-->

Keris Weling Putih Cerita Rakyat Jawa Timur



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit
Sang Prabu Erlangga kebingungan, mulai sejak tadi ia jalan mondar-mandir di ruangnya. Patih Narottama yang berdiri di dekatnya, juga terlihat tampak kebingungan. Kerajaan Kahuripan sekarang ini tengah terserang penyakit aneh, Penyakit itu sangat banyak mengonsumsi korban jiwa baik dari orang-orang umum ataupun keluarga petinggi serta keluarga kerajaan. Nyatanya, penyakit itu disebarkan oleh seseorang wanita penyihir yang sangatlah kejam serta sakti. Namanya Serat Asih, namun ia lebih di kenal dengan nama Colon Arang. Ia tinggal di Desa Girah.

Keris Weling Putih

Lantaran cemas penyakit itu bakal makin meluas, Raja Erlangga mengutus Patih Narottama untuk menangkap Colon Arang. Sesudah terima perintah itu, Patih Narottama menghimpun beberapa prajurit pilihannya. " Wahai, beberapa prajuritku. Mari kita pergi ke Desa Girah untuk menangkap wanita penyihir itu, " perintah Patih Narottama.

Mereka lalu mengawali perjalanan ke Desa Girah, menuju rumah Colon Arang.

Colon Arang terperanjat lihat kehadiran beberapa prajurit kerajaan. Ia selekasnya menghimpun empat murid terbaiknya yang bernama Supala, Guritna, Datyeng, don Pitrah untuk melawan mereka. Pertempuran sengit juga tidak terelakkan. Colon Arang bertemu sendiri dengan Patih Narottama.

 " Ha... ha... ha... pria tua sepertimu mana dapat menaklukkan saya, " ejek Colon Arang. Hati Patih Narottama panas mendengar ejekan itu. Ia selekasnya menghunus pedangnya serta menebas leher Colon Arang sampai putus.

Tetapi peristiwa aneh berlangsung! Setiap saat kepala Colon Arang putus terserang tebasan pedang Patih Narottama, kepala itu dengan gampang menyatu kembali pada badannya. Calon Arang selalu tertawa menghina, makin lama nada tawanya makin mengerikan.

Patih Narottama menarik mundur pasukannya. Ia sadar, mereka tidak mungkin saja menaklukkan Colon Arang waktu itu juga. Ia juga menghadap Raja Erlangga serta menceritakan apa yang berlangsung. " Hmm... pasti ia mempunyai rahasia. Mustahil ia tidak dapat ditaklukkan, namun kita mesti tahu apa rahasia kesaktiannya, " gumam Raja Erlangga.

 " Mungkin saja baiknya kita minta pendapat Empu Bharada? Ia yaitu adik ipar Colon Arang, mungkin ia paham apa yang perlu kita kerjakan, " jawab Patih Narottama.

Empu Bharada di panggil ke istana. Sesudah Raja Erlangga serta Patih Narottama menceritakan permasalahan yang mereka hadapi, ia memikirkan dengan keras. " Baiklah Baginda, hamba bakal mencari jalan keluarnya. Mudah-mudahan kesempatan ini kita sukses menaklukkannya, " kata Empu Bharada.

Empu Bharada kembali pada tempat tinggalnya serta memanggil muridnya yang bernama Bahula. " Bahula, Baginda memintaku untuk mencaritahu rahasia Colon Arang. Karenanya, saya membutuhkan bantuanmu, " tuturnya pada Bahula. " Bila ini untuk kebutuhan rakyat, saya bersedia menolong Empu. Bagaimanakah langkahnya? " jawab Bahula.

Empu Bharada meminta Bahula menikah dengan anak wanita Colon Arang yang bernama Ratna Manggali. " Bila kau menikah dengannya, kau bakal gampang melakukan pekerjaan ini. Saya tahu seluruhnya rahasia Colon Arang ada di kitab pusakanya. Carilah kitab itu serta berikanlah padaku, " terang Empu Bharada.

Awalannya Bahula terlihat sangsi, ia pikirkan kekasihnya Wedawati, yang tidak lain yaitu anak wanita Empu Bharada.

