Batu Hitam di Kantong Jas Hujan
Batu Hitam di Kantong Jas Hujan
Perkiraan waktu membaca Menit
EditSekarang aku lagi duduk di teras rumah sambil ngopi sendirian. Pas nengok layar HP buat liat jam, angkanya pas nunjukin jam 02.45 subuh.
Langsung merinding aku. Dadaku juga agak sesak. Padahal kejadian Lebaran 2010 itu udah belasan tahun lalu, tapi tiap liat angka 02.45, rasa takutnya langsung balik lagi.
Aku mau cerita kejadian nyata yang tak alami sendiri pas mudik naik motor malam-malam. Waktu itu aku berangkat dari Semarang mau ke rumah simbah di daerah pedesaan Magelang lewat jalur alternatif.
Kejadiannya pas H-2 Lebaran tahun 2010. Umurku masih 22 tahun dan baru punya motor Supra bekas.
Kakakku, Mbak Yanti, udah berangkat duluan naik bus bareng suaminya pas sore. Tapi anaknya yang umur tujuh tahun, Gilang, nangis-nangis nggak mau ikut naik bus.
Gilang maksa pengen ikut aku naik motor. Kasihan juga liatnya, terus aku pikir perjalanan bakal seru, jadi ya tak izinkan bonceng di belakang.
Kami berangkat sekitar jam sepuluh malam. Gilang tak jepit di tengah, di antara badanku sama tas ransel gede yang diikat di jok belakang pakai tali karet.
Awalnya jalanan lancar dari kota. Pas masuk daerah perbukitan sama hutan pinus yang sepi, gerimis mulai turun rata.
Jalanan makin gelap. Penerangan cuma dari lampu utama motor yang agak redup. Kiri kanan cuma ada tebing tanah, pohon tinggi, sama jurang.
Gilang pakai jas hujan plastik warna hijau yang agak kebesaran. Karena kedinginan, dia cuma meluk pinggangku dari belakang tanpa ngomong apa-apa.
Lewat jam dua pagi, aku nemu warung kopi kecil remang-remang dekat perbatasan desa. Lampu petromaks warung itu goyang-goyang kena angin.
Aku mampir sebentar buat ngelurusin kaki sekalian beli teh hangat buat Gilang. Di situ cuma ada bapak-bapak tua pemilik warung lagi nata barang dagangan.
Pas aku bayar teh manis, bapak itu merhatiin kami bertiga—maksudku aku sama Gilang. Bapak itu langsung ngomong pelan banget, mukanya datar.
"Mas, mau lewat alas perbatasan to? Hati-hati ya," kata bapak itu sambil ngelus dagunya.
"Nanti kalau lewat tikungan beringin tua sebelum jembatan, jangan sekali-kali berhenti. Apalagi anak kecilnya, jangan sampai ngambil barang apa pun dari tanah sana," bisiknya.
Sebelum aku nyalain motor, dia nambahin lagi. "Sebelum jam 7 pagi barangnya harus steril, jangan ada bawaan dari sana mumpung urung ketempelan."
Aku cuma ngangguk terus bilang terima kasih. Dalam hati aku mikir itu cuma mitos lokal yang biasa diomongin orang desa biar pendatang nggak sembarangan.
Kami lanjut jalan ngerobos kabut tipis sama rintik hujan. Udara dingin banget, nembus jaket tebal yang tak pakai.
Pas jalanan mulai berkelok mengitari tebing, ada satu tikungan patah yang dipenuhi pohon beringin gede. Di bawahnya ada beberapa kijing kuburan tua berderet di pinggir selokan.
Tanpa diduga, mesin motorku batuk-batuk keras. Rantainya bunyi kreeek kayak nyangkut, terus motor langsung mati total di tengah tikungan sepi itu.
Aku ngeluarin HP di kantong celana buat liat jam. Di layar tertera angka 02.45.
"Mas, Gilang kebelet pipis," kata keponakanku sambil nepuk punggungku.
