dari dasar.

Dalam hitungan sepuluh detik, tongkang seluas lapangan basket itu lenyap sepenuhnya ditelan permukaan air Alur Benuang yang kembali tenang bagai cermin kaca gelap. Lentera merah di puncak tiang ulin berkedip sekali, lalu padam total.

***

Kami ditemukan oleh kapal patroli Polairud dua hari kemudian, terombang-ambing lima mil di luar muara dengan mesin mati karena kehabisan bahan bakar.

Kapten Burhan tidak pernah bicara lagi sejak malam itu. Dia duduk di sudut kabin anjungan, menatap jemarinya yang gemetar, menolak menyentuh rokok kreteknya. Dua bulan setelah kejadian, pihak pemilik kapal menghentikan pencarian tongkang *Anoman 88*. Tim penyelam yang dikirim ke koordinat yang kami laporkan tidak pernah menemukan satu bongkah pun batu bara atau pelat besi tongkang di dasar sungai.

Penyelam hanya melaporkan satu hal: dasar sungai di area Alur Benuang terdiri dari lapisan lumpur lunak yang tak terukur kedalamannya, dan di dalam lumpur itu, terdapat kerapatan struktur kayu tua yang terlalu keras untuk ditembus peralatan bor darurat.

Aku tidak lagi bekerja di kapal tunda. Aku mengambil pekerjaan di darat, menjadi petugas pemeriksa manifes di pelabuhan semen Samarinda. Tapi setiap kali hujan deras turun di malam hari dan suara gesekan rantai kerekan kontainer terdengar melengking dari dermaga, aku selalu menghentikan ketikanku.

Aku tahu, jauh di dasar muara yang sepi, di antara akar-akar nipah yang membusuk, jangkar ulin tua itu tidak pernah benar-benar kenyang. Ia hanya sedang menunggu kawat baja berikutnya membentang tegang menembus alur bisu mereka.


Kamu baru saja membaca tentang Jalur Rambu Bisu

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more