-->

Horor Manekin "Creepypasta versi urbanlegend.id" (Complete)



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit
Creepypasta versi urbanlegend.id (Complete)
Judul : Horor Manekin
Genre : Mystery
Storyline by  : Fajli
Author : Fajli
Manekin
Part I
Hai aku adalah seorang pengoleksi boneka terutama boneka manekin. Memang hoby yang aneh, sebagai pria seharusnya aku tak menyukai boneka tapi aku merasa manekin berbeda. Sampai suatu saat aku tak suka lagi dengan semua boneka.

Berawal ketika aku mengunjungi sebuah toko tua dan antik yang memiliki barang yang unik. Aku tertarik untuk membeli sebuah manekin yang memakai gaun pengantin wanita putih dan cantik. Aku langsung tergila-gila tak tau resiko yang akan aku hadapi aku akhirnya membeli boneka yang menurutku cantik dan indah itu. Tak ada yang dapat menghalangi hasratku untuk membeli boneka Manekin itu, bahkan aku bisa mati jika tak mendapatkannya. Ini adalah hasratku yang terbesar, kamu tau rasanya seperti ketika kecil menginginkan mainan dan akan tetap disana hingga kamu mendapatkan mainan itu bahkan kamu akan menangis meminta di belikan kepada orang tuamu, Kira kira seperti itulah rasanya.

Akhirnya aku mendapatkan boneka manekin ini dengan harga cukup murah. Aku membawa boneka itu pulang dengan sangat senang. Lalu meletakkannya di ruang bawah tanah tempat koleksiku yang lain. Aku tlah menyediakan peti kaca untuk boneka spesial ini. Aku lalu keluar dari basemen dan pergi untuk tidur.

Oh ya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sammy. Begitulah temanku memanggilku aku menyukai manekin sejak aku bekerja di bidang design dan sejak saat itulah aku mulai mengumpulkan manekin.

Aku pergi keluar dari ruangan basemen dan memastikan bahwa manekin yang baru ku beli aman. Tanpa sengaja merasa, bahkan melihat dia tersenyum ke arahku. Senyum yang kejam. Aku mengusap mataku, dan melihat dia kembali seperti biasa

"Mungkin cuma perasaanku saja," pikirku.

Aku menaiki tangga basemen dan melihat ke belakang sekali lagi, sekarang mata manekin itu menatap tajam ke arahku. Dengan cepat aku meninggalkan ruangan koleksiku.

Hari kedua aku mendengar "Tok, tok, tok," seperti sesuatu yang diketuk dari ruang bawah tanah. Aku melihatnya dan tak terjadi apa-apa. Ketika keluar dari basemen aku mendengar langkah kaki. Langkahnya begitu cepat...


Manekin
Part II
Langkah nya semakin cepat, sangat cepat.

"Tok,tok,tok," aku terkejut karna suara ketukan.

"Apa ada orang dirumah?"

"Ah untunglah itu cuma tamu," pikirku. Aku berjalan ke pintu, lalu membuka pintunya.

"Ufft, bau apa ini, baunya begitu amis, kamu ngapain di rumah ini Sam? Biasanya tak seperti ini," tanya temanku Anton sambil menutup hidung.

"Oh maaf, entah kenapa rumah ini mulai berbau amis, mungkin aku harus membersihkannya," jawabku.

Lalu aku mengajaknya duduk dan kami berbincang bincang walau agak canggung karna bau amis yang ada dirumahku. Kami mulai bercerita tentang hoby kami, dia bercerita tentang hobinya mengoleksi hal berbau mistis dan itu membuatku teringat tentang boneka manekin baruku.

Aku mengajaknya ke basemen.

"Ah aku ingat mau memperkenalkanmu dengan manekinku yang terbaru," kataku.

"Oh ya...? Kamu memang aneh tapi baiklah aku akan melihatnya," katanya sedikit mengejek.

Aku membuka pintu basemen dan berjalan ke arah manekin baru ku.

"Hei bau amis ini sangat mengerikan," gerutunya.

"Ah sudahlah jangan banyak protes ayo ikut aku," tarikku.

"Baiklah tuan aneh," ejeknya lagi.

