Daster Merah yang Ditumpuk di Lemari Baju
Daster Merah yang Ditumpuk di Lemari Baju
Perkiraan waktu membaca Menit
Sampai sekarang, aku gak pernah berani tidur kalau lampu kamar dimatikan total. Tiap jam tiga pagi, aku pasti terbangun gara-gara merasa ada bisikan pelan banget di dekat kuping. Bisikan itu selalu ngomong kata yang sama persis kayak malam kejadian tiga tahun lalu.
Waktu itu aku sama istriku, Maya, baru dua minggu pindah ke desa kecil di daerah Malang. Karena aku warga baru, aku dapat giliran ronda malam pertama di pos ujung RT.
Jam enam sore, Pak Kus, ketua RT di situ, lewat depan pos pas aku lagi nyalain lampu. Dia sempat ngelihatin aku sebentar terus berhenti di pinggir jalan.
"Mas, sampeyan ronda sendiri malam ini soalnya Pak Jarwo izin," kata Pak Kus. "Jangan lupa, kalau bosen, jangan sekali-kali ngitung jumlah tiang bambu pos ini sampai jam lima pagi."
Habis ngomong gitu, Pak Kus langsung jalan gitu aja tanpa nunggu jawabanku. Aku cuma mengangguk, mikirnya itu cuma mitos orang tua biar warga gak melamun pas ronda.
Jam sembilan malam, desa sudah sepi. Cuma ada suara jangkrik sama angin lewat. Maya sempat kirim pesan WhatsApp, nanya aku sudah makan apa belum, terus pamit tidur duluan karena badannya agak gak enak.
Gara-gara bosen gak ada temen ngobrol, aku duduk di balai kayu sambil merokok. Mataku iseng ngelihatin tiang-tiang bambu yang nahan atap pos ronda. Lupa sama omongan Pak Kus, jariku mulai menunjuk satu per satu tiang itu sambil ngitung pelan di dalam hati.
Siji, loro, telu, papat, limo, enem, pitu.
Aneh. Pas sore tadi perasaan tiang bambu pos ini cuma ada enam. Aku coba ngitung ulang dari kiri ke kanan. Hasilnya tetap pitu. Pas aku mau ngitung buat ketiga kalinya, ada suara daun kering terinjak di balik semak-semak belakang pos.
Suara itu disusul bisikan pelan banget, tapi kedengaran jelas di kupingku.
"Kurang siji..."
Aku langsung berdiri dari dudukku. Aku sorot semak-semak itu pakai senter pos. Gak ada siapa-siapa di sana, cuma daun pisang yang goyang kena angin. Perasaanku mulai gak enak, tapi aku usahakan tenang. Aku mikir itu cuma ulah anak-anak desa yang mau ngagetin orang baru.
Jam satu malam, gerimis mulai turun tipis-tipis. Hawa dingin Malang bikin aku makin pengen cepat pagi. Dari arah gang, aku ngelihat ada cewek jalan pelan bawa payung hitam.
Pas makin dekat, ternyata itu Maya. Dia pakai daster batik merah yang biasa dipakai tidur di rumah. Aku kaget, kok jam segini istriku malah keluar rumah sendirian.
"Lho, Yang, kok belum tidur? Tadi katanya gak enak badan?" tanyaku sambil geser duduk biar dia bisa nemani di balai kayu.
Maya gak langsung menjawab. Dia cuma senyum tipis yang kelihatan agak kaku, terus duduk di sampingku. Tangannya dingin banget pas gak sengaja tersenggol tanganku.
"Gak bisa tidur, Mas. Sepi di rumah," kata Maya. Suaranya agak beda dari biasanya, kayak orang lagi flu.
Aku cuma mengangguk, terus mencoba ngajak ngobrol biasa. Tapi Maya lebih banyak diam. Matanya cuma menatap lurus ke tiang-tiang bambu di depannya.
Tanpa sebab apa-apa, Maya nyeletuk pelan.
