Sekarang Kamu Tahu Part 11 : Sebuah Kisah Nyata dari Mantan Indigo



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit

Sekarang Kamu Tahu Part 11 : Sebuah Kisah Nyata dari Mantan Indigo

Beberapa kali jantung saya berdetak sangat kencang sekali, angin yang berhembus lembut terasa menepis dengan keras, “ada apa ini? kenapa firasat saya tidak enak”. selama berada disekolah saya merasa tidak fokus ditambah beberapa sosok Anjani yang datang menghampiri saya dengan tatapan dingin dan kosong, seperti ada yang ingin ia katakana tapi apa, tidak seperti biasa karna biasanya ia selalu berusaha berkomunikasi dengan saya?. Hati saya terus bertanya-tanya. hingga diperjalan pulang dari sekolah tiba-tiba saja motor saya mogok, “bensinnya penuh, tapi kenapa bisa mati?” saya terus berusaha menyalakan motor saya. Hingga di jalan raya tersebut saya melihat burung berwana hitam yang sangat benyak, seketika keadaan disekeliling saya berubah menjadi kelam, setelah itu sebuah mobil melaju sangat kencang dan dari arah berlawanan muncul sepeda motor, saya melihat dengan jelas bahwa pengemudi sepeda motor itu tidak melihat jalan dengan jelas, pandangannya terhalangi oleh gerombolan burung itu, hingga akhirnya terjadi tabrakan.

Kejadian itu terjadi tepat didepan mata saya, seketika pengemudi motor seorang laki-laki yang mengenakan seragam SMA yang raganya masih utuh dalam beberapa detik raganya hancur. darah segar mengalir di aspal, wajahnya tidak berbentuk, kepalanya hancur, dan yang lebih mirisnya saya melihat jantungnya masih berdetak kemudian berhenti. tubuhnya bersimbah darah, saya tidak kuasa melihat hal tersebut, saya berteriak sangat keras sekali, ingatan saya kemudian tertuju kepada kakak laki-laki saya yang meninggal karna kecelakaan juga, ia meninggal 2 tahun yang lalu saat umurnya 20 tahun. Saya tidak akan menceritakan kejadian itu disini, terlalu mengerikan untuk saya ingat kembali, kakak laki-laki saya meninggal di depan mata saya sendiri saat dalam ambulan dalam perjalanan rumah sakit, kondisinya terlalu menggenas untuk saya ceritakan dan ingat kembali, maaf saya masih trauma mengingatnya.

tidak tahu kenapa saya langsung berlari menghampiri jasad yang hancur itu, saya menangis sejadinya, tangan saya menyentuh dan mengumpulkan tubuhnya laki-laki itu. air mata mengucur deras di pipi saya. “entahlah, saya tidak mengenalnya sama sekali tetapi perasaan saya sangat sakit melihat kejadian itu dan kenapa saya harus menyaksikan hal ini lagi, kenapa harus didepan saya mereka meregang nyawa, kenapa saya harus melihatnya lagi?” . kepala saya seperti dipukul dengan keras pandangan saya seperti berputar hingga saya tidak sadarkan diri.

Malamnya saat saya sadar saya sudah berada di rumah, baju sekolah yang berlumur darah ternyata sudah diganti oleh kakak saya. tetapi saat saya sadar saya hanya menangis sambil berteriak ketakutan, saat itu saya benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saya. saya terus dibayangi oleh kejadian siang itu. setiap malam saya seperti mendengar suara mintak tolong, suara rintihan kesakitan. pikiran saya selalu dipenuhi dengan hal-hal mengerikan. tetesan darah yang semakin lama semakin deras dan suara-suara itu seakan terus memanggil saya, suara teriakan yang semakin lama semakin sayup terdengar, tetapi itu artinya dia semakin dekat dan bahkan sangat dekat. saya berteriak ketakutan, saya menangis tetapi entah apa yang dipikiran saya karna saya bisa tertawa kemudian menangis. hal itu berlangsung selama 2 minggu setelah kejadian itu. setiap malam saya dihantui rasa ketakutan hingga membuat saya menjadi aneh, saya tidak mau makan, tidak mau keluar kamar dan tidak mau bicara dengan siapapun. saya menjadi pendiam dan kelakuan saya selama 2 minggu itu diluar kendali saya. dan selama 2 minggu itu juga saya tidak masuk sekolah.