Aku mendekati manekinku yang memiliki wajah cantik dan imut itu. Jika dia hidup mungkin aku akan menikahinya. Tapi sayang dia cuma boneka yang tak bisa apa-apa. Aku memang sudah lama menjomblo sejak terakhir kali pacaran kisahnya sangat tragis aku ditinggal selingkuh. Aku tak mau lagi berpacaran dan aku mulai mengumpulkan manekin. Aku menyukai mereka, mereka tak pernah marah padaku, tak pernah membuatku sakit hati bahkan walaupun ku tinggalkan di ruang bawah tanah.

Aku memperlihatkan kepada Anton boneka manekinku dia awalnya biasa. Dia memperhatikannya begitu detail bahkan dia memandangnya beberapa kali sampai aku pun heran dan bertanya

"Hei, kamu kenapa nton,"

"Ah, tak apa aku cuma heran dengan boneka ini,"

"Heran kenapa ? Apa ada yang salah ?" tanyaku heran.

"Ah sudahlah lupakan, oh ya aku harus pergi karna ada keperluan," katanya terburu buru lalu dia mulai pergi.

Aku mengikutinya dan melihat manekin itu dengan heran. Manekin itu tersenyum lagi padaku, senyumnya begitu kejam. Aku mengantarkan Anton keluar dari basement dan aku sempat mendengar

"Dia akan mati... Hehe," dari arah manekinku.

Anton pergi dan mengingatkanku sebuah pesan

"Hai Sammy maaf sebelumnya, kamu harus hati-hati dengan manekin manekin itu dan terutama yang kamu perlihatkan padaku, aku melihat dia marah padaku dan senyum dengan kejam," katanya.

"Ah baiklah tenang saja, terima kasih" ucapku.

Anton keluar dan pergi menjauh. Tak lama kemudian aku melihat ambulance lewat.

"Ah mungkin ada yang kecelakaan," pikirku. Tiba tiba aku mendengar suara tawa di ruang basemen, tawa yang sangat senang... "hehehe.." tawa itu terus tak berhenti hingga aku pergi memastikannya dan membuka pintu basemen. Aku melihat sesuatu yang tak biasa...


Manekin
Part III
Aku melihat sesuatu yang tak biasa Manekin itu menghilang dari kacanya dan kacanya berubah jadi darah.

"Settt" pisau menusuk punggungku.

"Ah, Apa ini?" Aku bertanya dan melihat ke belakang. Senyum kejam terbentuk di wajah boneka manekin itu, Tusukan demi tusukan embuat darah mengalir semakin banyak dari punggungku.

"Tok, tok, tok," seseorang mengetuk pintu rumahku, aku merangkak ke arah tangga tapi

"Bukk" kaki manekin itu menekan kepalaku. Aku menjadi tak sadarkan diri. Tiba-tiba aku melihat seseorang ke arahku.

Ketika aku terbangun aku tlah berada di rumah sakit kata dokter aku terjatuh dari tangga dan membuat kaca manekinku pecah sehingga kaca itu menusukku dan kata mereka aku ditemukan dekat kaca itu oleh seseorang.

"Hai, Sammy apa kabarmu?" Aku melihat seorang wanita yang sudah cukup tua duduk disampingku dan di sebelahnya pria yang juga sudah cukup tua.Ternyata mereka orang tua ku, sepertinya mereka berkunjung kerumahku dan menemukan ku tak berdaya. Aku ingin membuang Manekin itu setelah keluar rumah sakit pikirku.

“Hai, ibu dan ayah,” aku berkata lemah.

“Oh, syukurlah kamu sudah sadar, Kamu telah terbaring di rumah sakit ini selama tiga hari nak,” Kata ibuku.

“Apa? 3 hari,” Aku bertanya heran.

“Ya, 3 Hari,” timpal ayahku.

“Sudahlah kamu tidur saja yang nyenyak, oh ya kami lupa bahwa ada teman yang menemukanmu terkapar waktu itu,” Kata ibuku. Itu membuatku heran

“Apa? Teman,” Aku heran sekaligus tak percaya. Aku pikir ibu dan ayahku yang menemukanku.

“Sudah, jangan dipikirkan kamu istirahat saja dulu,” kata mereka dan meninggalkanku.

"Aku masih berpikir siapa yang menyelamatkanku? kenpa manekin itu bisa bergerak?" aku melamun. Hari pun berjalan dengan cepat aku di periksa oleh dokter setiap 5 jam sekali.

