Psycho At School


Psycho At School
Penulis : Fajli Rotama

Aku adalah anak yang pendiam dan cukup pintar. Namaku adalah Will aku punya sahabat bernama Wallace, kami bersahabat dari kecil, dia slalu menyemangatiku saat aku dibully atau dalam keadaan badmood. Aku memang pendiam dan kurang bergaul, karna itu aku selalu di bully oleh teman sekelasku. Aku cuma punya satu tujuan hidup yaitu membuat orang disekitarku tidak meremehkanku lagi. Berbeda dengan Wallace dia sahabatku yang sangat aktif dan suka bersenang senang katanya dia punya tujuan hidup hanya untuk bersenang-senang.

Suatu hari aku melihat seorang pembunuh membunuh anak yang sering membully di skolah ku tapi aku cuma terdiam, tapi aku ingat bahkan sangat ingat ketika pisau menusuk bagian perut lalu mulut anak yang bernama Roky itu dirobek. Wajahnya sangat ketakutan, aku masih teringat wajahnya yang begitu terkejut mata membelalak yang sangat mengerikan.

Beberapa hari kemudian sekolah digemparkan berita bawah ada pembunuh yang sedang berkeliaran. Oh ya aku lupa bahwa sekolahku punya asrama bagi para siswanya, jadi kami tinggal di asrama dan tak boleh keluar ketika malam, sepertinya Roky melanggar itu karna pembunuhan itu terjadi malam hari. Aku tak pernah menceritakan kepada siapa pun apa yang aku lihat. Aku bahkan takut dan bertanya pada Wallace

"Wallace bagaimana pendapatmu tentang berita ini?" tanyaku.

"Oh, sudahlah Will tak apa itu cuma berita kau tau dan Roky kemungkinan cuma iseng lalu kabur dari asrama," katanya santai.

"Bagaimana jika pembunuh itu datang dan membunuhku? Bagaimana jika dia datang dan membunuhku?" sebenarnya aku tak terlalu takut tapi aku cuma memastikan pikiranku benar kalau pembunuh itu tak menginginkan kematian anak sepertiku.

"Ah tak apa? Tak akan ada yang membunuhmu, sekarang lebih baik kamu tidur dan biarkan aku tenang," balas wallace.

"Ok baiklah," aku lalu tidur dan menepis semua yang aku pikirkan.
Paginya aku terkejut ketika aku berada diluar asrama. Aku mungkin tidur berjalan, tapi apa yang aku lihat adalah darah yang berceceran yang mengarah ke hutan. Tapi tak ada darah pada baju dan celanaku cuma ada pisau pada tanganku. Aku melemparkan pisau itu ketanah dan lari masuk asrama.

"Wallace, kamu dimana?" aku bertanya dan mencari sahabatku, semakin aku memanggilnya dia tetap tak ada.

Beberapa minggu kemudian, seorang siswa yang cukup bandel yang satu geng dengan Roky menghilang. Sekolah kembali panik dan tak tenang dengan rumor ini apalagi darah ditemukan di hutan belakang asrama. Aku cukup risau bukan karena aku takut bahwa pembunuh itu akan membunuhku tapi karna takut akulah pembunuh itu.

Aku kembali ke asrama sepulang sekolah dan istirahat ketika bangun dan mencuci muka aku bertemu Wallace.

"Sudah dua orang kita bunuh," katanya

"Ah, kenapa kamu mengendalikan tubuhku untuk membunuh?" aku marah padanya.

"Ah tak apa aku cuma membantumu dan jangan banyak protes malam ini aku akan memakai tubuhmu lagi untuk membunuh semua yang menganggumu, hehehe.." dia tertawa dan menghilang di dalam cermin yang kutatap.
Ya, Wallace adalah jiwaku yang lain.

0 Response to "Psycho At School"

Post a Comment