Malam itu.. saya mengambil buku tua yg saya temukan itu, saya membuka lembarannya secara acak, tetapi ada sesuatu yang saya temukan. “jarum kecil itu akan memasuki ulu hatimu, maka berhati-hatilah” kalimat yang singkat tetapi menyimpan makna yang begitu besar.kemudian saya melihat jemari kiri saya, ternyata tangan saya masih tidak kuat untuk menopang diri saya sendiri, untuk menutup mata saat ada sesuatu yang tidak ingin saya lihat namun tidak mampu menutup telinga saat ada yang tidak ingin saya dengar. dan setelah itu ketenangan mulai saya rasakan dalam diri saya. saya mulai mampu mengendalikan hati dan pikiran saya.

Paginya saya bangun dan bersiap untuk pergi ke sekolah, tidak ada sepatah katapun yang saya ucapkan, tetapi ibu saya menanyakan apakah saya sudah siap untuk ke sekolah, apa keadaan saya sudah baik-baik saja tetapi saya hanya diam dan pergi tanpa pamit.

Sesampainya di sekolah semua teman-teman saya memandang aneh kepada saya, mereka menatap saya dengan lekat, tetapi saya hanya diam saja, tidak ada sepatah katapun yang saya ucapkan pada hari itu, tidak seperti sebelumnya mereka juga berubah kepada saya, biasanya teman-teman saya mengajak saya untuk pergi makan di kantin sekolah. tetapi hari itu tidak, mereka hanya diam dan tidak mengajak saya bicara. sempat terbesit di kepala saya kenapa mereka seperti itu, tetapi saat itu saya tidak memprioritaskan pikiran saya untuk hal itu.

Saat pulang sekolah, seorang senior saya menyapa saya di parkiran. “kamu resi kan? saya hanya mengangguk “oh ya, kenalin nama saya Riko” dia mengulurkan tangan, tetapi saya diam saja dan terus bersiap untuk pulang. karna saya tidak meresponnya “Maaf ya kalau kamu terganggu, saya maksudnya cuman mau kenalan aja” kemudian saya hanya tersenyum sedikit lalu pergi. dan di ujung parkiran sekolah itu saya melihat teman-teman perempuan di kelas saya sedang nongkrong dan sepertinya ada yang mereka bicarakan, tetapi saya tidak terlalu mempedulikannya.

Sesampainya dirumah, ibu saya menyuruh saya makan tetpi saya diam saja, melihat kondisi saya yang diam seperti itu ibu saya menangis, dulunya saya adalah orang yang ceria, tetapi melihat perubahan sikap saya menjadi pendiam dan suka menyendiri membuat keluarga saya khwatir dan memang saya merasa aneh dengan diri saya, tapi memang seperti itu yang saya rasakan, tidak dapat diceritakan kepada siapapun dan tidak ada yang akan bisa mengerti. saya juga tidak tau seberapa banyak air mata yang keluar setelah ayah saya meninggal, seberapa banyak kejadian di luar logika yang saya alami, saya juga lelah dengan hidup saya, mungkin lebih baik saya tidak di dunia lagi. hal itulah yang terlintas di pikiran saya saat itu.

Perasaan saya benar-benar kacau, saya merasa hidup saya hanya membebani ibu dan keluarga saya, saya tidak mau lagi melihat ibu saya menangis saat saya sadar setelah saya pingsan dan ternyata saat saya tidak sadarkan diri, tubuh saya kejang-kejang dan beberapa kali mengalami kerasukan, saya benci dengan kesendirian itu, saya benci dengan diri saya sendiri.

Seperti sebelumnya saya pergi ke sekolah tapi tanpa bicara sepatah katapun dengan keluarga saya, dan seperti kemaren dia ada lagi di parkiran, kemudian dia menghampiri saya “res kemaren kamu kesal sama saya ya?” kemudian saya menatap kearah nya, lalu saya menggeleng. “tapi kok kamu ngak mau bicara sama saya dari kemaren?” lalu saya menarik nafas “ jarang aja ngomong sama orang yang baru kenal”, lalu dia tersenyum, dan jujur senyumnya manis “ternyata kamu lucu juga ya orangnya”, “resi masuk kelas dulu”, “iya… belajar yang rajin ya” lalu saya hanya tersenyum dan pergi ke kelas. sesampainya dikelas sosok anjani menunggu saya, lalu dalam hati saya meminta agar dia tidak menggangu saya sekarang, tetapi ia bilang “saya akan menunggumu di tempat biasa” dan saya mengiyakannya. kemudian salah satu teman di kelas saya yang memang dari awal masuk saya tidak terlalu dekat dengannya, ia menghampiri saya dan bertanya kenapa saya bertemu dengan Riko. Lanjut di Part 12..

Index Cerita

Kamu baru saja membaca tentang Sekarang Kamu Tahu Part 11 : Sebuah Kisah Nyata dari Mantan Indigo

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more