Malamnya aku melihat seseorang masuk ke kamar rumah sakit membawa pisau di tengah kegelapan. Aku tak berdaya, tak bias bergerak. Dia menusukku berkali-kali, aku melihat wajahnya ketika ada cahaya yang masuk ke dalam kamar ini. Wajah mengerikan lilin itu melebarka senyumnya dan menusukku sembari berkata “Sekarang kau akan mati, hehehe.” Dia terus menusukku membuatku banyak kehabisan darah. Aku tak bisa melawan, semuanya menjadi gelap mungkin ini lah akhir hidupku. Aku bangun dan aku berpikir itu cuma mimpi. Aku melihat jam menunjukan pukul 3 malam aku merasakan sakit di perutku.

"Ah, ap, apa ini?" aku melihat darah segar mengalir dari perutku, sebuah luka tusukan membekas disana.

"Dok, Dok, Dokter!" aku memanggil dokter tapi tak ada yang menjawab.

Aku terkulai lemas dan terkapar, aku terkulai. Tanpa sadar aku berada disebuah lorong

"Ayo cepat!! Dia kehabisan banyak darah,"

Aku melihat dengan mata ku yang kabur tak tau apa yang membawaku. Aku cuma terbaring lemas dan masih merasakan sakit tusukan di perutku. Seketika aku berada diruangan penuh lampu yang sangat terang....


Manekin
Part IV
Seketika aku berada diruangan penuh lampu yang sangat terang, aku rasa ini ruang operasi. Aku menjadi tak sadarkan diri lagi. Ketika bangun aku tlah berada dikamarku yang nyaman, bau amis kembali tercium. Sangat mengganggu

"Tok, tok, tok!" aku mendengar suara itu lagi, tapi aku berpikir itu hanya tamu.

"Apa ada orang dirumah?"

"Ah untunglah itu cuma tamu," pikirku. Aku berjalan ke pintu, lalu membuka pintunya.

"Ufft, bau apa ini, baunya begitu amis, kamu ngapain di rumah ini Sam? Biasanya tak seperti ini," tanya temanku Anton sambil menutup hidung.

"Oh maaf, entah kenapa sesuatu di rumah ini mulai berbau amis, mungkin aku harus membersihkannya," jawabku.


Lalu aku mengajaknya duduk dan kami berbincang bincang walau agak canggung karna bau amis yang ada dirumahku. Kami mulai bercerita tentang hoby kami, dia bercerita tentang hobinya mengoleksi hal berbau mistis dan itu membuatku teringat tentang boneka manekin baruku. Aku merasa ada de javu di sini tapi aku tetap mengajaknya ke ruangan tempat manekinku.

"Mana manekinnya?" aku bertanya tanya. Manekin dalam kaca menghilang, aku berbalik ke Anton mukanya berubah menjadi boneka manekin itu, dia berjalan dan menatap tajam ke arahku, membuatku tersudut. Lalu menikam jantungku.

"Aaaaaaaaa! Ha-ha," aku bangun dan terkejut, nafasku tidak teratur. Perasaan itu menghilang ketika perut dan bau amis menyadarkanku. Aku mungkin harus ke dokter memeriksakan perut dan kejiwaanku.

Paginya aku ke Rumah sakit.

"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya kasir ramah.

"Ah, saya mau memeriksa keadaan perut apakah bisa?"

"Oh bisa, silahkan isi formulirnya!" dia memberikan formulir itu.

"Saya mau ke dokter spesialis, agar saya tau kenapa perut ini," kataku mengusap perutku yang sakit.

"Oh, oke baiklah, anda lurus saja ke lorong ini disana dokter telah menunggu," dia mengambil formulir lalu menunjukan arah padaku, dia melayani sangat cepat dan sepertinya tak suka melihatku.

"A,apa, apa-apa'an ini?" aku gemetar ketika masuk ruangan yang hanya sedikit cahaya, semuanya disini hanya patung lilin. Patung lilin manekin itu berbalik dan melihat tajam ke arahku. Aku berlari keluar dan segera masuk ke ruang sebelahnya.

"Permisi," sapaku

"Silahkan masuk, apakah anda saudara Sam?" sapa dokter ramah.

"Ya, saya Sam, dok tolong periksa perut saya," kataku memohon sambil berbaring.

"Oke, baiklah," dia mulai memeriksa dan bingung.

"Dok apakah di rumah sakit ini ada ruang manekinnya?" tanya ku gugup.

"Oh tak ada, disebelah hanya ada ruang mayat!" dokter berbicara sambil terus memeriksa.

"Ah, saudara Sam perut anda sepertinya dimakan sesuatu! Dan membuat ini sangat bau amis," katanya sambil membetulkan maskernya.