"Yowes, pipis di pinggir selokan situ sebentar, cepat ya," jawabku sambil berusaha standar samping motor.
Gilang turun terus jalan pelan ke arah selokan di bawah pohon beringin. Aku sendiri sibuk jongkok benerin rantai motor yang lepas dari gir belakang.
Suasana malam itu sepi banget, cuma ada suara tetesan air hujan dari daun beringin yang kena tanah. Nggak lama kemudian, aku merasa ada yang aneh.
Suara jangkrik yang tadinya ramai tahu-tahu hilang. Bau tanah basah berubah jadi bau busuk kayak daging mentah yang didiemin lama.
Gilang balik ke dekat motor sambil masukin tangannya ke kantong jas hujan plastiknya. Muka anak itu kelihatan datar, nggak ada takut-takutnya.
Aku selesai masang rantai dan langsung nyalain mesin. Untung mesin motor mau hidup lagi.
Tapi pas tak jalanin, tarikan gas rasanya berat banget. Motor Supra-ku meraung keras tapi jalannya cuma merayap pelan, kayak lagi bonceng beban berat sekali di belakang.
Aku lirik spion kiri. Di belakangku cuma ada bayangan hitam pendek yang kelihatan melayang sejajar sama ban belakang.
Aku coba liat jam tangan digital di stang motor. Angkanya tetap di 02.45. Jarum detiknya nggak jalan sama sekali.
"Mas... Om yang tadi berdiri di kuburan kok ngikutin kita?" bisik Gilang dari belakang.
Suara Gilang kedengaran aneh, agak serak dan kaku. Aku langsung deg-degan parah.
"Ngomong apa to kamu, Lang? Merem matamu, cepat!" seruku sambil narik gas makin dalam.
Anehnya, setelah kami jalan sekitar sepuluh menit pakai kecepatan penuh, kami malah ngelewatin beringin tua sama kijing kuburan itu lagi.
Kami kayak muter-muter di jalan yang sama, nggak pernah bisa keluar dari hutan itu. Pas aku lirik jam di HP, waktunya masih tetap nunjukin 02.45.
Aku teringat kata-kata bapak pemilik warung kopi tadi. Jangan sampai ngambil barang apa pun dari tanah sana.
Aku rem mendadak di pinggir jalan terus nengok ke belakang. Aku pegang dua bahu Gilang, tanganku gemetaran.
"Gilang, jawab jujur sama Mas. Kamu tadi ngambil apa dari dekat pohon beringin?" tanyaku setengah membentak karena panik.
Gilang merogoh kantong jas hujan hijau plastiknya. Dia ngeluarin batu hitam kecil seukuran kelereng besar.
Batu itu permukaannya licin tapi ada tiga goresan dalam yang bentuknya mirip garis mata tertutup. Baunya amis dan dingin banget pas tak pegang sebentar.
"Tadi Om-om yang mukanya rata bilang, batunya boleh dibawa pulang buat kelereng," kata Gilang polos tanpa rasa bersalah.
"Buang, Lang! Buang sekarang ke jurang!" teriakku sambil ngerebut batu itu dari tangannya.
Aku lempar batu hitam itu kencang-kencang ke arah jurang di sebelah kiri jalan. Pas batu itu jatuh ke semak-semak, kedengaran suara geraman keras dari arah pohon beringin.
Suaranya bukan suara binatang, tapi suara napas manusia yang berat banget sama megap-megap kayak kesedek air.
Dahan beringin yang gede patah terus jatuh ke tengah jalan. Dari balik semak-semak, aku liat bayangan tinggi hitam merangkak cepat ke arah motor kami.
Aku langsung tancap gas tanpa mikir lagi. Motor meraung ngerobos jalanan gelap.
Anehnya, begitu batu itu dibuang, jalanan di depan kami langsung kelihatan beda. Plang penunjuk arah ke kota Magelang akhirnya kelihatan di ujung tikungan.
Jam empat lewat tiga puluh menit subuh, kami akhirnya sampai di rumah simbah dengan selamat. Badanku lemas banget dan tanganku gemetaran pas mematikan mesin motor.
