✕

Dinding Kapur Terakhir



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Matahari tepat di atas ubun-ubun ketika Bayu menyeimbangkan tripoda alat *total station* miliknya di bukit karst Sektor 4. Di kawasan tambang batu kapur perbatasan Gunungkidul itu, tidak ada tempat berteduh. Angin tebal membawa debu putih yang beterbangan seperti serbuk kapur tulis, menempel di bulu mata, sudut bibir, dan masuk ke lipatan leher yang berkeringat.

Bayu, seorang topografer muda yang disewa oleh perusahaan semen swasta, mengelap lensa keker dengan ujung kemejanya. Ia harus menuntaskan pemetaan koordinat peledakan sebelum petunjuk teknis ditandatangani malam nanti. Ibu Bayu di Yogyakarta membutuhkan biaya cuci darah bulanan yang tidak murah, dan bonus dari proyek perluasan tambang ini adalah alasannya bertahan di bukit terik yang membakar kulit.

"Jangan diukur terlalu dalam yang di cekungan itu, Mas Bayu," suara Pak Yanto, mandor lokal berusia lima puluhan dengan kulit legam terbakar matahari, memecah derum mesin giling di kejauhan. Ia berdiri beberapa meter di belakang Bayu, mengunyah sirih hingga ludahnya berwarna merah pekat.

Bayu tidak menoleh. Matanya tetap melekat pada lensa optical sight. "Kenapa, Pak? Pihak eksploitasi minta data elevasi tebing Sektor 4 sampai koordinat paling bawah. Kalau rongganya tidak terukur, volume dinamitnya tidak bisa dihitung."

"Sektor 4 itu kapur tua. *Kapur mati*," ujar Pak Yanto sambil meludah ke atas tanah putih yang kering. "Dulu waktu saya masih kecil, kalau ada ternak mati atau bencana, orang tua-tua tidak mengubur di tanah merah. Di sini tanah tebal susah dicari. Mereka lempar ke *luweng*—lubang angin kapur—di dinding itu. Kapurnya basah, makin disiram air makin keras. Apa saja yang masuk ke sana, batu itu yang makan."

Bayu hanya tersenyum tipis, menganggapnya cerita takhayul khas buruh tambang untuk menakuti orang kota. Ia memutar sekrup pengatur halus pada alatnya, mengarahkan titik laser merah ke ceruk gelap di pinggang tebing kapur yang baru separuh dikepras dinas teknis minggu lalu.

Ia menekan tombol pengukur jarak digital.

*Bip.*

Layar LCD pada alatnya menampilkan angka: *42,8 meter*.

Bayu mencatatnya di papan jalan. Namun, saat ia hendak mengunci posisi horizontal, angka di layar digital mendadak berubah sendiri.

*41,5 meter.*
*39,2 meter.*
*36,0 meter.*

Bayu mengerutkan dahi. Ia memeriksa tripoda. Kaki besi alatnya tertancap kokoh di batuan kapur padat, tidak ada getaran dari mesin berat di bawah. Titik laser merah masih membentur dinding tebing yang sama. Tapi angka di layar terus mengecil, seolah-olah dinding batu berjarak puluhan meter di depannya sedang bergerak maju menghampirinya.

Ia melepas pandangan dari layar dan menatap tebing secara langsung. Tebing itu diam. Raksasa putih bisu dengan gurat-gurat bekas gilasan ekskavator.

"Ada apa, Mas?" tanya Pak Yanto.

"Alatnya error mungkin, Pak. Terlalu panas," kilih Bayu, meski dalam hati ia ragu. Alat ini baru dikalibrasi bulan lalu di Bandung.

Ia mematikan daya, menunggu sepuluh detik, lalu menyalakannya kembali. Titik laser dipancarkan lagi ke ceruk yang sama. Kali ini layar menunjukkan angka *12,4 meter*.

Jarak yang tidak masuk akal. Ceruk itu jelas-jelas berada lebih dari empat puluh meter di seberang cekungan.

Penasaran menggantikan rasa lelahnya. Bayu mengambil penembak jarak portabel (*handheld laser meter*) dari tasnya, membiarkan *total station* tetap berdiri di tripoda, lalu melangkah turun menyusuri jalan setapak berdebu menuju dasar cekungan Sektor 4.

"Mas Bayu! Mau ke mana? Sebentar lagi jam istirahat!" teriak Pak Yanto dari atas.

"Cuma mau cek sampel batuan di bawah sebentar, Pak! Cuma lima menit!" balas Bayu tanpa menghentikan langkah.

Suasana di dasar cekungan terasa berbeda secara drastis. Bunyi deru truk semen dan raungan mesin pemecah batu yang biasanya memekakkan telinga mendadak terdengar redup, seolah tertahan oleh dinding-dinding kapur raksasa yang mengelilingi tempat itu. Dinding batu kapur memiliki sifat menyerap suara yang aneh; tidak ada gema, tidak ada pantulan. Hanya ada keheningan yang padat dan menekan udara.

Bayu berdiri tepat di bawah ceruk gelap yang tadi ia tembak dengan laser. Ceruk itu ternyata bukan sekadar rekahan luar, melainkan mulut celah sempit yang mengarah masuk ke dalam perut bukit karst.

Bau udara dari dalam celah itu menusuk hidung—bukan bau tanah basah atau cacing, melainkan bau kapur tohor yang menyengat, mirip semen segar yang baru dicampur air, bercampur aroma manis tengik yang sulit dijelaskan.

Bayu menyalakan lampu senter kepala. Ia mengarahkan cahayanya ke dalam rekahan batu.