"Apa? darimana anda tau dok?" tanyaku.

"Coba anda liat belatung yang ada diperut anda ini! Ini, ini keluar dari dalam melalui lubang yang kecil itu, bagaimana dia masuk?" dia berbicara sambil berlari keluar ketakutan.

Aku melihat belatung itu menggerogoti perutku. Entah kenapa ini terjadi? Bagaimana bisa seperti ini?


Manekin
Part V
Aku tidak hanya melihat belatung, tapi juga

"A, apa,apakah itu tangan?" aku bertanya pada diriku sendiri ketika melihat tangan dari lilin keluar menerobos kulit perutku secara perlahan-lahan hingga tangan itu keluar membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Aku tau sekarang kenapa dokter itu kabur, dia juga melihat tangan lilin itu mencoba keluar dari perutku, sekarang tangan itu merayap, merayap ke leherku dan mencekikku. Tangan itu bau amis dan berbelatung. Perutku semakin sakit

"Sam! saudara Sammy! Bangun!"

"APA! APA? Yang terjadi disini," Aku tersentak dari lamunan gilaku, ketika dokter itu berteriak kepadaku. Aku masih merasakan sakit diperutku.

"Saudara Sammy, apakah anda makan sesuatu yang busuk atau semacamnya?" tanya dokter itu.

"Ah, ah, tidak dok, seingat saya tidak ada," aku menjawab pertanyaan dokter itu.

"Perut anda mengalami sakit karna makanan yang anda makan sepertinya bergizi buruk, beracun atau semacamnya, dan sepertinya anda butuh ke psikolog, saya lihat anda melamun tak karuan, ini obatnya," dokter itu menjelaskan dan memberi obat.

"Ah, begitu dok, terima kasih," aku lalu pergi dan berterima kasih dan berjalan ke psikolog terdekat.

Aku masih tak percaya semua hal yang ku alami. Semuanya terasa begitu nyata. Aku terus berjalan dan akhirnya melewati tokoh tua tempat manekin itu ku beli. Toko itu sudah tutup tapi aku masih bisa melihat ke dalam lewat kaca, aku menengok

"hehehe" terdengar suara dari arah dalam, lalu gorden putih yang sedikit menghambat terbuka lebar.

"Baaa!" boneka manekin menengok tepat di depan mataku. Dia melebarkan senyumnya dan tertawa lalu hilang.

Aku hampir pingsan tapi aku mencoba menguatkan diri bahwa itu hanya hayalan. Aku mempercepat langkah menuju psikolog dan akhirnya sampai.

"Permisi, saya Sammy mau periksa kejiwaan, apa ada orang di dalam?" aku mengetuk pintu sambil berbicara.

"Sebentar," suara wanita yang lembut terdengar olehku.

"ngeeek" pintu terbuka dan aku masuk diiringi dokter psikolog yang rumayan cantik.

"Anda ada keluhan apa? Halo, anda ada keluhan apa?"

"Eh, itu dok, saya selalu melamun akhir akhir ini saya merasa dihantui MANEKIN! dirumah saya," kataku sadar dari lamunanku.

"Hmm, begitu mungkin anda harus pindah tempat tinggal dulu, bagaimana kalau anda tinggal di sebelah tempat saya dlu beberapa hari, agar anda bisa mengatakan kemajuan anda pada saya, oh ya nama anda Sammy, saya akan ingat itu," katanya santai.

"Ah, baiklah untuk sementara saya akan menginap di sebelah dok kalau begitu kata anda," jawabku.

Aku akhirnya pindah ke penginapan disebelah tempat praktek psikolog itu dan meninggalkan semua koleksi manekinku.

Hari pertama aku masih dihantui manekin itu, dia datang padaku, membawa bukan pisau tapi cuma tubuhnya yang aneh dengan belatung berjalan perlahan ke arahku dan menendang lalu menusuk mataku, menyiksaku dengan merobek perutku sangat kejam. Aku mencoba mengalahkan mimpi buruk itu dengan menceritakannya pada dokter pada waktu siang... Dia menjawab bahwa mungkin aku harus memakai benda yang membuatku nyaman. Aku kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu dan mencium bau itu sudah menghilang tapi aku merasa ada yang tidak beres.


