Sekarang Kamu Tahu Part 4 : Sebuah Kisah Nyata dari Mantan Indigo



Perkiraan waktu membaca Menit

Edit
Sekarang Kamu Tahu Part 4 : Apa Maksud Semua ini?
“Bukalah matamu, jangan engkau tutupi, lihatlah apa yang ada di depanmu, jiwamu memang dipenuhi dengan amarah, tapi amarahmu akan membuat gejolak api yang semakin besar dalam dirimu. api yang kau ciptakan sendiri yang akhirnya akan membakar jiwamu sendiri, diamlah sejenak dan lepaskan kemarahanmu, lalu pejamkan matamu kemudian telusurilah hatimu sampai ke sisi jiwamu yang paling kelam bahkan sangat kelam, yang dirimu sendiri tak mampu apa yang ada di sisi jiwamu yang kelam, jangan biarkan mereka menguasainya. kekuatan itu sudah tertanam di jiwamu, berdamailah dengannya dan tenangkan jiwamu, carilah ujung dari jalan kelam itu, ingatlah api amarah tidak akan menerangimu menuju jalan yang sebenarnya, dan berhati-hatilah dengan penglihatan dan pendengaranmu, karna apa yang kau lihat dan yang kau dengar dapat menipu dirimu sendiri.”

Saya tidak mengenalnya, tapi kata-kata itu hingga sekarang masih sangat membekas di ingatan saya, dia tidak memperlihatkan wajahnya, tetapi dia itu sosok seorang laki-laki tua yang memakai baju putih, ia datang tiba-tiba di samping saya, lalu ia pergi setelah mengatakan hal itu. kalimat itu terus terngiang di kepala saya, tapi saya tidak mengerti apa yag dia maksud. Malam itu terasa sangat panjang, karna sampai jam 5 pagi saya belum bisa tidur karna kata-kata dari sosok laki-laki tua itu, kemudian saya mulai berbaring untuk tidur.

Hampir seharian saya tidur pada hari itu, saat saya bangun ternyata sudah jam 4 sore, paha saya terasa sakit dan perih, saat saya lihat ternyata lukanya infeksi, tetapi agar orang di rumah tidak tau saya memakai celana panjang dan berpura-pura tidak ada apa-apa. saat saya keluar kamar ternyata orang-orang masih rame di rumah untuk persiapan pengajian nanti malam, karna memang tradisi di kampung saya saat ada oang meninggal maka keluarga dan tetangga akan berkumpul di rumah tersebut membantu untuk acara pengajian . “kamu dari tadi malam belum makan, skarang makan lagi ya” sepupu saya membawakan makanan ke arah saya “iya nanti aja, saya mau mandi dulu”, “cuci muka aja ngak usah mandi” karna malas banyak bicara saya ikuti aja kata-katanya. setelah makan saya kembali ke kamar, tak lama setelah itu kakak laki-laki saya datang ke kamar “kamu baik-baik aja kan? tiba-tiba ia menanyakan itu “iya”, “kamu jangan banyak melamun, jangan menyendiri” saya menjawabnya hanya dengan anggukan saja, setelah itu ibu saya juga datang ke kamar “resi udah makan? lalu saya menjawabnya juga dengan anggukan, “jangan dikamar aja ayo keluar biar ngak melamun” lalu saya berjalan keluar kamar, ibu dan kakak saya terus memperhatikan saya, dan yang membuat saya bingung kenapa mereka bialang saya jangan melamun, dalam hati saya merasa kalau ada sesuatu yang aneh.

Malamnya saat pengajian, tetangga dan sanak saudara saya datang ke rumah, dan saya duduk di dekat sepupu, namanya Tuti, kami memang sudah bermain dari kecil, karna rumah kami berdekatan, tetapi dia tidak mengajak saya bicara satu kata pun, tidak seperti biasanya dia seperti itu, sedangkan sepupu dan tetangga saya selalu bertanya “resi udah mendingan?, “jangan banyak melamun ya” dan masih banyak pertanyaan seputar itu. karna di dalam rumah semakin rame akhirnya saya keluar untuk pergi ke halaman depan rumah, ternyata di sana juga rame, bahkan sangat rame sekali, tapi kenapa saya tidak mengenal mereka ya, apa mungkin mereka dari desa sebelah, tapi kenapa pakaian mereka aneh, cukup lama saya tertegun memperhatikan mereka, hinga salah satu dari mereka menabrak saya, lalu mereka semua menatap saya, dan ternyata mereka tidak mempunyai mata dan wajahnya mengerikan, jumlah nya sangat banyak, puluhan dan bahkan ratusan, nafas saya mulai sesak, dada saya sakit, kaki saya mulai dingin dan kepala saya seperti dipukul dengan keras, hingga saya tidak tau lagi apa yang terjadi.

Besok paginya jam setengah 6 saya kembali bangun, dengan badan yang lebam dan bebrapa luka di tangan, saat saya bangun ternyata sudah berada di dalam rumah, dan di keliling saya ada sepupu dan ibu saya yang tidur. setelah itu ibu dan sepupu saya yang lain juga ikut bangun, dan mereka menghujani saya dengan seribu pertanyaan  yang kalau dituliskan disini bakalan banyak banget, tetapi tidak ada pertanyaan dari mereka yang saya jawab “saya mau mandi dulu, mau siap-siap ke sekolah”.

Saat saya berdiri paha saya terasa sangat sakit sekali, tetapi tetap saya paksakan untuk berjalan seperti biasanya, ternyata infeksi nya bertambah parah, dan lukanya ternyata lumayan dalam. tetapi saya tetap memaksakan diri untuk pergi ke sekolah hari itu, dan ternyata banyak hal mengerikan yang saya temui di sekolah pada hari itu...

Lanjut Next Part capekk ngetiknya
Index Cerita

Kamu baru saja membaca tentang Sekarang Kamu Tahu Part 4 : Sebuah Kisah Nyata dari Mantan Indigo

Baca Juga Cerita Lainnya

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn more