Peti Kayu Hitam di Kos Dinoyo
Peti Kayu Hitam di Kos Dinoyo
Perkiraan waktu membaca Menit
EditSampai sekarang, tiap kali lihat kursi kayu tua di dalam kamar, tangan saya pasti langsung keringatan. Saya juga tidak pernah berani mematikan lampu kamar kalau mau tidur, biarpun bayar listriknya jadi agak boros.
Ini semua gara-gara kejadian tahun 1996 lalu, pas saya baru pertama kali merantau ke Malang buat kuliah. Waktu itu saya dapat kamar kos murah di daerah Dinoyo. Kamarnya agak lembap tapi lumayan luas. Saya tinggal sekamar sama teman satu kampus namanya Doni, anak Blitar.
Di kamar itu, Doni bawa satu peti kayu hitam ukuran sedang punya almarhum kakeknya. Peti itu ditaruh di pojok kamar. Di samping peti, ada kursi kayu kecil alias dingklik dari kayu jati yang tebal dan lumayan berat.
Doni pernah cerita kalau kakeknya dulu punya perjanjian pesugihan. Sebelum meninggal, peti itu diwariskan ke keluarga Doni. Ada satu pantangan keras dari ibunya Doni: peti itu tidak boleh dibuka sebelum jam 6 pagi. Kalau nekat dibuka sebelum jam 6, nyawa keturunannya yang bakal diambil buat bayar utang janji itu.
Awalnya saya pikir itu cuma cerita nakut-nakuti saja biar tidak ada yang mencuri isi peti. Tapi pas masuk minggu kedua kami ngekos, hal aneh mulai kejadian.
Malam pertama keanehan muncul, sekitar jam satu malam saya terbangun gara-gara haus. Lampu kamar waktu itu dimatikan Doni. Saya nyalakan korek gas buat cari botol air di meja.
Pas apinya menyala, mata saya ngelihat ke pojok kamar. Dingklik kayu yang tadinya ada di sebelah peti, posisinya sudah bergeser setengah meter ke dekat pintu. Padahal kursi itu berat sekali. Saya kira Doni sempat memindahkannya sebelum tidur, jadi saya tidak ambil pusing dan lanjut tidur lagi.
Dua malam setelah itu, makin aneh lagi. Jam dua malam, saya dengar suara garukan pelan dari dalam peti kayu. Suaranya mirip kuku yang menggaruk kayu dari dalam.
Saya langsung nyalakan lampu kamar. Doni ternyata belum tidur. Dia cuma duduk di pinggir kasur sambil ngelihatin peti itu dengan mata melotot.
Yang bikin saya takut, kursi kayu tua itu sudah pindah posisi lagi. Sekarang kursinya ada di tengah ruangan dan menghadap ke kasur Doni. Padahal lantai kamar kami cuma semen kasar. Kalau kursinya digeser, pasti kedengaran suara seretan yang bising. Tapi tadi tidak ada suara sama sekali.
Doni nengok ke saya terus berbisik, "Iku panggil-panggil aku, Mas."
Saya coba tenangin Doni dan nyuruh dia tidur. Saya seret kursi berat itu balik ke pojok kamar, terus mematikan lampu lagi.
Puncaknya pas malam Jumat Kliwon. Udara Malang malam itu dingin sekali. Jam tiga subuh, saya terbangun gara-gara bau bangkai busuk yang parah banget di dalam kamar.
Saya buru-buru raba dinding buat menyalakan sakelar lampu.
Pas lampu menyala, saya kaget sekali. Kursi kayu tua itu sekarang sudah ada di samping kasur saya, cuma berjarak beberapa sentimeter dari muka saya.
Parahnya lagi, Doni lagi berdiri di depan peti kayu hitam di pojok. Petinya sudah terbuka sedikit dan gemboknya tergeletak di lantai.
Dari celah peti yang terbuka, keluar asap tipis sama bau busuk yang makin kuat. Saya lihat ada jari-jari tangan warna hitam kering dengan kuku panjang keluar memegang pinggiran peti.
"Gak kuat aku, Mas. Dia minta janjinya sekarang," kata Doni pelan, suaranya serak.
Saya panik dan langsung ingat pantangannya: tidak boleh buka peti sebelum jam 6 subuh. Saya lihat jam dinding kamar, masih jam empat pagi. Berarti masih kurang dua jam lagi.
Tanpa pikir panjang, saya lari mendekati peti itu. Tutup petinya saya tendang sampai rapat lagi, terus saya langsung duduk menimpa bagian atas peti pakai seluruh berat badan saya.
Peti kayu di bawah saya langsung bergetar hebat. Ada suara gedoran kencang dari dalam peti yang mencoba mendorong tutupnya. Di saat bersamaan, kursi kayu di dekat kasur bergeser sendiri dengan cepat, muter-muter mengelilingi kami sambil mengeluarkan suara gesekan kasar di lantai semen.
Doni langsung pingsan di lantai. Saya cuma bisa bertahan menahan peti itu sekuat tenaga sambil terus baca doa apa saja yang saya ingat.
Dua jam itu rasanya menyiksa sekali. Peti terus bergetar dan kursi itu terus berputar-putar di kamar. Saya sampai menahan napas gara-gara bau busuknya makin parah.
Tepat jam satu pagi lewat beberapa jam—pas jam enam pagi—suara azan dan cahaya matahari mulai masuk dari ventilasi atas pintu. Getaran di peti langsung berhenti total. Kursi kayu yang berputar juga berhenti pas di dekat kaki saya. Kamar langsung sepi.
Saya langsung lemas dan jatuh terlentang di lantai. Doni selamat pagi itu, tapi mentalnya kena. Sejak hari itu Doni jadi pendiam dan tatapannya selalu kosong. Seminggu kemudian dia dijemput orang tuanya pulang ke Blitar dan tidak pernah kuliah lagi. Kata temannya, Doni sering bicara sendiri sama kursi kosong di rumahnya.
Saya sendiri langsung beres-beres barang dan pindah dari kos itu hari itu juga.
Tapi kejadian itu bikin trauma sampai sekarang. Tiap kali saya menginap di hotel atau rumah orang lain yang ada kursi kayunya, kursi itu pasti bergeser sendiri beberapa sentimeter mendekati kasur saya tiap kali saya terbangun tengah malam.
Kalau keluarga kalian punya barang tua peninggalan yang ada pantangan khususnya, tolong jangan pernah coba-coba melanggarnya. Kalau barang itu mulai kelihatan aneh, segera tinggalkan dan jangan pernah disentuh lagi.
Kamu baru saja membaca tentang Peti Kayu Hitam di Kos Dinoyo