Manekin
Part VI [End Story]
aku menuju ke kamar dan mengambil sebuah miniatur kesukaanku, tapi perasaan aneh itu kembali lagi. Aku mencoba mengambil barang dengan cepat, lalu tanpa sengaja aku melihat semua manekinku tlah hilang. Aku terpaku di tangga melihat darah yang berserakan, darah itu sepertinya darah bekas aku ditusuk atau entahlah yang jelas ini darah yang telah mengering, tapi aku kira itu Cuma mimpi. Pikiranku seketika teringat akan kejadian dimana aku ditusuk dengan kejam. Aku masuk ke basemen dan memeriksa. Kaca tempat manekin yang pecah bertebaran dan membuat semua terlihat kacau aku melihat berkas darah.

“Srett, srett..” suara seperti sesuatu diseret terdengar. Aku keluar dari basemen dan melihat tubuhku menyeret manekin itu lalu tubuhku tertawa jahat. Tubuhku yang lain melihat ke arahku dan tersenyum kejam. Dengan cepat dia menyeret manekin itu dan menghilang entah kemana.

Aku berlari keluar dan menuju tempat psikolog untuk menceritakan semua yang aku alami di rumah.

“Oh sepertinya anda akan mengalahkan ketakutan anda, atau mungkin anda harus banyak melakukan aktifitas yang membuat kesenangan agar terhindar dari halusinasi yang anda katakan.,” Kata psikolog cantik itu padaku.

Hari Kedua.

Aku mulai melupakan manekin itu mungkin karna dokter yang membantuku untuk melupakannya.

Aku tak percaya kedekatanku dengan dokter ini membuatku mungkin jatuh cinta lagi. Seperti biasa aku melakukan pemeriksaan rutin.

“Pagi Sammy, bagaimana tidur anda semalam?” tanyanya ramah.

“Pagi dok, Saya Cuma mengalami mimpi, manekin itu datang lalu menusuk perut dan mata saya hingga mata saya keluar,”

“Hmm... sepertinya anda belum mengalami perubahan, tampaknya anda akan butuh waktu lama untuk kembali seperti semula,”

“Oh, Baiklah dokter, terima kasih,” Aku selesai pemeriksaan dan kembali keapartemen di samping tempat praktek dokter tersebut.

Malamnya.

Aku mengalami mimpi bahwa Manekin itu sekarang mengejarku dengan Mobil lalu menabrak tubuhku hingga terluka parah, manekin itu kemudian berjalan ke arahku dan mengikat tubuhku dan membalutnya dengan lilin panas.

“Aaaaah” Aku terbangun dan berkeringat melihat mimpi itu, mimpi itu begitu nyata dan membuatku tak tidur semalaman. Aku tak sabar menunggu pagi hari datang dan memeriksakan keadaanku.

Hari Ketiga

Dokter bertanya padaku bagaimana keadaanku sekarang.

“Saya mengalami mimpi bahwa Manekin itu sekarang mengejar dengan Mobil lalu menabrak tubuh saya hingga terluka parah, manekin itu kemudian berjalan ke arah saya dok dan mengikat tubuhku dan membalutnya dengan lilin panas,”

“Hmm... Kenapa makin parah coba anda tidur mendengarkan musik mungkin stress anda hilang,” Saran dokter itu tenang.

“Baiklah dok saya akan coba, terima kasih,” Aku pergi dari ruangan itu. Tapi aku merasa sikap dokter itu mulai berubah beberapa hari ini.


Hari demi hari aku lewati dan benar saja mimpi itu mulai berkurang dan sekarang anehnya dokter psychologi itu mulai berubah sikapny dia lebih dingin saat menanyakan gangguanku. Dan suatu hari dia menghilang.

Pagi ini aku kembali mendapat boneka manekin baru dan sekarang boneka itu memiliki wajah dokter yang cantik dengan pakaiannya. Aku menempatkannya di toko tua ku tapi karna tampaknya tak ada yang membeli aku meletakkannya di basemen dan menempatkannya di kaca. Aku ingat bahwa mimpi dan halusinasiku jadi nyata, tapi berbanding terbalik dengan apa yang kualami.

Dan aku sekarang tinggal di rumah sakit jiwa khusus penjahat karna MANEKIN yang ku buat. Aku tak pernah punya teman, kecuali teman khayalanku. aku dijauhi karna kecintaanku pada MANEKIN ASLI buatanku...

-THE END-

Nb : krisar,,, kritik dan saran... trus boleh request tema apa yang mau dibuat selanjutnya....

Kamu baru saja membaca tentang Horor Manekin "Creepypasta versi urbanlegend.id" (Complete)

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more