Sosok Raksasa Perokok di Atas Pohon Rindang Filipina
Sosok Raksasa Perokok di Atas Pohon Rindang Filipina
Perkiraan waktu membaca Menit
Kapre itu legenda urban dari Filipina tentang sosok raksasa tinggi, badannya hitam, berbulu, dan suka duduk di atas pohon besar sambil merokok cerutu. Badannya besar dan kekar, terus biasanya cuma memakai cawat tradisional yang disebut bahag. Kapre ini tidak selalu jahat. Tapi, dia suka jahil bikin orang bingung dan tersesat di daerah rumahnya sendiri, atau nempel ke wanita yang dia sukai sampai membawa nasib buruk.
Cerita dan Pengalaman tentang Kapre
Waktu umurku masih delapan tahun, tiap libur sekolah orang tuaku selalu mengajak menginap di rumah kakek dan nenek. Rumah mereka ada di desa kecil di Filipina. Halaman belakang rumah kakek luas sekali dan ada pohon akasia tua yang sangat besar. Karena aku cucu tunggal, aku dimanja sekali kalau main di sana. Dari pagi sampai sore, aku bebas lari-larian di halaman.
Ada satu kejadian pas liburan tahun itu yang tidak pernah bisa aku lupa. Sore itu hari mulai gelap. Angin lagi tidak ada sama sekali, tapi dahan bagian atas pohon akasia malah goyang sendiri lumayan kencang. Pas aku lihat ke atas, di balik daun-daunnya, keluar asap putih tebal berkepul-kepul. Mirip seperti ada orang yang sedang membakar sampah di atas pohon. Bau asapnya beda dari kayu bakar biasa. Baunya tajam sekali, khas bau tembakau atau cerutu.
Aku sempat berdiri diam di tengah halaman sebentar karena merasa aneh. Lucunya, pas mau jalan balik ke pintu belakang rumah, aku merasa asing sama halaman itu. Padahal itu halaman kakekku sendiri yang tiap hari aku pakai main. Aku muter-muter di dekat semak dan pohon, bingung jalan mana yang menuju teras. Kaki rasanya cuma jalan di tempat yang sama. Bentuk rumah dan halamannya rasanya berubah total.
Lagi bingung begitu, dari atas pohon terdengar suara orang tertawa pelan tapi jelas sekali di telingaku. Suaranya berat. Pas aku beranikan diri lihat ke dahan atas, di balik asap tebal, ada dua titik merah besar menyala terang. Mirip sepasang mata yang sedang memperhatikan aku di bawah.
Tidak lama kemudian, kakek keluar dari pintu dapur sambil memanggil namaku. Saat itu juga rasa bingungku hilang. Jalan ke teras kelihatan lagi dengan jelas. Aku langsung lari ketakutan ke arah kakek. Kakek cuma tersenyum kecil. Katanya, penunggu pohon itu cuma sedang jahil mengerjaiku. Kakek juga cerita, kalau malam-malam melihat banyak kunang-kunang kelap-kelip di atas pohon akasia, itu belum tentu serangga. Bisa saja itu percikan api dari cerutu si raksasa yang jatuh.
Asal-Usul dan Fakta
Legenda Kapre ini sebenarnya punya sejarah panjang dan tercatat dalam dokumen sejarah Filipina. Nama Kapre sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu kafir. Kata ini dibawa orang Spanyol setelah berinteraksi dengan orang Moor. Zaman penjajahan Spanyol dulu, istilah ini dipakai orang Spanyol dan warga pesisir yang sudah Kristen untuk menyebut suku asli Negrito atau Aeta yang kulitnya gelap dan rambutnya keriting. Dari sudut pandang sosial masa itu, gambaran fisik suku asli tadi lama-lama bergeser dalam cerita rakyat jadi sosok raksasa hitam berbulu yang menakutkan.
Catatan tertulis paling awal soal istilah ini sudah ada dari abad ke-16. Antonio Pigafetta, penulis yang ikut rombongan Ferdinand Magellan, sempat mencatat kata chapri waktu berlabuh di Pulau Suluan. Di catatannya, Pigafetta menggambarkan warga lokal sebagai orang berkulit gelap, bertato, pakai kain dari kulit kayu, serta membawa perisai besar dan senjata berhias emas. Selain itu, istilah cafre juga pernah dipakai untuk menyebut budak dari Papua yang dibawa pedagang Portugis ke Filipina sebelum perbudakan dihapus kerajaan Spanyol.
Di mitologi lokal, Kapre juga dikenal dengan nama agta. Tempat tinggal favoritnya itu pohon-pohon raksasa. Misalnya pohon akasia, pohon mangga yang tidak berbuah, bambu, dan pohon beringin yang di sana disebut balete. Katanya, Kapre ini makhluk malam yang makan apa saja dan tidak selalu berniat membunuh. Tapi, dia bisa marah besar dan balas dendam kalau pohon tempat tinggalnya ditebang manusia.
Ada banyak fakta menarik dari kepercayaan warga setempat soal makhluk ini. Kapre sering digambarkan memakai cawat bahag dan kadang punya sabuk ajaib. Sabuk ini bikin Kapre bisa menghilang dari pandangan mata manusia biasa. Ada juga versi yang bilang Kapre menyimpan batu putih ajaib yang ukurannya sedikit lebih kecil dari telur puyuh. Siapa saja yang berhasil mengambil batu itu dari Kapre, katanya makhluk tersebut bakal mengabulkan semua permintaannya.
Kalau dinalar, ada penjelasan logis kenapa legenda ini bisa muncul. Kebiasaan Kapre yang suka merokok cerutu berhubungan dengan masuknya komoditas tembakau dari Karibia dan Amerika Latin ke Filipina pas zaman penjajahan Spanyol. Kepulan asap tebal di atas pohon kemungkinan besar cuma kabut malam, asap dari orang membakar sampah pertanian, atau fenomena alam biasa yang pas dengan imajinasi warga. Kalau soal orang bingung dan tersesat di halaman sendiri, itu sering terjadi karena orang kehilangan arah saat kondisi gelap, panik, atau capek, yang akhirnya dikaitkan dengan ulah makhluk halus.
Sosok Kapre juga sudah lama masuk ke budaya populer Filipina. Tahun 1955, pelukis terkenal Carlos Botong Francisco pernah menggambarkan Kapre di artikelnya sebagai raksasa mukanya jelek dan tangannya berbulu yang tinggal di pohon akasia bekas tersambar petir. Karakter ini juga sering muncul di komik superhero terkenal Filipina, Darna, buatan Mars Ravelo dan Nestor Redondo pada era 1950-an. Di film layar lebar, Kapre pernah muncul di Pangarap ng Puso (2000) karya Mario O'Hara, film fantasi Kamakalawa (1982), film horor Ang Pamana (2006), Ang Panggagahasa kay Fe (2009), sampai serial horor Bite Size Halloween episode tahun 2022.
Nanti malam, kalau kamu sedang jalan di bawah pohon akasia rindang terus mencium bau asap cerutu yang menyengat, coba tengok ke dahan atas. Siapa tahu, ada sepasang mata merah besar yang sedang duduk santai memperhatikanmu dari balik daun.
Referensi: Wikipedia: Kapre, Wikipedia: Daftar makhluk mitologis
Kamu baru saja membaca tentang Sosok Raksasa Perokok di Atas Pohon Rindang Filipina