Gilang langsung disuruh tidur di kamar depan sama Simbah. Aku nggak cerita apa-apa soal kejadian tadi malam karena takut ngebikin keluarga panik.
Malam harinya, aku tidur di kamar yang sama bareng Gilang. Suasana desa kalau malam sepi banget, cuma ada suara angin yang nepuk-nepuk kaca jendela.
Pas aku udah mau tidur nyenyak, jam dinding kayu tua di atas lemari kamar bunyi tek... tek... tek... terus berhenti total.
Aku bangun dan buka mata pelan-pelan. Aku lirik jam dinding itu lewat remang-remang lampu tidur.
Jarum panjang sama jarum pendeknya berhenti pas di angka 02.45.
Dari arah luar jendela kaca kamar, ada suara ketukan pelan tiga kali.
Bau amis tanah basah yang semalam tak cium di alas langsung memenuhi isi kamar tidur. Baunya parah banget sampai tenggorokanku rasanya gatal.
Dari balik celah ventilasi kayu di atas pintu kamar, aku liat ada helai-helai rambut hitam panjang bertahap turun ke bawah kayak benang basah.
Aku kaku nggak bisa gerak sama sekali di atas kasur. Lidahku rasanya kelu buat teriak ngebangunin orang-orang di rumah.
Sambil nahan napas, aku lirik ke arah jas hujan hijau milik Gilang yang digantung di belakang pintu kamar.
Kantong jas hujan plastik itu kelihatan menggembung berat, kayak ada benda padat yang dimasukkan kembali ke dalamnya.
Aku memaksakan diri bangun dari tempat tidur sambil terus nahan napas. Tanganku meraih kantong jas hujan itu dengan gemetaran.
Pas aku rogoh bagian dalamnya... jariku nyentuh benda keras, licin, dan dingin banget.
Batu hitam dengan tiga goresan garis mata itu ada di sana lagi. Padahal semalam jelas-jelas udah tak lempar jauh ke dalam jurang.
Di saat yang sama, suara ketukan di kaca jendela berubah jadi suara garukan kuku yang panjang dan nyaring.
Aku langsung lari keluar kamar sambil membawa jas hujan dan batu itu, lalu ngebangunin Simbah yang tidur di kamar belakang.
Simbah yang melihat batu di tanganku langsung mengambilnya pakai kain serbet dapur tanpa nyentuhnya pakai tangan telanjang.
Simbah cuma bicara singkat sambil natap batu itu, mukanya tegang.
"Iki dudu watu sembarangan, Le. Pemilik deso kono ora terimo barang pendamane digawa keluar," ucap Simbah pelan.
"Besok subuh tak gawa menyang kali buat dibuang karo sesajen. Tapi nek wis ditandaan, yo angel," lanjut Simbah singkat tanpa mau njelasin lebih banyak lagi.
Pagi harinya, Simbah benar-benar pergi membawa batu itu dan tidak pernah membicarakannya lagi sampai beliau meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Tapi jujur aja, aku tidak pernah tahu pasti makhluk apa yang sebenarnya mendiami daerah alas itu atau kenapa batu itu bisa kembali lagi ke kantong Gilang malam itu.
Sampai sekarang, setelah belasan tahun kejadian itu berlalu dan aku sudah punya rumah sendiri, teror itu belum benar-benar selesai.
Tiap kali jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 02.45 subuh, jarum jamnya pasti akan mandek selama beberapa menit.
Dan dari balik kaca jendela kamar atas, suara ketukan tiga kali itu kadang-kadang masih terdengar pelan.
Kalau kalian ada yang sering mudik malam naik motor lewat jalur pedesaan di Jawa Tengah, tolong perhatikan baik-baik barang apa aja yang dibawa sama anak kecil kalian. Jangan sampai ada benda asing yang ikut pulang di dalam kantong jaket mereka.
Kamu baru saja membaca tentang Batu Hitam di Kantong Jas Hujan