Dinding di dalam celah tidak kasar seperti batuan kapur luar yang terkikis angin. Batuan di dalam justru halus, melengkung-lengkung secara organik, dan dilapisi kerak putih lembap yang berkilat seperti lemak dingin.

Bayu membungkuk dan melangkah masuk beberapa meter. Udara di dalam terasa sangat lembap. Keringat di dahi dan lehernya bercampur dengan debu kapur halus yang melayang di udara, seketika terasa perih dan merekat lengket seperti adonan basah.

Ia menembakkan laser portabelnya ke dinding dalam celah. Layar digital berkedip: *1,2 meter*.

Ia melangkah lagi. Dinding karst di sekelilingnya semakin menyempit. Siku tangannya menyenggol batuan lembap itu. Terasa hangat. Tidak dingin seperti batu pada umumnya.

Saat itulah Bayu melihatnya.

Di permukaan dinding kapur putih yang halus itu, beberapa sentimeter di bawah lapisan kerak kalkir transparannya, terdapat gundukan-gundukan berbentuk aneh. Bayu mendekatkan senternya.

Itu bukan fosil kerang atau terumbu karang purba yang biasa ditemukan di batuan karst Gunungkidul.

Di balik kerak putih tembus cahaya itu, terperangkap bentuk-bentuk relief yang utuh. Sebuah telapak tangan manusia yang terentang dengan jari-jari kaku, diselimuti endapan kalsium tebal hingga menyatu dengan dinding batu. Di sebelahnya, beberapa puluh sentimeter lebih tinggi, terlihat lengkungan bahu dan bagian belakang kepala manusia yang tertutup lapisan putih mengeras, seolah-olah tubuh itu terbenam masuk ke dalam adonan batu yang pernah cair lalu membeku selamanya.

Jantung Bayu mendadak berdegup kencang. Udara di dalam celah mendadak terasa makin sesak.

Ia teringat ucapan Pak Yanto: *Kapur mati. Apa saja yang masuk ke sana, batu itu yang makan.*

Bayu mundur satu langkah, berniat keluar secepatnya dari celah tersebut. Namun, saat tubuhnya berputar, bahunya menabrak dinding batu di seberangnya.

Sempit. Celah itu jauh lebih sempit daripada saat ia masuk tadi.

Bayu memancarkan lampu senter ke arah mulut celah yang tadi ia lalui. Celah yang tadinya selebar pintu rumah itu kini hanya menyisakan celah vertikal selebar jengkal tangan. Kerak kapur basah di dinding-dindingnya seperti menyerap kelembapan dari udara keringat Bayu, membengkak dan mengeras secara perlahan namun pasti.

"Pak Yanto!" teriak Bayu.

Suaranya mati. Dinding kapur di sekelilingnya menelan habis gelombang suara itu tanpa menyisakan gema sedikit pun. Tidak ada jawaban dari luar. Hanya ada bunyi mendesis tipis—bunyi reaktan kimia saat kapur tohor tersiram cairan, perlahan mengering dan mengkristal.

Panic mencengkeram dada Bayu. Ia mencoba memaksakan tubuhnya menerobos celah sempit yang tersisa. Bahu kanannya tergores dinding batu yang tajam. Debu kapur tebal runtuh dari langit-langit celah, jatuh menutupi kepala dan wajahnya.

Ketika debu kapur itu mengenai keringat berlebih di mukanya, rasa terbakar yang hebat menyengat kulitnya. Kapur aktif itu bereaksi dengan cairan tubuhnya, memanas, dan perlahan menggelembung menjadi kerak lunak yang cepat mengeras.

Bayu terjatuh berlutut. Kakinya menyenggol dasar celah yang penuh dengan adonan basah kalsium. Ia memukul-mukul dinding batu dengan penembak jarak portabelnya hingga alat plastik itu hancur berkeping-keping.

Batu itu tidak pecah. Batu itu justru menyerap sisa-sisa plastik dan rasa panas dari tangannya, perlahan menutupi jemarinya dengan kerak putih segar yang tumbuh seperti jamur kalkir.

Di luar, Pak Yanto berjalan mendekati tripoda *total station* yang ditinggalkan Bayu di atas bukit Sektor 4. Angin sore mulai berembus, membawa hawa dingin yang mengusir terik.

Mandor tua itu menatap ke bawah, ke arah dasar cekungan yang sunyi. Mobil bak terbuka milik tim peledakan sudah datang membawa suplai dinamit untuk jadwal esok pagi.

"Mas Bayu!" panggil Pak Yanto sekali lagi.

Tidak ada sahutan.

Pak Yanto menghela napas panjang. Ia menghampiri alat pemeta milik Bayu. Layar digitalnya masih menyala, menampilkan angka koordinat terakhir yang dimasukkan Bayu sebelum turun.

Pak Yanto menatap dinding tebing kapur Sektor 4 di seberang sana. Di dasar cekungan, celah kecil yang tadi sempat terlihat di pinggang tebing kini sudah tidak ada. Yang ada hanya permukaan dinding batu kapur yang rata, putih bersih tanpa cela, mengkilap diterpa sinar matahari sore yang berangsur memerah.

Mandor itu mematikan sakelar *total station*, melipat kaki tripodanya perlahan, lalu memikul alat mahal itu di bahunya. Ia meludah merah ke tanah kapur, menggelengkan kepala, lalu berjalan pulang meninggalkan Sektor 4 yang kian membisu.


Kamu baru saja membaca tentang Dinding Kapur Terakhir

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more