"Kurang siji..."
Aku nengok cepat ke arahnya. "Kurang siji apa, Yang?"
Maya gak menjawab. Dia cuma senyum lagi tanpa kedip sama sekali. Aku mulai merasa ada yang aneh. Maya yang aku kenal itu penakut banget, gak mungkin berani keluar rumah sendirian jam satu malam lewat gang yang gelap.
Jam tiga pagi, gerimis sudah reda, tapi rasanya malah makin gak enak. Maya masih duduk sedekap di sampingku. Jalannya waktu rasanya lambat banget. Aku bolak-balik melihat jam di HP, nunggu jam lima pagi biar bisa balik ke rumah.
Tanpa ngomong apa-apa, Maya mengulurkan tangannya yang pucat. Jari telunjuknya mulai menunjuk tiang bambu pos satu per satu, persis kayak yang tak lakukan jam sembilan malam tadi.
"Siji... loro... telu..." Maya ngitung pelan banget.
Pas sampai hitungan pitu, tangannya gak berhenti. Jari telunjuknya malah berbelok, menunjuk tepat ke dadaku.
"Kurang siji..." bisiknya pas di depan mukaku.
Aku kaget setengah mati. Pas lampu pos agak kedip-kedip, aku baru sadar kalau bayangan Maya di lantai semen gak ada. Padahal lampu tepat ada di atas kepala kami.
Badanku langsung lemas. Aku mau lari tapi kakiku rasanya berat banget, kaku gak bisa digerakkan. Maya terus menatapku tanpa kedip, senyum kakunya makin lebar dan kelihatan aneh banget.
Aku cuma bisa meram rapat-rapat sambil membaca doa sebisaku di dalam hati. Aku gak berani membuka mata sama sekali, biarpun dengar suara napas berat makin dekat di kupingku.
Sampai akhirnya, suara azan subuh dari musala desa berkumandang keras.
Saat itu juga, rasa sesak di sekitarku langsung hilang. Aku membuka mata perlahan. Cewek yang duduk di sampingku tadi sudah gak ada. Payung hitamnya juga hilang. Pos ronda kosong melompong.
Kakiku yang tadinya kaku langsung bisa digerakkan lagi. Tanpa pikir panjang, aku langsung lari terbirit-birit balik ke rumah.
Sampai di rumah, aku gedor pintu depan sampai Maya membukakan pintu sambil ngusap matanya yang masih sembab, kayak orang baru bangun tidur nyenyak.
"Kenapa sih, Mas? Kok gedor-gedor kayak dikejar setan?" tanya Maya bingung.
Aku langsung memeluk Maya kencang banget. Tangannya hangat, suaranya halus kayak biasa. Hatiku lega luar biasa karena mikir sosok yang nemani aku di pos ronda tadi cuma penunggu pos yang nyamar jadi istriku.
Hari itu juga aku memutuskan gak mau ambil giliran ronda malam lagi.
Tapi ketenanganku cuma bertahan dua hari. Waktu aku lagi beres-beres lemari baju di kamar, aku nemu daster batik merah milik Maya yang dipakainya malam itu. Daster itu diselipkan di tumpukan baju paling bawah, dalam keadaan basah kuyup dan bagian bawahnya penuh lumpur hitam yang baunya kayak tanah kuburan.
Pas tak tanyakan kenapa dasternya basah dan kotor, Maya yang lagi berdiri di depan cermin cuma diam, lalu berbalik menatapku sambil tersenyum kaku. Persis kayak senyuman cewek di pos ronda waktu itu.
Kalau kalian pindah ke desa baru dan dapat giliran ronda, turuti saja apa kata warga lokal. Jangan pernah coba-coba menghitung sesuatu yang dilarang, atau sesuatu itu bakal ikut pulang dan tidur di sebelahmu.
Kamu baru saja membaca tentang Daster Merah yang Ditumpuk di Lemari Baju