Empu Bharada tahu kegundahan hati Bahula. " Janganlah cemas, Wedawati tidak bakal tahu. Saya memintamu lakukan ini untuk keselamatan rakyat kita, " tegas Empu Bharada. Bahula juga mengangguk sepakat.

Bahula selekasnya lakukan perjalanan ke Desa Girah. Disana, ia selekasnya mencari rumah Colon Arang serta menyebutkan tujuannya untuk menikah dengan Ratna Manggali. Lihat paras Bahula yang tampan dan kelakuannya yang sopan, Colon Arang juga terima lamarannya. Ia mau bikin pesta pernikahan yang meriah untuk Ratna Manggali serta Bahula.

Sesudah resmi jadi suami-istri, pengantin baru itu tinggal dirumah mertuanya.

Disuatu malam, Bahula melakukan tugasnya. Sesudah meyakini situasi aman, ia mengendap-endap masuk kamar Calon Arang. Demikian buka almari, matanya terpaku pada suatu kotak kayu berwarna cokelat.

 " Pasti ia menaruh kitab pusakanya di sini, " bisiknya dalam hati.

Bahula selekasnya mengambil kotak kayu itu serta meninggalkan rumah. Ia Iari di kegelapan malam, menuju rumah Empu Bharada, gurunya.

Esok harinya, Colon Arang terperanjat bukanlah main lihat kotak kayunya sudah raib. Ia mencari Bahula, namun tidak diketemukannya. Ia berprasangka, pasti Bahula yang mengambil kotak kayu itu. Disamping itu, Bahula sudah mengerahkan kotak kayu itu pada Empu Bharada. Empu Bharada selekasnya membukanya serta mencari kitab pusaka. " Ah, ini dia. Seluruhnya rahasia kemampuan sihir Colon Arang pasti ada pada kitab ini, " teriak Empu Bharada suka. Ia segera pelajari isi kitab itu dengan saksama. Bahula menanti dengan sabar.

 " Bahula, menurut kitab ini, Calon Arang hanga bisa ditaklukkan dengan Keris Weling Putih, " kata Empu Bharada. " Tidakkah keris itu punya Empu sendiri? " bertanya Bahula bingung. Sembari tersengum, Empu Bharada menjawab " Ya, kau benar. Bermakna saya dapat membunuh Calon Arang dengan gampang.

Empu Bharada mengambil keris Weling Putihnga, serta bersiap-siap mengadakan perjalanan ke Desa Girah. Bahula mengikutinga dengan setia. Disana, Calon Arang rupanga telah menanti Bahula.

 " Bahula, selekasnya kembalikan kitab pusakaku yang kau curi! Berani sekali kau menipuku serta putriku, rasakan pembalasanku! " kata Colon Arang sembari menyerang Bahula.

Bahula berkelit, Empu Bharada selekasnya menghadang langkah Colon Arang. " Kong Ayu, kau sudah menyusahkan semua rakyat Kahuripan. Raja sudah memerintahkan kami untuk membunuhmu agar dampak sihirmu lenyap untuk selamanya, " kata Empu Bharada.

 " Ha... ha... kau akan melawan kakak iparmu sendiri? Silahkan saja bila kau dapat, " jawab Colon Arang. Dengan cepat ia menyerang Empu Bharada, tetapi Empu Bharada tidak kalah sigap. Keris Weling Putih dicabutnya dari pinggangnya untuk menangkis serangan sihir Colon Arang.

Colon Arang terperanjat lihat keris itu. " Ampun Dimas, janganlah kau bunuh saya dengan keris itu, " teriaknya mengiba.

 " Kong Ayu, maafkan saya. Saya mesti membunuhmu, bila tak, rakyat bakal makin menanggung derita, " jawab Empu Bharada sembari menghujamkan keris itu ke badan Colon Arang. Colon Arang wafat saat itu juga. Waktu itu juga, semua penyakit yang menyerang rakyat Kerajaan Kahuripan lenyap tidak berbekas. Rakyat kembali hidup berbahagia serta aman sentosa.

Kamu baru saja membaca tentang Keris Weling Putih Cerita Rakyat Jawa Timur

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more