✕

Tukar Kepala



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Bau ampas kedelai rebus yang asam dan basi selalu melekat di kuku tangan Mardi setiap kali ia pulang menjelang magrib. Pabrik tahu milik Haji Mardani di pinggiran Sungai Brantas itu sudah berdiri sejak tahun delapan puluhan, menggunakan ketel uap tua berbahan bakar sekam padi yang sering mendesis galak jika tekanannya terlalu tinggi. Mardi adalah buruh yang bertugas menjaga tungku pembakaran sekaligus memeras sisa bubur kedelai menggunakan mesin pres hidrolik manual yang giginya sudah aus.

Sudah tiga bulan terakhir, punggung Mardi terasa remuk setiap kali bangun tidur. Bukan sekadar pegal linu biasa akibat mengangkat karung kedelai seberat lima puluh kilogram, melainkan rasa kaku yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kepala, seolah lehernya sedang menopang beban besi cor yang basah.

Malam itu, hujan gerimis turun merata di atas seng pabrik, menciptakan suara gemerisik konstan yang meredam suara aliran Sungai Brantas di belakang bangunan. Jam dinding plastik di dekat kantor mandor menunjuk pukul sebelas malam. Sisa ampas kedelai harus segera dibuang ke lubang pembuangan di samping pabrik sebelum pagi tiba, perintah Haji Mardani yang tidak bisa ditawar.

Mardi menyeret gerobak dorong beroda satu yang berdecit nyaring di atas lantai semen yang licin. Di luar, udara malam berbau lumpur basah dan belerang tipis. Saat ia membuang gundukan ampas terakhir ke dalam liang pembuangan, sorot lampu senter handphone miliknya menangkap sesuatu yang berkilau di antara tumpukan ampas basah.

Bukan batu atau logam biasa. Sebuah patung kepala manusia seukuran kepala asli, terbuat dari tanah liat hitam yang dibakar setengah matang. Yang membuat bulu kuduk Mardi meremang bukan bentuknya yang menyerupai topeng tanpa mata, melainkan adanya lilitan kawat tembaga halus yang menembus bagian pelipis, menyatu dengan rongga telinga seperti sirkuit radio tabung kuno yang sudah karatan.

Mardi memunggunginya, berniat mengabaikan benda itu. Di pabrik tua, orang-orang sering membuang benda-benda aneh—sisa ritual tolak bala atau barang pribadi milik pekerja lama. Namun, saat ia mendorong gerobaknya kembali ke dalam gudang, suara gesekan roda gerobak itu berubah. Bukan lagi *kik-kik* besi berkarat, melainkan suara gesekan batu pipisan yang berputar lambat, berirama persis dengan dengkuran napas seseorang di belakang lehernya.

Ia menoleh cepat. Gerobaknya kosong. Tapi aroma ampas kedelai basah yang tadinya berada di luar kini tercium sangat pekat di dalam ruangan gudang yang kering, bercampur dengan bau sengatan listrik dari kabel terbakar.

Keesokan harinya, rasa kaku di tengkuk Mardi semakin parah. Ia bahkan tidak bisa menolehkan kepala ke kiri tanpa rasa sakit yang menusuk hingga ke bola mata. Saat ia bercermin di kamar mandi sempit rumah petaknya, ia terkejut melihat kulit di sekitar lehernya menggelap, pecah-pecah seperti tanah liat kering yang terkena terik matahari. Garis-garis hitam tipis menyerupai guratan kawat tembaga samar-samar terlihat di bawah kulit rahangnya.

Mardi mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya alergi dari uap asam kedelai. Namun, ketika ia kembali bekerja pada shift malam berikutnya, keanehan itu mulai merenggut kesadarannya.

Pukul dua belas malam, ketika mesin ketel uap dimatikan untuk pendinginan, Mardi mendengar suara bisikan dari dalam ruang ganti buruh. Suara itu tidak jelas, seperti orang yang berbicara di dalam air, namun ia mengenali nada bicara itu—itu adalah suara Pak Darso, buruh senior yang dikabarkan kabur dari pabrik sepuluh tahun lalu karena mencuri uang kas gaji.

Mardi mendekati pintu ruang ganti yang berderit. Di dalam, lampu bohlam kuning berpijar lemah. Di atas bangku panjang kayu jati, kepala tanah liat berbalut kawat tembaga itu duduk tegak menghadap pintu. Bagian mulutnya yang berupa retakan horizontal terbuka perlahan, mengeluarkan suara mendesis rendah yang bergesekan dengan frekuensi radio malam hari.

*“Tekanannya kurang… katup bawah belum dikunci… kepala bautnya aus…”* suara itu keluar dari rongga tanpa lidah tersebut, menggunakan suara Pak Darso yang serak.

Mardi mundur perlahan, punggungnya menabrak dinding papan kayu. Ia ingat cerita lama yang sempat beredar di antara buruh lama: Haji Mardani tidak pernah benar-benar memecat pekerja yang membangkang atau mengetahui kecurangan keuangan pabrik. Mereka hanya "diberhentikan" secara permanen, dan tungku ketel uap tua di sudut pabrik itu tidak pernah dingin sejak hari-hari pertama pabrik beroperasi.

Kepala tanah liat itu perlahan memiringkan posisinya, seolah meneliti bentuk tengkorak Mardi dari kejauhan. Kawat-kawat tembaga di pelipisnya mulai bergetar halus, memancarkan dengung listrik pelan yang membuat bulu tangan Mardi berdiri.

Mardi mencoba berlari ke arah pintu keluar utama pabrik, namun rantai besar dengan gembok berkarat sudah melintang di handle pintu. Haji Mardani selalu mengunci para pekerja shift malam dari luar setiap pukul sebelas untuk mencegah pencurian bahan baku.

Dari sudut ruangan, suara mesin pres hidrolik mulai mendengung sendiri. Tuas besinya bergerak turun-naik tanpa ada yang menekan, memeras udara kosong dengan bunyi *bengkel-bengkel* yang memekakkan telinga.

Mardi merasakan tarikan kuat yang luar biasa di bagian tengkuknya. Kepalanya terasa ditarik ke belakang oleh kekuatan tak kasat mata, seolah ada sepasang tangan tak berwujud yang mencengkeram rambut dan rahangnya, memaksanya menyelaraskan posisi dengan kepala tanah liat di ruang ganti.

Di cermin wastafel pencucian tangan di dekat tungku, Mardi melihat bayangannya sendiri mulai berubah. Wajahnya perlahan memucat, retak-retak, dan mengering, sementara kawat-kawat halus dari logam pabrik menembus keluar dari balik kulit pipinya, menghubungkan saraf-saraf kepalanya langsung ke instalasi listrik pabrik yang berdengung konstan.

Menjelang fajar, saat gerimis reda dan suara azan subuh mulai sayup-sayup terdengar dari surau kampung seberang sungai, pabrik tahu kembali sunyi. Gerbang luar dibuka oleh penjaga pagi yang datang menggantikan shift malam.

Di sudut dekat ketel uap, gerobak dorong terisi penuh oleh tumpukan ampas kedelai baru. Dan di atas meja kayu mandor, sebuah kepala tanah liat baru dengan lilitan kawat tembaga yang masih berminyak kering tampak duduk diam, menunggu shift malam berikutnya dimulai.


Kamu baru saja membaca tentang Tukar Kepala

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more